Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 22 Bekerja lagi


__ADS_3

"Oma, Seina berangkat ke kantor dulu ya." pamit Seina kepada oma.


"Iya, hati- hati ya." ucap oma kepada Seina.


"Iya oma." balas Seina dengan ceria.


"Apa kamu tidak sarapan dulu? " cegah oma, saat melihat Seina terburu-buru untuk pergi.


"Tidak oma, Seina harus berangkat sekarang. Nanti Seina bisa sarapan di kantor." ucap Seina dengan pelan.


"Baiklah." oma menjawab singkat sambil tersenyum.


Seina lalu pergi. Dan ia menaiki taksi seperti biasa.


"Pak ke perusahaan ARFU ya." pinta Seina kepada pak sopir.


"Iya mbak. " jawab pak sopir.


Beberapa menit kemudian Seina sampai di kantor.


Edo yang melihat Seina terlihat menyapa. "Hai Seina." sapa Edo.


"Hai do." Seina membalasnya, lalu tersenyum.


Arfan yang tidak sengaja melihat mereka berdua, langsung meluruskan kepalanya.


Syukurlah, jika dia memiliki teman akrab.


"Seina, kemana saja kamu, hampir dua minggu tidak terlihat." tanya karyawan lainnya kepada Seina.


"Saya harus ijin, karena ada urusan dengan keluarga saya." balas Seina.


Semua karyawan saling membicarakan Seina.


"Dia itu simpanan bos, jadi dia bisa seenaknya masuk kerja." kata seorang karyawan kepada tekan yang lain.


Seina yang mendengar tidak mengambil hati, ia fokus melanjutkan tugas dari pak Riko.


***


Di rumah dirgantara


"Oma, Arkan ingin membicarakan sesuatu." ujar Arkan kepada omanya.


"Iya, ada apa Arkan?" oma membalasnya dengan perasaan sedih.


"Arkan berencana untuk mendaftarkan pengajuan perceraian Arkan dan Teri besok." ucap Arkan.

__ADS_1


"Oma tidak habis pikir, kenapa kamu mau bercerai dengan Teri?, apa masalah tidak bisa dibicarakan dengan kepala dingin?" pinta oma.


"Tidak bisa oma, tekatku sudah bulat. Arkan akan berpisah dengan Teri." ucap Arkan dengan kalimat yang tidak bisa diubah.


"Oma hanya berharap, supaya kalian bisa selalu bersama. Oma tidak akan pernah menyetujui perpisahan kalian, titik." oma berbicara dengan ekspresi marah.


Arkan yang mendengar penolakan oma, langsung pergi tanpa ada perkataan apapun untuk omanya.


***


Di dalam kamar


Teri dari kemarin masih mengurung diri. Arkan sudah tidak tidur bersamanya. Arkan memilih untuk tidur di kamar tamu.


"Mama mama buka, Alea ingin bermain." teriak Alea dari luar kamar.


"Alea sayang, untuk sementara kamu main sama mbak Ningsih dulu ya. Nanti mama akan menyusul." balas Teri kepada putrinya, setelah ia berhasil membuka pintu.


Alea memasang ekspresi sedih, karena mamanya.


Teri yang melihat Alea sedih, segera memeluknya dan mengelus rambutnya.


Alea sayang sebentar lagi mama dan papa akan segera berpisah. Semoga kamu mengerti, dan semoga kamu tetap menjadi putriku yang selalu ceria seperti dulu. Mama akan memperjuangkanmu. Mama akan berusaha, agar gak asuh kamu jatuh kepada mama. Mama sangat menyayangimu nak.


Teri masih mengelus rambut putrinya, disertai dengan mata yang kosong.


"Halo, iya ada apa kak?" tanya Teri di telepon.


"Oh begitu, sepertinya aku dan Arkan tidak bisa. Kami sangat sibuk hari ini. Ya sudah begini, bagaimana kalau kuganti Arfan dan Seina saja yang datang bersama Alea, untuk menggantikan aku dan Arkan. " balas Teri dengan perkataan yang mengejutkan.


"Oke, dah." Teri kemudian menutup telepon.


***


Di kantor


Arfan hari terlihat sibuk dengan pekerjaannya, ia bahkan sampai melupakan makan siangnya.


Seina yang tahu dari pak Riko, bahwa Arfan belum makan siang membawakan sebungkus makanan. Ia membeli siomay dan air mineral untuk Arfan.


Tok.. tok.. tok


"Masuk! " terdengar Arfan memerintah.


Seina yang diperintahkan segera masuk. Ia sebenarnya masih merasa malu, jika harus menemui Arfan. Ia masih belum bisa melupakan kejadian kemarin malam. Tapi ia tidak mungkin tega membiarkan Arfan jika sampai sakit, karena telat makan.


Seina yang berhasil masuk, segera menyodorkan makanan tersebut, kepada Arfan. "Ini pak, makanan untuk pak Arfan." ucap Seina.

__ADS_1


"Kenapa kamu repot-repot harus membawakan makanan untuk saya. Saya ini belum makan siang, karena masih menunggu pesanan saya yang belum datang." balas Arfan.


"Tapi, jika nanti makanan datang terlambat, makan siang juga akan keburu lewat pak. Nanti bisa-bisa asam lambung pak Arfan kambuh." ucap Seina dengan perhatian.


Kenapa dia seperti ini?, kemarin dia menggodaku, sekarang dia perhatian padaku. Tidak, Arfan kamu harus tetap tegak. Jangan terpengaruh olehnya. Seina ini punya rencana buruk untukku. Aku harus selalu mengingatnya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar. Seorang OB sedang mengantarkan pesanan makanan pak Arfan.


"Terimakasih." ucap pak Arfan kepada OB itu.


"Iya pak."jawab OB itu dengan singkat.


Seina yang mengetahui Arfan sudah memiliki makanan sendiri, lalu pamit, berniat untuk pergi.


" Seina, karena sudah terlanjur disini, lebih baik kita makan bersama." ucap Arfan dengan yakin.


"Tidak pak, saya makan di luar saja. Tadi saya sudah janji kepada Edo, untuk pergi ke kantin bersama." bual Seina, padahal yang sebenarnya tidak.


"Baik, saya akan meneleponnya, supaya tidak perlu menunggumu." balas Arfan.


"Tidak.. tidak.. tidak pak, tidak perlu. Iya saya akan makan di sini." ucap Seina yang sedikit panik.


Kemudian mereka makan siang bersama. Mereka saling berbagi makanan. Seina memberi beberapa siomaynya, dan Arfan memaksa Seina untuk ikut memakan makanan sehatnya.


Benar-benar gambar. Saya tidak suka dengan makanan seperti ini. Tidak ada daging atau lainnya yang menarik. Hanya ada sayuran, serta makanan ini dipenuhi dengan buah-buahan. Saya kan bukan vegetarian. Apa pak Arfan ini kambing, harus selalu makan seperti ini.


Seina menggerutu dalam hati, karena pikirannya sendiri. Ia tidak menyukai makanan pak Arfan. Arfan memang pilih-pilih dalam hal makanan. Ia pernah makan Siomay, karena terlanjur lapar. Dan saat ini tadi, kenapa dia ikut makan siomay juga ya?, apa memang pak Arfan menyukai siomay seperti Seina?


"Selesaikan makanmu, saya mau ke kamar mandi." ujar Arfan kepada Seina.


"Iya pak." balas Seina.


Apa ini adalah kesempatan saya ya, (Seina selalu mengubah kata Aku dan saya).


Arfan meninggalkan ponselnya di atas meja. Seina yang mengetahuinya, segera mengambil kesempatan untuk mencari informasi di dalam ponsel tersebut. Ia kemudian mengambilnya. Sesuatu yang ada pikirannya adalah menuju kontak. Setelah berhasil memasuki kontak, Seina mencari nama seseorang. Dengan wajah yang ketakutan, Seina segera mengirim kontak seseorang ke ponsel miliknya, lalu menghapus langsung pesan itu dengan cepat.


Tuhan, terimakasih, karena telah memberi saya jalan. Dengan kontak pak Rey, saya bisa mendapatkan informasi tentang perusahaan ini. Dan saya bisa melakukan kerja sama dengan pak Rey untuk menjatuhkan perusahaan ini.


Arfan sedari tadi mengintip apa yang dilakukan Seina. Dia tidak langsung memergokinya, melainkan hanya menyaksikannya.


Arfan kemudian keluar dari kamar mandi, dengan ekspresi santai. Ia tidak menunjukkan kecurigaan apapun terhadap Seina. Meskipun ia tahu semuanya.


"Pak saya mau ijin keluar, karena saya sudah selesai makan." Sdina pamit kepada bosnya itu.


"Iya." Arfan hanya menjawabnya seperti itu.


Kenapa ambisinya sangat besar. Ia tidak mencari yang sebenarnya, ia tidak tahu siapa yang menyebabkan ayahnya meninggal. Aku bisa memaklumi perasaannya. Biarlah, dia berbuat sesuka yang ia mau. Yang terpenting aku harus selalu mengawasi dan bisa menanganinya.

__ADS_1


__ADS_2