
"Hari ini pemandangan sangat indah," Kayla berkata dengan suara kecil.
Riko yang berada di sampingnya lalu membalas, "Iya memang benar indah."
Pagi ini mereka berdua berangkat bersama. Kayla sebenarnya merasa sungkan, tapi di sisi lain dia juga senang karena bisa menghemat uang taksi, baginya lumayan untuk membeli makanan.
Canggung sekali bestie,
"Eee pak, boleh saya bertanya?"
"Iya silakan,"
"Kenapa saya melihat pak Riko lebih banyak menghabiskan waktu sendiri, maksudnya apa pak Riko tidak memiliki keluarga?"
"Iya memang aku suka sendiri, keluargaku sudah tiada, dari kecil aku dirawat oleh keluarga dirgantara, tak hanya itu setelah aku menyelesaikan kuliahku, aku diberikan pekerjaan yang menjanjikan sampai sekarang ini."
"Ooo, jadi keluarga dirgantara yang berjasa di kehidupan pak Riko,"
"Benar sekali,"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Tidak, aku hanya penasaran saja,"
Pembicaraan mereka berdua lalu berhenti sampai situ, Riko kembali fokus mengemudi mobil.
***
"Arkan bisakah kamu membantuku?"
Arkan yang sudah sejak dari tadi duduk di sofa kemudian membalas, " Iya apa yang bisa ku bantu?"
"Bisakah kamu menggantikan ku sebagai CEO di perusahaan ARFU?"
"Kenapa tiba-tiba berkata tentang hal itu?"
"Aku merasa sudah cukup, sekarang giliran mu?"
"Aku kan sudah memiliki pekerjaan sendiri kak, lagipula jika aku benar menggantikan mu, lalu kak Arfan akan bekerja di mana?"
"Aku akan mencoba mendirikan perusahaan ku sendiri,"
"Aku tidak mau meninggalkan pekerjaanku kak, lagi pula aku tidak yakin bisa memegang perusahaan ARFU,"
"Baiklah jika memang kamu tidak menginginkan aku maklumi, tapi aku mohon jika kat butuh sesuatu tentang hal keuangan katakan padaku, hasil dari perusahaan juga ada milikmu,"
"Iya kak,"
"Sarapan telah siap," Suara Seina menghentikan seketika pembicaraan itu.
__ADS_1
Arfan dan Arkan lalu pergi menuju ruang makan.
"Wah masak apa ini harum sekali baunya?" Tanya Arfan yang merasa tergoda dengan bau makanan di depannya.
"Itu ada tumis, ayam goreng, ada mi goreng, dan ada udang krispi."
"Hmmm," Arfan menikmati aroma di hidungnya.
"Reyna lapar,"
"Alea juga,"
"Iya sayang, sebentar aku siapkan khusus untuk kalian berdua,"
Dua bocah ini merasa tidak sabar mencoba makanan yang dibuat oleh Seina.
"Ter mana dessert nya?"
"Oh iya aku lupa, sebentar," Teri kembali menuju dapur.
Pagi ini adalah pagi yang penuh kebersamaan, Teri dan Seina dengan penuh semangat melakukan kolaborasi di dapur. Seina kali ini yang memasak menu sarapan, sedangkan Teri yang membuat dessert nya.
***
"Res apa kamu sudah menyusun rencana mu?"
"Tentu," Ucap Resa dengan penuh keyakinan.
"Hmhhh,"
Setelah kegagalan pernikahan Resa dan Arfan, mulai dari itu Resa menyimpan dendam, karena merasa dipermainkan oleh keadaan, ia tidak Terima karena belum mendapatkan sepeserpun dari harta Arfan. Sementara pria di dekatnya itu menyimpan dendam karena dengan alasan yang sama, ia merasa dipermainkan oleh Seina yang pernah satu kubu dengannya ternyata memilih jalan lain. Siapa pria itu?, iya benar pria itu tak lain adalah Rey. Sudah sejak lama Rey memakai topeng di depan Arfan, tapi suatu momen Seina datang dengan meyakinkannya bahwa ia akan menghancurkan perusahaan ARFU, tapi kenyataannya Seina berpindah haluan dengan berbaikan dengan Arfan. Sebenarnya tak hanya itu Rey menyimpan dendam yang lebih karena perusahaan keluarganya pernah dibuat bangkrut karena ada kesalahpahaman dengan perusahaan ARFU, dengan hancurnya perusahaan papa Rey mengalami kesulitan hingga jatuh sakit dan meninggal setelah beberapa bulan bertahan di rumah sakit.
Sebenarnya perusahaan milik keluarga Rey itu terlalu ceroboh sehingga mengalami kebangkrutan. Cerita yang sebenarnya perusahaan ARFU, dan juga perusahaan lainnya termasuk perusahaan Adi Jaya milik keluarga Rey memperebutkan sebuah beberapa produksi di beberapa daerah. Waktu itu perusahaan Adi Jaya mendapatkan lokasi di perkotaan, sedangkan perusahaan ARU memilih di wilayah pedesaan. Karena pilihan itu ada pada perusahaan ARFU, maka perusahaan Adi Jaya hanya mengikuti. Kebetulan saham terbesar ada pada perusahaan ARFU saat itu. Setelah berjalannya produksi tiba-tiba ada tragedi kebakaran di produksi kota. Dengan hal itu maka terjadi kerugian besar bagi perusahaan Adi Jaya. Sebenarnya pemilihan produksi ini yang menentukan adalah pimpinan CEO sendiri, bukan menurut penanam saham terbesar. Perusahaan Adi Jaya sempat salah paham, mereka berpikir bahwa ini semua karena permintaan perusahaan ARFU agar produksi dari perusahaan Adi Jaya ditempatkan di lokasi perkotaan. Sebenarnya yang mengalami kerugian tidak hanya perusahaan Adi Jaya, tapi juga semua perusahaan yang terlibat, hanya saja tiap bagian produksi akan dikenakan biaya produksi penuh oleh perusahaan yang menaungi. Misalnya perusahaan ARFU dan perusahaan lain 5% sisanya perusahaan Adi Jaya beserta kelengkapan yang lainnya.
"Aku akan melukai salah satu dari anggota keluarga mereka,"
"Apa keuntungannya, lebih baik mengincar hartanya,"
"Itu tujuanmu, tujuanku berbeda, jika aku tidak bisa menggulingkan hartanya, aku bisa menyakiti salah satu anggota keluarganya." Ucap Rey dengan penuh amarah.
"Sayang ayolah lakukan, apa rencana yang bagus,"
"Bukankah kamu sudah menyusun rencana mu?"
"Iya tapi aku tidak yakin,"
"Tenang saja katakan apa rebcananu, nanti aku akan mengoreksi,"
Dua insan ini saling berdiskusi untuk melancarkan aksi jahatnya.
__ADS_1
***
"Dadah,"
"Dadah papa," Ucap si kecil Reyna.
Seina dan Reyna menyaksikan kepergian Arfan. Mereka menatap dengan penuh senyuman.
"Nak ayo kita masuk!"
"Mau main," Merengek ingin bermain.
"Ya sudah mama temani di taman ya," Mengikuti kemauan putrinya.
Reyna bermain dengan riang gembira, Seina yang mengawasinya hanya tersenyum bahagia.
Putriku sekarang sudah mulai tumbuh. Oh Tuhan ku berikan kesehatan dan kebahagiaan untuk keluarga kami.
"Seina," Seseorang dari jauh memanggil.
"Iya, ada apa Ter?"
"Ayo bersiap, kita berangkat ke pasar membeli bahan sayuran, di kulkas sayuran sudah mulai menipis."
"Oke aku akan segera bersiap." Mengikuti perkataan Teri.
***
"Ter kamu yakin menyetir?"
"Hmmm iya Sein tenang saja,"
"Tapi kenapa aku sedikit ragu ya,"
"Hilangkan keraguanmu, ayo kita berangkat," Mengajak Seina untuk segera masuk ke mobil.
Memang Teri memiliki surat ijin mengemudi, tapi baru-baru ini, Teri juga baru saja belajar mengemudi mobil. Itulah yang di khawatirkan Seina.
Mobil sekarang sudah melaju, Seina hanya diam dan berdoa saja. Sedangkan Teri berbicara tanpa henti.
"Jangan tegang Sein, ayo kita bersenang-senang," Ucap Teri dengan santai.
"Tidak Ter, aku tidak tenang sebelum kita sampai,"
Beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di pasar.
"Alhamdulillah akhirnya aku bisa bernafas kembali,"
"Lebay sekali kamu," Mengucapkan dengan santai.
__ADS_1
"Terserah apa katamu," Seina kemudian keluar dari mobilmobil, sedangkan Teri hanya tertawa ngakak karena mengetahui tingkah Seina yang begitu takut dan cemas karena dirinya.