Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 17 Talak 1 untuk Teri


__ADS_3

Pagi yang cerah menyapa para penghuni villa itu, suasana sejuk, pemandangan indah, dan langit biru membuat hati semakin damai.


"Hari ini kita akan pulang, mulai bersiaplah!" berkata pelan.


"Iya pak." Seina membalas.


Dari arah depan, ada sosok pria yang mengenakan baju pelayan menuju ke arah Seina dan Arfan.


crangggg....


Tiba-tiba suara gelas jatuh terdengar semua orang. Gelas itu berisi minuman. Tak sengaja pelayan itu menjatuhkan minuman di dekat Seina.


"Maaf nyonya, saya tadi tidak sengaja." ucap pelayan itu dengan nada ketakutan.


Seina yang merasakan sesuatu di bajunya sempat terkejut, tapi setelah ia mendengar permintaan maaf dari pelayan tersebut, Seina menerimanya tanpa ada rasa marah.


"Iya Pak, tidak apa-apa, lain kali lebih berhati-hati ya." balas Seina dengan lembut.


Sementara Arfan yang menyaksikan kejadian itu segera mengambil tisu dan memberikannya kepada Seina.


"Terimakasih pak." kata Seina, setelah mendapat tisu dari Arfan.


Arfan hanya mengangguk, setelah mendengar ucapan terimakasih dari Seina.


***


Di keluarga dirgantara, berkumpulah semua orang yang hendak sarapan, kecuali sejoli yang belum nampak.


Semua menikmati hidangan yang lezat pagi itu, makanan beserta minuman dan dessert telah tersedia. Semua makan dengan lahap.


Sedangkan di sebuah kamar, sejoli ini sedang bertengkar. Mereka tidak sarapan, melainkan memberi sajian suara yang saling beradu.


"Mau kamu apa?, aku sudah sekali memperingatkan kamu untuk pulang tepat waktu, dan apa yang kudapat setelah menasihatimu. Kamu tetap saja."teriak Arkan dengan nada meninggi.


Kemudian dibalas oleh Teri yang sudah terpancing emosi. " Aku sudah memberikan kabar apa itu tidak cukup?, dan aku juga sudah disetujui oma, aku juga sudah menjalankan tugasku sebelum berangkat kerja aku menyelesaikan semua dan merawat Alea. Kalau kamu apa?, kamu hanya bekerja pagi pulang sore, malam istirahat. Kamu itu jarang menghabiskan waktu bersama anakmu sendiri, apalagi untuk istrimu.


"Aku tidak mau mendengar pembenaran apapun darimu, apa kamu bilang aku tidak pernah menghabiskan waktu bersama anak dan istriku?, lalu apa yang di taman pekan lalu bersama Alea dan kamu, kemudian kita ke pantai juga. Apa kamu sudah lupa? ha..." Arkan berkata dengan nada yang marah.


"Iya, aku akui pekan lalu kita memang menghabiskan waktu bersama, tapi untuk seminggu ini kamu selalu sibuk dan tidak memperhatikan kita." balas Teri.


"Memang pria selalu salah ya, aku itu sibuk bekerja untuk kalian dan untuk malam kugunakan untuk istirahat bagi tubuhku. Apa itu salah?, dan kamu sendiri kenapa kamu lebih menghabiskan waktu kerjamu daripada bersama Alea?" ucap Arkan.

__ADS_1


Teri yang mendengar, kembali membela dirinya. "Aku masih ada waktu kok bersama Alea dari pagi hingga pukul 11 siang. Dan saat malam aku masih menyempatkan bersamanya."


"Oke, itu memang sudah kewajibanmu menjadi seorang ibu." penggal Arkan.


"Iya benar, kemudian apa kewajiban kamu sebagai ayah? "Teri bertanya dengan membalikkan fakta.


" Ah sudahlah aku sudah tidak bisa melanjutkan permainan kalimatmu yang bodoh ini. Aku sudah muak dengan semua ini. Aku merasa beberapa hari ini sudah tidak ada ikatan yang seperti dulu lagi denganmu. Aku memutuskan ingin bercerai denganmu. Aku talak kamu."berucap dengan yakin seolah apa yang dikatakan benar dari hatinya bukan dari egonya.


Teri yang mendengar hal itu terlihat sangat syok, ia tidak menyangka jika Arkan mengatakan hal tentang perceraian. Ia berpikir ini hanya sebuah pertengkaran yang masih bisa diperbaiki. Tapi ternyata suaminya sudah memutuskan lebih dulu.


"Baik, aku Terima. Tapi jangan harap kamu bisa menemui Alea lagi." Teri bersikap kuat, tapi terlihat sedikit air di ujung matanya.


"Tidak semudah itu, aku akan melakukan segala cara agar bisa bersama dengan anakku." ucap Arkan dengan lantang.


Arkan lalu meninggalkan Teri dari kamar. Ia merasakan emosi yang besar pagi ini. Di saat ada banyak orang berkumpul untuk sarapan, Arkan tak menghiraukan siapapun.


"Papa." Alea memanggil papanya tapi tidak ada sautan.


"Arkan sarapan dulu." pinta oma yang melihat Arkan sudah berada di ambang pintu.


Semua orang merasa heran dengan tingkah laku Arkan saat ini. Terutama oma yang memikirkan cucu termudanya itu. Ada apa sebenarnya dengan Arkan?, kenapa wajahnya terlihat begitu marah. pikir oma di dalam hati.


"Oma, papa kenapa tidak menjawab Alea?"si kecil ini sedang mempertanyakan apa yang terjadi.


"Uhmmm....."menunjukkan wajah cemberut yang lucu.


***


Saat ini matahari sudah memancarkan sinarnya. Dan terasa panas seperti di atas kepala.


Di bandara semua orang mulai memasuki pesawat yang akan mereka tumpangi, itu juga yang dilakukan Arfan dan Seina.


"Aku nanti ada pertemuan dengan klien, kamu bisa temani?" pinta Arfan kepada Seina.


"Kenapa saya pak, kenapa tidak dengan pak Riko saja?" tanya balik Seina.


"Riko sedang sakit, dan ada beberapa karyawan penting yang sedang mengerjakan tugas. Hanya kamu yang kosong jadwalnya.


"Baik pak."Seina menjawab dengan pasrah.


Detelah melakukan perjalanan dari pukul 11 tadi, akhirnya mereka berdua sampai. Pesawat mendarat tepat pukul 12 siang. Seina mengetahui dirinya sampai, segera membangunkan bosnya itu.

__ADS_1


Tampannya dia, hidungnya sangat bagus, mancung dengan porsi yang pas, dagunya juga seperti karakter di anime, bulu matanya sangat lentik, kulitnya putih bersih, bibirnya tipis tapi terlihat seksi.


Disaat Seina mengamati dengan kedetailannya, tiba-tiba Arfan bangun. Belum sempat Seina membangunkannya, tetapi dia sudah bangun sendiri. Sekarang masalahnya Seina kepergok memperhatikan wajah Arfan.


"Sedang apa kamu?"tanya Arfan yang mengetahui Seina mengamati wajahnya.


" Tidak pak, saya.. saya tadi sedang ingin membangunkan pak Arfan, karena kita sudah sampai." jelas Seina.


"Ayo kita turun! " ajak bosnya, dan Seina pun mengikuti dibelakangnya.


Ketika sudah berada di depan, sebuah mobil menghampiri mereka berdua. Lalu mereka segera menumpanbinya.


"Kita mampir dulu di apartemen, kita harus membersihkan diri dulu, kemudian menemui klien." ucap Arfan.


"Iya pak." hanya itu yang terucap


Setelah sampai mereka berdua segera menuju apartemen. Saat berada di dalam Seina sedang sibuk menyiapkan pakaiannya. Sedangkan Arfan lebih dulu mandi.


Beberapa menit kemudian Arfan muncul dari dalam.


"Sudah, sekarang giliranmu! " perintah Arfan kepada Seina.


Lalu Seina segera bergegas ke kamar mandi. Di kamar mandi Seina melakukan perawatan yang biasa ia lakukan seminggu sekali, mulai dari lulur, eksfoliasi, dan juga tahap-tahap lain yang berguna untuk kesehatan kulitnya. Seina melakukan hal tersebut sudah mencapai satu jam lamanya.


Sedang apa dia?, Arfan menggerutu dengan kesal.


"Seina 30 menit lagi kita harus sampai, cepatlah keluar! " teriak Ardan dari luar.


"Iya pak, tinggal tahap lulur pak." dengan percaya diri Seina berkata.


Apa dia mau tampil, sehingga harus lama berdandan? pikir Arfan dalam hati.


Setelah menanti selama hampir satu jam setengah lamanya, akhirnya Seina keluar.


Arfan yang merasa kesal langsung menancap dengan ledekan.


"Saya menerima karyawan untuk bekerja dengan saya, bukan untuk berdandan demi saya." tak sengaja Arfan mengucapkannya.


"Apa?, tidak pak saya berdandan hanya untuk diri saya sendiri." balas Seina.


Dia memang cantik, badannya juga proporsional, tapi aku lebih suka dia tanpa riasan, lebih terlihat cantik natural. Ucap Arfan di dalam hati.

__ADS_1


Apa ini, aku tidak bisa mengendalikan pikiranku. Sudah.. sudah, aku tidak perlu memperdalam lagi masalah ini. Arfan berusaha mengelak dengan pikirannya sendiri.


__ADS_2