
Satu hari setelahnya, oma akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Seina bersama Arfan menemani oma dalam satu mobil.
"Seina, oma ingin sekali makan jagung rebus." pinta oma.
"Oh iya oma, nanti di seberang jalan ada beberapa penjual. Biasanya Seina tahu disitu ada penjual jagung rebus, nanti akan Seina belikan.
Setelah melakukan seperempat perjalanan, Seina tiba-tiba memberhentikan pak sopir untuk berhenti.
" Seina beli dulu ya oma." pamit Seina.
Penjualnya tidak terlihat dari mobil, karena memang tempatnya di sebuah gang kecil.
Seina yang menemukan penjualnya segera menuju ke sana. Belum sempat ia sampai ke tempat penjual, ia tiba-tiba dibekap dari belakang. Seina yang mengetahui dirinya dibekap, kemudian berusaha meminta tolong. Tetapi, Seina tidak bisa mengeluarkan suaranya, karena mulutnya sedang ditutup. Setelah beberapa detik dibekap, Seina kemudian tak sadarkan diri. Setelah itu, Seina dibawa ke sebuah gudang. Tangan dan kakinya di tali dan mulutnya ditutup menggunakan lakban.
Seina tidak bisa berbuat apa-apa, hanya air mata yang ia bisa keluarkan.
Tak ingin berlarut dengan keadaan, Seina kemudian berpikir. Ia mencoba kabur menggunakan caranya sendiri.
Saya harus selamat, tujuanku belum tercapai, dan urusanku juga belum terselesaikan. Aku tidak tahu, siapa sebenarnya musuhku. Apa pak Arfan, atau siapa?, aku tidak akan berhenti tanpa hasil. Ya Tuhan berikan saya kekuatan untuk melawan para penjahat ini. Aamiin.
Tolong lepaskan saya sekarang juga, atau saya akan mrmanggil pak Arfan selalu pemilik Perusahaan terbesar di negeri ini. Saya adalah istrinya. Jika kalian sampai menyakitiku, kalian akan tanggung sendiri akibatnya. " gertak Seina kepada para penjahat itu.
"Kenapa kami harus takut, kami juga akan mendapat perlindungan, dari orang yang menyuruh kami menculikmu. Dia juga seorang yang terpandang, keluarganya sangat kaya." ujar dari salah satu penjahat itu.
Seina masih belum bisa mengelabuhi mereka. Lalu ia ingin berbuat sesuatu yang lain lagi.
"Perutku sangat sakit, sepertinya saya ingin buang air besar di sini. Kalian mau melepaskan saya, atau terpaksa saya harus membuang di sin? " kata Seina dengan berani.
"Bagaimana ini?" tanya seorang dari mereka, kepada temannya yang lain.
"Ya sudah, kita lepaskan untuk sementara." kata seorang dari bagian mereka.
Brakk, suara tubrukan dengan sebuah benda. .. Seina segera lari, setelah memukul salah satu dari mereka yang menjaganya.
Tuhan, bantulah aku.
Seina berlari dengan sekuat tenaga, ia tidak tahu berada dimana dan harus kemana. Yang terpenting dia bisa kabur dari mereka.
***Di sebuah mobil mewah
"Kenapa Seina belum juga kembali Arfan? " tanya oma yang mengkhawatirkan Seina.
"Tidak tau oma, sebentar Arfan akan mengecek." jawab Arfan yang kemudian turun dari mobil.
__ADS_1
Kemana Seina?, ini kan penjual jagungnya. Lalu sekarang ada dimana dia.
Arfan memperhatikan sekitar, ia terlihat masih belum menemukan keberadaan Seina. Ketika berjalan, Arfan tidak sengaja menginjak sesuatu. Ketika dia melihat bawah, seperti tau apa yang sedang dilihatnya saat ini.
Dompet. Ini kan milik Seina. Kenapa bisa ada di sini?, aku harus segera mencarinya. Dia sepertinya dalam masalah.
Arfan kemudian pergi menuju mobil.
"Dima Sekna, kenapa belum kembali?" tanya oma.
Arfan kemudian menjawab. "Dia tadi baru menghubungi Arfan, jika dia harus ke kantor, karena ada pekerjaan penting mendadak.
Kemudian Arfan menancap gas mobilnya, untuk menuju ke rumah. Sesampai di rumah mengantar oma, Arfan lalu keluar lagi. Ia masih belum tenang, jika belum menemukan Seina.
Saat itu juga dia melaporkannya kepada polisi. Ia memberikan laporan tentang hilangnya Seina.
***
Sementara di sana, Seina masih berjuang dari kejaran penjahat. Seina terus berlari menuju jalan utama. Tiba-tiba saja, ada sebuah mobil yang melintasi dari belakangnya. Seina yang tidak mengetahuinya, terus berlari.
Citttttt... mobil itu berhenti.
"Seina, cepat masuk! " teriak seorang pria.
Seina yang mengetahui siapa yang meneriakinya, segera berlari menuju mobil. Ketika Seina akan masuk, tiba-tiba, penjahat itu datang. Arfan yang mengetahuinya, segera beraksi. Pukulan demi pukulan ia lakukan, tendangan juga ia gunakan untuk memberi pelajaran kepada para penjahat itu. Seina juga tidak diam saja, ia ikut membantu Arfan menghajar penjahat itu.
Arfan tak sengaja menyaksikan Seina yang memberikan pukulan dan tendangan kepada satu dari penjahat itu. Satu persatu penjahat itu sudah tidak berkutik, beberapa menit kemudian, polisi datang menangkap mereka.
"Terimakasih atas kerja samanya, dari setahun yang lalu, mereka sudah menjadi buronan polisi, karena kasus yang sama." ujar salah satu polisi.
"Iya Pak, Sama-sama. Mohon untuk diusut, siapa dalang dari semua ini. Mereka pasti disuruh seseorang." ucap Arfan.
"Baik Pak Arfan, kami akan melakukan sebisa mungkin untuk mengetahui, siapa dalang dari semua ini." ucap pak polisi.
Setelah polisi pergi, disana hanya tinggal Seina dan Arfan.
"Apa kamu terluka?" tanya Arfan kepada Seina.
"Tidak pak, pak Arfan sendiri apakah baik-baik saja? " balas Seina.
"Iya aku baik-baik saja." ucap Arfan.
***
__ADS_1
Di sisi jalan yang lain, terdapat sebuah mobil yang ada orang didalamnya. Ia terlihat sangat kesal, melihat Seina berhasil lari dari sekapannya.
Mengapa dia bisa kabur dengan semudah itu?
Orang itu mendengus kesal.
Seina aku harus bisa mendapatkanmu kembali, kamu adalah milikku. Aku tidak akan berhenti berusaha, agar bisa bersamamu lagi.
Orang itu tidak menyerah untuk mencapai ambisinya. Orang itu terjebak oleh emosi yang tidak stabil.
*** Perjalanan pulang
"Pak nanti mampir dulu ke tempat penjual jagung tadi ya, tadi aku belum jadi membelikan oma jagung. "ucap Seina.
" Iya." Arfan menjawab dengan singkat.
Arfan dengan tenang membelokkan mobilnya di dekat penjual jagung itu. Setelah sampai di tempat penjualnya, Seina segera keluar.
Siapa orang yang ingin membahayakan nyawa Seina?, bukankah Seina yang sebenarnya ingin menjatuhkanku. Kenapa malah dia sendiri yang sedang diincar orang lain.
Beberapa saat kemudian, Seina sudah kembali ke mobil dengan membawa beberapa jagung. Ia heran melihat Arfan yang sedang melamun.
"Pak, saya sudah selesai. Ayo kita pulang! " ucap Seina.
"Halo pak." teriak Seina dengan keras.
Arfan tiba-tiba terperanjat, karena ulah Seina.
"Kenapa kamu berteriak?" ucap Arfan yang sedikit marah.
"Karena pak Arfan tidak menjawab saya, lagipula kenapa pak Arfan melamun?, apa pak Arfan sedang memikirkan saya?" tanyanya dengan tersenyum konyol.
"Untuk apa aku memikirkanmu, sudahlah." Arfan membalas dengan heran, karena kepercayaan diri dari Seina.
Kenapa sekarang kamu malah menjadi mirip mbak Ningsih?, apa karena kamu selalu bergaul dengannya?
***Masih di mobil
"Seina apa saya boleh bertanya sesuatu?"tanya Arfan.
" Iya Pak, ada apa?" Seina membalasnya.
"Apa kamu pernah jatuh cinta?' tanya Arfan tiba-tiba, yang menunjukkan gestur yang kaku.
__ADS_1
"Pernah, tapi untuk apa pak Arfan bertanya seperti itu?, apa itu untuk tes di kantor?, tes kecintaan terhadap perusahaan?, oh saya tau mungkin ini adalah pertanyaan yang mengarah kesetiaan karyawan terhadap perusahaan." Seina mengatakan seolah dia orang yang paling bersih, padahal dia berniat akan menghancurkan perusahaan Arfan.
Arfan yang mendengar Seina, segera mengalihkan pembicaraan. Seina tak tau maksud sebenarnya dari pertanyaan bosnya itu.