
Udara pagi menusuk hati yang sedang tidak baik- baik saja. Seharusnya udara sejuk ini mengantarkan kedamaian bagi hatinya. Tapi tidak untuk hati Seina, hatinya merasa gelisah.
"Ayo kita pergi!,oma sudah menunggu di bawah." titah Arfan kepada Seina.
"Apa tidak ada cara pak untuk menghentikannya." ucap Seina.
"Apalagi, sudah tidak ada lagi, oma sudah bersikeras dengan keinginannya. Ini semua kan juga kamu yang menyebabkannya. Aku sudah tidak bisa menunggu lama lagi, ayo kita berangkat! " sambung Arfan yang bersikap tegas.
Seina akhirnya ikut bersama Arfan, dan ketika di depan ia sudah di jemput sebuah mobil yang sudah ada oma di dalamnya.
Oma yang mengetahui Seina dan Arfan pun langsung memanggilnya untuk segera masuk.
Di dalam mobil oma bercerita tentang kehidupan masa kecil Arfan. "Jadi dulu waktu Arfan masih kecil, ia sangat suka dengan hujan. Setiap ada hujan ia pasti bermain. Sedangkan Arkan tidak sama sekali menyukai hujan lain dari Arfan. Arfan adalah sosok kakak yang baik, ia rela memberikan apapun untuk adiknya agar Arkan merasa bahagia. Setiap momen apapun itu, ia selalu mengalah untuk Arkan. Arfan dari kecil sudah terlatih hidup mandiri, baik saat masih ada kedua orang tuanya dulu, atau saat hanya bersama oma. Arfan adalah anak yang rajin dan suka membantu, dia juga anak yang berprinsip, maka dari itu perusahaan jatuh kepadanya. Sebenarnya jika Arkan bisa lebih dari kakaknya, ia pasti memiliki kesempatan untuk mewarisinya. Tetapi Arkan anak yang memiliki ego tinggi, dia lebih memilih menjadi pegawai bank daripada menjadi seorang pemimpin, ia tidak suka melakukan tantangan, maka dari itu ia merasa tidak sanggup untuk menjadi pemimpin di perusahaan ini."oma panjang lebar bercerita kepada Seina, Arfan dan pak sopir pun ikut mendengarkan cerita oma dengan seksama.
Seina merasa kagum dengan kepribadian Arfan, ia terhenyak dengan apa yang diceritakan oma. Dengan mimik yang tulus Seina merasakan kebaikan Arfan.
Eitts, apa ini? tidak, aku harus fokus dengan tujuan Seina. Yah itu. Seina membuyarkan pikirannya sebelum hanyut dalam jebakan sendiri.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mereka akhirnya sampai di bandara. Oma melihat Seina dan Arfan dari jauh, ia mengamati keduanya hingga benar-benar masuk ke dalam. Setelah memastikannya oma lalu pergi bersama pak sopir.
***
Di dalam pesawat Seina dan Arfan duduk bersebelahan. Mereka tak ada sekat yang jauh. Jarak mereka hanya sekitar 20 cm. Seina merasa tidak nyaman berada didekat Arfan, tetapi ia mencoba menahannya dan berusaha berpikir positif.
Semua penumpang menunjukkan keheningan setelah pesawat berhasil mengudara. Semua orang terlihat lelah, ada yang tertidur, ada yang sengaja ingin tidur, dan ada yang masih tenggelam dengan kenikmatan fantasinya.
Aku membayangkan jika sampai nanti akan tidur dengan pulas, lalu makan dengan makanan yang lezat, kemudian aku menikmati keindahan pantai, lalu meminum air kelapa muda. Di antara para wisatawan lain aku tenang menikmati ombak yang bergerak. Aku akan melihat langit biru nan indah bersama dengan diriku sendiri. Aku nanti akan menikmati kedamaian untuk diriku sendiri.
Tiba-tiba ada yang menyentuh tangan Seina, ketika dia tersenyum sambil membayangkan fantasi indahnya tadi.
__ADS_1
"Kita sudah sampai, ayo!" ucap Arfan.
"Iya pak." Seina menjawab sekilat petir, hatinya merasa baik setelah membayangkan hal Indah tadi.
Semua penumpang segera turun, dan terutama bagi mereka berdua juga.
Setelah turun, sebuah mobil segera menjemput pasangan yang tidak mengharapkan menjadi sepasang ini.
"Apa kamu mau makan? " tanya Arfan kepada Seina.
"Tidak pak, saya tidak lapar, tetapi saya mengantuk." jawab Seina. Memang benar ia sedang mengantuk, waktu di pesawat yang harus ia habiskan untuk beristirahat malah ia gunakan untuk berkhayal.
Arfan yang mendengar pun mengerti.
Setelah 15 menit dengan kendaraan darat, akhirnya mereka sampai di sebuah villa indah. Sebelumnya, memang oma memesan hotel, tapi karena tidak jadi, yang kedua oma memesankan sebuah villa.
Pemandangannya memang sangat indah, kita bisa melihat guyuran ombak dari dalam, karena dindingnya terbuat dari kaca khusus yang transparan. Semua dinding villa itu dibuat transparan, hanya korden yang bisa menutupi jika menginginkanya.
Setelah mereka berdua masuk, Seina segera menuju tempat tidur. Ia tanpa berpikir segera meletakkan tubuhnya di atas ranjang. Kebetulan kamar yang tersedia hanya satu, jadi seperti biasa Arfan akan tidur di sofa. Di ruang tamu ada sofa juga, maka Arfan lebih memilih yang aman, ia tidur di sofa ruang tamu.
ting.. ting.. tingg ting tingg.. suara panggilan masuk.
"Halo oma, kami sudah sampai tujuan, terimakasih oma kami sangat menyukainya."ucap Arfan dengan detail, agar oma segera menutup teleponnya
" Syukurlah jika kalian menyukainya, dimana Seina? " tanya oma.
Yang dipikirkan Arfan sangat tepat, oma pasti akan menanyakan keberadaan Seina. "Seina sedang istirahat oma."jawab Arfan.
" Ya sudah oma tidak ingin berlama-lama, nanti bisa mengganggu kalian berdua, kamu sekarang lebih baik menyusul Seina. Oma akan tunggu kabar baik di rumah setelah kalian pulang honeymoon." ucap oma dengan penuh harapan.
__ADS_1
Oma kemudian memutuskan sambungan. Sementara Arfan masih berpikir dengan apa yang diharapkan oma.
Tidak mungkin aku bisa mewujudkan harapan oma, aku harus segera menyelesaikan semua dan memberi pengertian kepada oma. Tetapi untuk itu semua aku butuh waktu lebih, karena aku tidak ingin oma sampai jatuh sakit karena diriku.
Setelah melamun dari hasil telepon bersama oma tadi, Arfan bangkit menuju kamar mandi. Lama Arfan mencari kamar mandi di luar kamar, tapi tidak juga menemukannya. Setelah bertanya kepada petugas villa tersebut, memang kamar mandi hanya ada satu yaitu di kamar. Arfan tidak habis pikir, ia harus mandi dengan dinding transparan, sementara Seina tidur di dalam. Akhirnya dengan hati menerima, Arfan mandi menunggu hingga Seina bangun dari tidurnya.
Lama sekali, ini sudah pukul 7 malam, tapi dia masih tidur. Tuhan sabarkan aku.
Arfan yang sudah bersabar dari jam 2 siang tadi, akhirnya melangkah ke kamar.
Tokk tokk tokk... "Seina apa kamu sudah bangun?"
Tidak ada sahutan dari dalam, Arfan nekat menerobos masuk ke dalam untuk memastikan Seina dalam keadaan baik-baik saja.
Setelah berhasil masuk, Arfan menyaksikan Seina yang masih lelap dengan tidurnya. Tau akan itu, Arfan kemudian melangkah ingin keluar.
Di saat dia baru ingin melangkah menuju pintu, tiba-tiba Seina berkata.
"Ada apa pak, apa pak Arfan butuh sesuatu? " dengan cepat Seina bertanya setelah melihat bosnya itu.
"Tidak, tetapi aku perlu mandi." balas Arfan.
"Silakan mandi pak, oh iya maaf Pak tadi saya kelepasan tidur, hehe." menjawab dengan santai.
"Apa kamu bisa keluar sekarang? " ucap Arfan.
"Kenapa harus keluar pak, kan mandinya di dalam bukan di ranjang? " Seina yang menjawab dan menunjuk ke kamar mandi pun langsung kaget.
Ternyata kamar mandinya berdinding kaca, aku harus segera keluar. Seina pun akhirnya melangkah keluar dengan batin heran melihat kamar mandinya.
__ADS_1