Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 9 Mulai bekerja


__ADS_3

"Sedang apa kamu di situ? " tanya Arfan merasa aneh dengan apa yang dilakukan Seina.


Seina memasang wajah datar, dengan sedikit memelototkan matanya, dan menggaruk kepalanya.


"Tidak pak, aku tadi sedang mencari sesuatu." sahut Seina dengan cepat.


"Sekarang mulailah bekerja, kamu sudah diberitahu Riko kan? " perintah Arfan kepada Seina.


"Iya pak, saya akan melakukan pekerjaan saya dengan baik. Pak Riko telah memberitahu saya tadi, apa yang harus dikerjakan." balas Seina.


"Kalau ada apa-apa kamu bisa langsung menghubungi Riko." Ucap Arfan.


"Baik pak. " hanya itu yang bisa ia katakan.


Seina adalah wanita dengan berbagai rencana yang matang penuh analisa, dia berpikir seolah berbicara banyak melalui otaknya, tetapi sayang, itu tidak bereaksi ketika ia berbicara dengan mulutnya.


Bodohnya aku, kenapa aku menurut saja. Padahal tadi aku belum diberitahu apapun oleh pak Riko.


Seina membalasnya dengan meluruskan setiap kalimatnya tanpa berpikir. iya pak, iya pak, hanya itu yang ia katakan.


Seina merasa lemah ketika melakukan rencananya, padahal ketika memikirkan rencana itu, dia terlihat seperti wanita super, tapi nyatanya ketika di lapangan dia tak sekuat yang dikira.


Semangat Seina, semangatttt. Dalam hatinya berkata.


Sekarang apa yang harus aku lakukan?, aku bingung.


Seina ingin bertanya kepada teman-teman yang lain, tapi diurungkannya. Karena memang tugas itu harus pak Riko yang memberitahunya langsung, atau tidak pak Arfan juga berhak memberikan tugas kepadanya.


Dicari ke sana kemari, tapi pak Riko tak menunjukkan batang hidungnya sama sekali. Bahkan Seina sudah mengitari semua ruangan di kantor ini. Ia juga nekat, rela menunggu di depan kamar mandi pria untuk menemukan pak Riko. Kecuali satu yang belum, ruangan pak Arfan.


Apa aku harus memeriksa ke ruangan pak Arfan ya?, siapa tahu pak Riko ada di sana. Lebih baik aku mengintipnya saja, jika memang ada aku akan menunggunya di luar.


Setelah berpikir Seina menuju ruangan pak Arfan. Ia mulai melakukan aksinya. Satu matanya mengintip dari celah pintu yang ia buka sedikit. Tiba-tiba ia tidak bisa mengendalikan diri, tubuhnya terdorong menyentuh pintu, kemudian pintunya bergerak maju dan terbuka lebar. Sementara Seina jatuh tengkurap mengikuti alur pergerakan pintu tadi. Sakitnya tidak seberapa, tapi malunya segunung lebih.


Pak Arfan yang mengetahui Seina, segera menolongnya. Sementara pak Riko, kebetulan juga ada di dalam ruangan itu, hanya menyaksikan saja.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa?, sedang apa kamu di depan pintu? dan sejak kapan kamu sudah berdiri disana? " pak Arfan melepas tangannya dari lengan Seina, lalu memberondong pertanyaan.


Memang tadi Arfan dan Riko sedang membicarakan Seina, apalagi tentang rencana Seina terhadap balas dendam kepadanya. Jika Seina sampai mengetahui Arfan telah mengamati rencananya, pasti semuanya hancur. Untung saja kata Seina, bahwa ia berasa di depan pintu baru sekitar 1 menit yang lalu, dan kemudian langsung ambruk di ruangan Arfan.


"Eee... tidak pak, saya sedang mencari pak Riko. Saya tidak enak jika nanti mengganggu, maka dari itu saya tunggu di depan pintu saja." celingak-celinguk salah tingkah dengan hasil kebohongannya itu.


"Oh, oke silakan kalian boleh pergi dan lanjutkan pekerjaan kalian! " ucap Arfan, yang sebenarnya ia sudah tahu bahwa Seina belum diberi tugas oleh Riko.


"Baik pak, mari." Seina berkata dengan ramah, sementara Riko hanya mengangguk kemudian menunduk.


Orang-orang macam apa ini, semuanya seperti es. Apa perlu mereka kujuluki dengan Ice King.


Seina hanya bisa menggerutu dalam hatinya.


Setelah sampai di ruangan pak Riko, Seina segera diberikan perintah untuk mengkopi file, kemudian Seina diberi waktu 1 jam untuk memahami isi file tersebut. Setelah selesai, Seina boleh istirahat dan setelahnya ia disuruh menghadap pak Arfan untuk di tes. Karena masih awal, anggap saja Seina masih tergolong karyawan magang, tapi katanya saja dia di posisi manajer.


Seina memang sudah berfirasat sebelumnya.


Tidak mungkin ia memiliki posisi manajer sekaligus kan, lalu sebenarnya apa statusku?, aku jadi bingung. Apa aku seorang karyawan biasa yang disuruh menyamar menjadi manajer?


"Apa kamu sudah paham dengan tugasnya? " tanya pak Riko yang merusak lamunan Seina sedari tadi.


"Iya pak, saya sudah paham pak, yasudah saya kembali dulu ke tempat saya. Permisi dan terimakasih atas tugasnya pak." Seina kemudian beranjak dari tempat duduknya.


Seina segera mengerjakan apa yang diperintahkan pak Riko. Ia mulai memfotokopi filenya, lalu membacanya dengan teliti.


Tak terasa sudah satu jam Seina membaca file itu, sekarang waktunya istirahat. Seina kemudian bangkit dari kursinya, lalu mengikuti karyawan yang lain menuju kantin.


"Hai Sein, bagaimana pekerjaan kamu hari ini? " tanya seorang rekan kerjanya yang bernama Edo.


"Syukurlah, hari ini lancar do. " balas Seina dengan ramah.


"Bagus kalau lancar, kita makan yuk! " ajak Edo.


"Ayuk." Seina menyetujuinya.

__ADS_1


Hari ini adalah harinya Seina. Ia bisa menjalankan tugas pertamanya dengan baik, dan sekaligus mendapatkan teman baru.


Eitss, tunggu masih ada satu yang belum, ia harus menemui bosnya setelah istirahat.


Setelah teringat itu, Seina jadi khawatir. Ia takut jika tidak bisa menjawab pertanyaan bosnya dengan baik.


Sementara Edo di hadapannya masih terus melahap makanan. Seina yang melihatnya merasa nikmat dengan cara dia makan. Seina kemudian melanjutkan makannya kembali.


Hari ini jam istirahat terasa cepat, padahal satu jam lamanya. Mungkin karena Seina keasyikan dengan obrolannya bersama Edo. Seina dan Edo terlihat cocok dengan satu sama lain. Baik dari obrolan ataupun kesukaan.


Setelah selesai makan Seina dan Edo bergerak ke meja kerja masing-masing.


Ketika Seina mulai melangkah menuju ruangan pak Arfan, tiba-tiba pak Riko datang dari arah depan, lalu menghampirinya.


Ada apa dengan pak Riko, kenapa dia kelihatan buru-buru? batin Seina.


"Seina, kamu tidak jadi menghadap pak Arfan sekarang, karena pak Srfan mau ke rumah sakit. " ucap pak Riko.


Yes. batin Seina kegirangan.


"Tetapi kamu diminta untuk menemuinya setelah jam pulang kerja, karena pak Arfan mungkin diperkirakan akan kembali ke kantor setelah dari rumah sakit. " melanjutkan ucapannya kepada Seina.


Seina yang tadinya merasa sangat senang, hatinya kembali menciut. Ia tidak bisa mempertahankan perasaan senangnya seperti tadi.


"Baik pak. "jawab Seina dengan patuh.


Apa tidak bisa dilanjutkan besok?, kenapa aku harus menunggu hingga nanti sore, disaat semua orang sudah pulang.


Seina berbicara dengan hatinya yang merasa kesal.


Kantor terasa sepi, Seina hanya tinggal seorang sendiri di ruangannya. Karena merasa bosan, ia berjalan keluar untuk sekedar menghirup udara sore. Saat melihat keluar, ia mengincar penjual bakso, ia segera menuju gerobak tukang bakso itu, dan segera memesannya. Setelah selesai makan ia segera kembali ke dalam kantor.


Seina duduk santai sambil menikmati musik yang bersuara dari ponselnya. Karena tenggelam dalam alunan musik, Seina sampai tidak sadarkan diri hingga terjatuh tidur. Mungkin itu juga efek setelah makan bakso tadi, ia merasa kenyang kemudian mengantuk.


Sekarang jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Di depan terlihat mobil bosnya sudah terparkir dengan rapi, sementara Seina masih tertidur pulas. Ia tak lupa meninggalkan suara dengkuran indahnya diikuti aliran deras sungai dari ujung bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2