
"Bagaimana Seina, apa setuju?" ucap pak Riko
"Boleh, aku akan mencoba pak,"
Seina kemudian bersiap untuk meninggalkan kantor. Ijin satu minggu sepertinya tidak masalah bagi dirinya, lagi pula perusahaan ia bekerja adalah milik suaminya. Tapi meskipun begitu ia tetap mengurus prosedur dengan membuat surat keterangan ijin.
Semoga rencana ini berjalan lancar,
"Permisi pak, ada pelamar yang sudah datang," Ucap seorang pegawai di perusahaan milik pak Rendy.
"Minta orang itu masuk!"
Ngik.. Suara pintu terbuka dan seorang wanita sedang masuk.
"Duduklah,"
Lalu wanita tersebut mengikuti perintah pak Rendy.
"Apa kamu sebelumnya sudah pernah memiliki pengalaman bekerja di perusahaan?"
"Sudah pak,"
"Dimana?"
"Perusahaan ARFU KING INDONESIA,"
"Oke, ada poin yang membuatku tidak banyak mempertimbangkan ini." Pak Rendy merasa yakin kepada mantan karyawan dari perusahaan ARFU itu.
Tidak heran, memang bukan perusahaan dan CEO nya saja, tapi karyawannya juga terkenal dengan integritas dan tanggung jawabnya dalam bekerja.
"Oke tidak berlama-lama, saya terima kamu untuk bekerja di perusahaan saya, besok kamu sudah bisa masuk, "
Seina dengan wajah sumringah mengucapkan terimakasih kepada pak Rendy, " Terimakasih banyak pak,"
Pak Rendy pun membalas, " Iya sama-sama."
Keberhasilan Seina dengan mudah diterima di perusahaan ini hanya ada tiga orang yang terlibat di dalamnya, yaitu Seina, Riko, dan Kayla. Ini semua murni tanpa sepengetahuan pak Rendy mengenai masalah yang terjadi. Seina memang tidak langsung meminta tolong kepada pak Rendy ia mengkhawatirkan jika memberitahu lebih awal malah menjadi sesuatu yang efektif tapi tidak berjalan. Dengan proses seperti ini mungkin lambat laun akan ada hasil baik yang menghampiri. Biar pak Arfan seiring berjalan waktu mengingat semua tanpa paksaan.
***
Besok aku akan bekerja, aku harus menyiapkan segalanya sekarang,
"Sein sibuk sekali kelihatannya,"
"Iya Ter, aku sedang mempersiapkan untuk ke kantor besok,"
"Emmm tapi kenapa kamu memakai baju hitam putih, seperti karyawan baru yang sedang training."
"Tidak, aku hanya ingin memakai warna itu,"
__ADS_1
"Jangan bohong Sein, aku tau kamu saat ini sedang menutupi sesuatu,"
Seina jadi serba salah, lalu dengan mulutnya yang gatal, ia memberitahu semua yang akan dilakukan Seina kepada Teri. Setelah menyelesaikan bicara Teri kemudian mendekati Seina. "Sein kamu memang benar-benar wanita kuat."
" Iya begini Ter, dari dulu aku sudah terbiasa hidup keras, jadi tak memungkiri jika sekarang aku sudah terlatih." Seina kemudian pergi ke atas menuju kamar.
***
Keesokan harinya
"Permisi apa anda karyawan baru di perusahaan ini?" Seseorang menanyainya.
Deg. Seina terpaku melihat orang yang berbicara di hadapannya.
"Perkenalkan saya Devan, saya adalah sekretaris dari pak Rendy, kemarin saya tidak masuk, jadi tugas untuk menyeleksi pelamar saya limpahkan kepada karyawan lain yang lebih senior." Devan menjelaskan tentang kemarin.
Dia adalah pak Arfan, aku sangat mengenalinya. Mulai dari cara bicara, menatap, dan memperlakukan orang, itu sangat jelas bahwa dia pak Arfan suamiku. Ya Tuhan terimakasih engkau telah menjawab doaku selama ini.
"Saya Seina pak, benar saya adalah karyawan baru di sini." Seina memperkenalkan identitasnya.
Saat ini Seina masih merasa tidak percaya jika yang di hadapannya saat ini adalah orang yang dicari selama ini.
"Oke, ya sudah silakan kembali bekerja, ini saya serahkan beberapa berkas untuk kamu kerjakan, dan saat selesai nanti silakan antar ke ruang saya di sebelah sana." Tangan Devan menunjuk ke sebuah ruangan.
***
Aku harus sering-sering menemuinya agar ingatannya segera muncul dalam pikirannya.
"Masuk," Ucap Devan dari dalam.
"Permisi pak saya masih bingung, yang ini bagaimana ya pak?"
Seina berusaha menunjukkan beberapa kalimat di kertas yang dibawanya.
"Oke, yang ini begini," Devan menjelaskan dengan telaten kepada Seina.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya pak, terimakasih." Ucap Seina sambil tersenyum.
Devan lalu hanya membalas dengan anggukan sekali. Dan Seina segera keluar dari ruangan itu.
Senyuman itu seperti aku pernah melihatnya, mata itu aku seperti sering menatapnya.
Devan masih sibuk bertanya-tanya dalam hatinya, ia merasa seperti tak asing dengan senyum Seina dan matanya. Hari itu waktu berlangsung sangat cepat semua karyawan mulai berhamburan keluar kantor. Itu menandakan bahwa jam kerja telah usai. Devan harusnya sudah pulang, tapi ia malah diam seperti menunggu orang menghampirinya.
Semoga dengan lamanya aku mengumpulkan, pak Arfan akan datang kemari menanyakan tugas tadi.
Tek.. tek.. Sepasang sepatu mengeluarkan suara dari hasil ketukan alasnya yang keras dengan lantai. Seorang pria berjalan menuju ruang karyawan.
"Seina,"
__ADS_1
"Iya pak,"
"Apa belum selesai tugas yang kuberikan?"
"Belum pak,"
"Oke yang bagian mana yang kamu masih merasa sulit?"
"Ini pak,"
Seina masih berpura-pura kesulitan mengerjakan tugastugas, sambil menggaruk rambutnya. Aktingnya kali ini benar-benar keren. Bahkan sebenarnya rambutnya tidak ingin disentuh, tapi malah dia sampai menggaruknya.
"Oke sudah selesai kan?"
"Sudah pak, terimakasih ya pak karena pak Devan telah membantu mengerjakan tugas ini hingga selesai, dan maaf jika saya merepotkan dari tadi menanyai anda tanpa henti. Kalau tidak ada pak Devan mungkin tugas saya belum selesai." Seina basa-basi mengatakan kalimatnya.
"Oke tidak masalah Seina, itu sudah menjadi tugas saya, ya sudah sekarang kamu boleh pulang!" Ucap Devan.
Seina lalu keluar menuju ke depan. Pikiran Seina muncul dengan ide lain. Akan kucoba lagi yang satu ini.
*** Di kediaman dirgantara
"Kenapa belum kunjung pulang ya Seina," Oma berkata dengan merasa cemas.
"Mungkin lama masih menunggu taksi oma." Teri memberi penjelasan kepada oma agar tidak terlalu cemas.
"Iya mungkin, semoga tidak terjadi apapun padanya," Oma kemudian dibantu Teri untuk duduk.
"Assalamu'alaikum."
"Seina,"
"Iya oma, ada apa?"
"Oma sangat khawatir terjadi sesuatu padamu,"
"Tidak oma, lain kali oma tidak perlu cemas, Seina janji akan selalu menjaga diri dengan baik."
Oma yang mendengar pernyataan Seina kembali tenang.
***
Hari ini pekerjaanku sangat menyenangkan, apalagi bertemu Seina. Dia terlihat polos dan lucu. Hemm.
Devan membayangkan kebersamaan dirinya bersama Seina tadi.
Lucu sekali dia, wanita yang dia bayangkan yang benar adalah istrinya. Kenapa ia menganggap Seina sebagai orang lain yang ia baru kenal dan ia baru taksir.
Pak Arfan aku akan berjuang agar kamu bisa kembali kepada keluargamu, mungkin jika dalam kurun waktu seminggu tidak berhasil, aku akan meminta bantuan pak Rendy. Itu adalah opsi terakhir bagiku. Tuhan mudahkan jalanku, berilah kelancaran untuk semua rencanaku Aamiin.
__ADS_1
Seina kemudian tidur di samping putrinya, ia memeluk Reyna bak guling. Kasih sayangnya terhadap Reyna tidak ada duanya di dunia ini, baginya permata yang paling berharga adalah putrinya.