
***
Di rumah dirgantara
"Hai oma, bagaimana kabar oma?"sapa seorang wanita yang sedang duduk.
"Baik." oma berkata dengan cuek.
Wanita yang menyapa oma saat ini terlihat menikmati sebagai seorang tamu di rumah itu. Ia meminum segelas jus jeruk segar yang ia minta sendiri kepada bi Surti.
"Arfan, kamu lama sekali." ucapnya ketika melihat Arfan menuruni tangga.
"Iya maaf, tadi aku masih menerima telepon."
Beberapa menit kemudian mereka berdua memutuskan untuk pergi segera.
"Mau kemana kalian?" tanya oma.
"Kita mau nonton ke bioskop oma." ucap Arfan.
Setelah mendapat jawaban, oma tidak menanggapinya. Oma pergi meninggalkan mereka begitu saja. Oma terlihat marah dan sedih. Resa. Dia adalah wanita yang tidak baik untuk Arfan. Dia adalah wanita yang licik. Aku harus bisa memisahkan mereka berdua.
Resa yang melihat sikap oma tak ambil pusing. Yang terpenting ia bisa mendapatkan hatinya Arfan. "Yasudah kita pergi sekarang yuk! " ajaknya.
Mereka berdua akhirnya berangkat menuju bioskop.
*** Di bioskop
"Sein ayo masuk sekarang!"
Kayla menggandeng Seina menuju kursi penonton. Ia merasa kasihan dan tidak tega melihat temannya itu bersedih, maka dari itu Kayla berinisiatif untuk mengajak nonton di bioskop. Saat itu film di putar. Ceritanya sangat bagus dan lucu. Semua penonton tertawa lepas di kegelapan. Tidak ada seorang pun yang diam, semuanya merasa lucu dan kocak dengan film itu.
Seina dan Kayla menonton sambil membawa cemilan dan minuman. Di sela-sela sela menonton ia menyempatkan untuk makan cemilan.
"Sein menurutmu bagaimana filmnya?"
"Untuk kali ini bagus Kay."
"Sekarang masih jam 8 malam, bagaimana jika setelah ini kita makan di restoran?"
"Oke Kay, aku kebetulan juga sedang lapar nih."
"Loh loh Sein, lihat bukannya itu pak Arfan?, kok bersama Resa. "
Ternyata pak Arfan sudah tidak mengingatku. Dia menikmati keupakannya dengan lebih memilih Resa. Pak Arfan sudah menjadi orang asing bagiku.
"Iya, biarlah itu memang pengaruh dari ingatannya."
"Terus bagaimana hubunganmu Sein, apa terus begini?"
"Tidak Kay, semua pasti ada perubahan. Baik itu maupun yang lain. Aku akan menunggu pak Arfan hingga sadar. Aku tidak akan meninggalkannya."
Seina berkata dengan hati yang penuh. Ia seperti menahan air mata di depan Kayla.
Seina dan Kayla melangkah ke restoran yang tidak jauh dari tempat bioskop.
__ADS_1
Sesampainya disana mereka memesan makanan. Kayla sangat menikmati makannya yaitu gurami asam manis. Sedangkan Seina hanya bermain-main dengan sendoknya.
"Sein kenapa?, tidak suka dengan makananmu?"
"Tidak, aku sangat suka. Tetapi aku merasa tidak selera makan kali ini.
"Ayo Sein, bangrkitlah dan berjuanglah untuk dirimu sendiri dan keluargamu. Anggap saja jika masalah itu semut kecil, biarkan kakimu sebagai gajah yang kuat."
"Iya Kay." Seina kemudian memeluk Kayla.
>>>Di meja yang lain.
"Resa kamu mau makan apa?"
"Eee, aku mau pasta dan jus alpukat pak."
"Oke. Mbak saya pesan Stein satu, pasta satu, jus jeruk satu, dan jus alpukat satu." ucap Arfan kepada seorang pelayan.
"Baik pak." jawab pelayan itu.
Sambil menunggu makanan datang, Arfan mengamati area restoran. Dengan bosan ia memutar matanya ke kanan ke kiri. Saat ia melihat ke kiri, matanya terhenti kepada dia orang wanita. "Seina, Kayla." panggilnya.
Seina dan Kayla yang merasa terpanggil segera mencari sumber suara. "Pak Arfan." mereka berdua mengucapkan dengan serempak. Setelah mengetahui, kemudian mereka menuju ke meja pak Arfan.
"Kalian juga ada di sini?"
"Iya pak, tadi kami baru saja menonton bioskop, lalu kami mampir ke sini untuk makan." jawab Kayla.
"Oo.. aku tadi juga baru saja nonton dengan Resa."
"Oke, hati-hati kalian ya."
Kayla dan Seina lalu segera pergi. Seina tidak bisa mengatakan apapun dari mulutnya. Ia hanya mampu berbicara dengan dirinya sendiri. Takdir sudah mulai ditunjukkan oleh Tuhan. Sekarang tugasku hanya menanti takdir yang sesungguhnya. Tuhan aku upayakan yang seharusnya menjadi milikku, dan tapi, akan aku relakan jika bukan menjadi milikku.
"Sein apa rencanamu sekarang?" tanya Kayla.
"Mengikuti alur yang semestinya."
"Semoga bisa diperbaiki dan bisa disatukan kembali. Aku hanya bisa mendoakanmu dan pak Arfan Sein."
"Terimakasih Kay." Seina mengatakan dengan perasaan sedih dan mencoba menerima apa yang terjadi.
***
Di mobil
"Pak, apa pertunangan kita bisa dilaksanakan lagi, setelah tertunda dulu?"
"Iya bisa, mungkin nanti aku akan membicarakannya dengan oma. "
Yes, tinggal beberapa langkah lagi aku bisa menikah dengan Arfan. Ternyata dunia memihak padaku kali ini, dengan keadaan pak Arfan yang sedang amnesia memberi keuntungan besar bagiku.
"Pak, aku harap pertunangan dan pernikahan kita akan segera dilakukan, agar tidak timbul fitnah diantara kita."ucap Resa dengan kalimat yang suci.
" Iya, aku usahakan secepatnya kita bertunangan, setelah itu jarak beberapa hari kita langsung menikah."
__ADS_1
Resa yang mendengar janji dari Arfan terlihat kegirangan. Wajahnya sangat sumringah.
***
Di rumah Kayla
"Sein, ini sudah jam 11 malam, kenapa belum tidur?"
Kayla mengucapkan dengan nada lembut. Sekarang ia tahu tidak bisa berbicara seperti biasanya, karena hati Seina benar-benar tidak baik.
Seina masih melamun dan tidak membalas Kayla.
Kayla yang sudah capek sendiri kemudian tidur. Ah sudahlah Sein, aku mau tidur ngantuk.
Seina tidak menghiraukan apa yang dikatakan Kayla. Ia sibuk dengan pikirannya.
Ting.. ting.. ting
"Halo" Seina yang tadi mengetahui ponselnya berbunyi segera mengangkat.
"Siapa ya." nomor Teri lupa belum ia simpan.
"Sein ini aku Teri. Aku ingin memberi kabar buruk."
"Oh Teri, iya ada Ter?"
"Tadi aku sempat dengan saat Arfan berbicara dengan oma, ia ingin bertunangan dan menikah dengan Resa. Kamu harus menghalanginya."
"Apa?, bertunangan dan menikah?" Seina sangat terkejut mendengar berita tersebut.
"Kamu harus menghalanginya Sein. Wanita itu sangat licik. Dulu memang benar kak Arfan ingin bertunangan dengannya, tapi karena kak Arfan menemukan Resa dengan pria lain, pertunangan akhirnya dibatalkan. Dan juga Resa yang sempat menjadi karyawan di perusahaan ARFU, akhirnya dikeluarkan."
"Benarkah Ter?"
"Hemmmm." Teri hanya menjawab seperti itu.
"Baik aku akan mencoba semampuku. Terimakasih banyak Ter atas informasinya."
"Oke Sein, santai saja."
"Ya sudah aku tutup ya, daaa."
"Daa."
Mereka akhirnya menutup panggilan masing-masing.
Seina masih belum bisa tidur, apalagi ketambahan tadi, ia bisa-bisa tidak tidur semalam ini.
"Seina, ini sudah jam satu malam, ayo tidur. Besok kan kerja." ucap Kayla yang terpaksa membangunkan tubuhnya untuk meminta Seina segera tidur."
"Iya Kay."
Saat ini memang aku jauh dengan pak Arfan. Tetapi hatiku akan selalu menyimpan tentangnya. Aku yakin Tuhan akan memberikan jalan bagi semua manusia yang memiliki masalah. Aku harus semangat, semangaaattt. Lebih baik aku sekarang tidur.
Setelah Seina berhasil memotivasi dirinya sendiri, kemudian Seina pergi untuk tidur.
__ADS_1