Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 16 Mati Lampu


__ADS_3

Di ruang tamu Seina melihat-lihat hiasan-hiasan cantik. Mulai dari lukisan, guci, dan beberapa vas bunga yang terbuat dari gerabah asli dari daerah tersebut.


Wah cantik sekali, aku jadi betah di sini. Gumam Seina dalam hati.


Seina tak berhenti sampai di situ, ia berjalan keluar villa untuk merasakan kesegaran malam di tepi pantai.


Arfan yang sedari tadi mandi pun, akhirnya muncul dari balik kamar. Kemudian maniknya mencari seseorang. Ekor matanya ke kiri dan ke kanan.


Dimana dia?, apa dia keluar?


Dalam hati ia mencari keberadaan Seina. Saat itu juga Arfan keluar dari villa itu. Matanya bergerak ke tepi pantai, tepat didepan villanya. Ia melihat seorang wanita yang sedang duduk di sana, tak lain adalah Seina.


Setelah memastikan keberadaan Seina, Arfan pun berjalan menyusuri pantai, ia menikmati kesejukkan malam. Di pantai terlihat oleh Arfan perahu kecil nelayan yang sedang berlayar. Setelah sampai, Arfan pun langsung duduk di tepi pantai, menikmati indahnya pantai saat malam hari.


Setelah puas menikmati keindahan malam di tepi pantai, Seina bangkit dari duduknya untuk kembali ke villa. Dia berjalan sambil sesekali bermain pasir dengan kakinya.


Sementara Arfan yang beberapa menit baru mengetahui Seina sudah tidak ada di sisi pantai pun ikut masuk ke dalam villa.


Saat masuk ke dalam, Arfan mencium aroma yang lezat.


"Silakan makan pak, saya sudah membuat makanan untuk malam ini." Seina menawarkan dengan telaten.


Ia menata semua makanan, tak lupa ada buah, dan minuman, serta makanan penutup pun juga ia siapkan.


Sejak kapan dia kembali?, kenapa banyak sekali makanannya. tanya Arfan dalam hati dengan rasa heran.


"Iya." dengan jawaban tiga huruf itu, lalu Arfan duduk dan mulai mengambil satu persatu makanan yang diinginkan. Sedangkan Seina juga ikut duduk berhadapan dengan Arfan.


"Apa kamu sudah mandi?" tanya Arfan kepada Seina.


"Belum pak, setelah makan saya akan segera mandi." jawab Seina.


Tanpa perkataan lagi Arfan lalu melahap makanannya, ia menikmati tiap gigitan dan tiap rasa di lidahnya. la makan dengan porsi cukup banyak kali ini, mengingat dari setelah sampai tadi belum memasukkan apapun ke dalam perutnya, dan satu lagi karena makanan yang dibuat juga sangat lezat baginya.


Setelah menyelesaikan makan malam, Seina membereskan semua piring dan peralatan makan yang kotor, lalu mencucinya hingga bersih. Tak lupa Seina juga membersihkan meja makan dengan telaten. Hal ini membuat Arfan yang melihatnya ada rasa kagum kepada Seina. Tetapi kemudian setelah menyadari hal itu, ia berusaha untuk menghilangkan pikiran kagum pada Seina.


"Saya mandi dulu pak. " ijin Seina.


"Ehmmm." hanya itu yang dikeluarkan Arfan.

__ADS_1


Tiba-tiba saat Seina baru saja ingin mengguyur badannya dengan shower, listrik tiba-tiba padam. Cahaya pun menghilang dari dekatnya. Seina yang mengetahui hal itu langsunglangsung panik.


"Aaaaaaaaaa....Tolongg...tolongg...tolong... lampunya mati." Seina berteriak ketakutan.


Dari luar kamar Arfan yang mendengar teriakan Seina pun segera masuk mengecek keadaan Seina. Ketika ia berhasil masuk, tiba-tiba listrik menyala.


"Aaaaaaa......" teriakan dua orang itu menggemparkan sebuah kamar kecil.


"Keluar pak!, saya mohon." Seina merasa panik dan malu ketika menyadari Arfan di dalam kamar.


Arfan yang juga ikut takut dan panik pun langsung lari keluar.


Tontonan macam apa ini? kenapa aku harus masuk tadi, aku kan sudah mengetahui jika Seina mandi di dalam. Tapi apa yang salah?, aku kan berusaha memastikan dia baik-baik saja di dalam. Lagipula kenapa dia harus berteriak minta tolong. Kesalahan ini bukan dari aku sepenuhnya. Batin Arfan dengan menggerutu.


Sementara di kamar mandi, Seina buru-buru menyelesaikan kegiatan mandinya. Dan berencana menginterogasi Arfan.


Setelah selesai mandi, Seina pun keluar kamar. Ia melihat Arfan bosnya itu sedang sibuk di depan laptopnya.


"Pak boleh saya bertanya?"ucap Seina dengan hati-hati.


" Iya, ada apa? "bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


"Lihat apa?, aku tadi tidak melihat apapun, yang aku lihat hanya lampu di kamar. Aku tadi mempercepat bola mataku untuk memutar ke atas." jawab Arfan, tapi tidak mungkin jika dia tidak melihat, itu hanya akal-akalan Arfan untuk menutupi, agar tidak membuat Seina malu. Yang sebenarnya Arfan sudah melihat semuanya.


"Oh ya sudah pak, terimakasih karena sudah mengalihkan pandangan mata pak Arfan." Seina membalas seperti wanita bodoh. Mana mungkin sebersih itu, semua lelaki akan mesum pada waktunya.


"Saya pamit untuk tidur dulu pak." meminta ijin pada Arfan.


"Iya silakan tidur, selamat malam." Arfan mengucap salam dengan tidak sengaja.


"Iya pak selamat malam." Seina menjawab dengan rasa aneh.


***


Di sebuah rumah besar, terlihat dua orang yang duduk bersebelahan, ia tak lain adalah Alea dan oma.


"Oma aku ingin menelepon paman Arfan. " rengek Alea.


"Iya sayang sebentar, oma akan coba semoga mereka tidak sedang istirahat."oma menjawab sambil memegang ponsel, dan mulai menyentuh telepon hijau.

__ADS_1


" Halo, iya oma ada apa, tidak biasanya oma video call? "tanya Arfan sesaat setelah ia mengangkatnya.


" Ini Alea yang meminta."oma menjawab dengan pelan


"Hai paman, apa paman senang? " tanya Alea si anak kecil yang lucu.


"Iya paman senang di sini. Kenapa Alea belum tidur? " tanya Arfan kepada keponakan lucunya itu.


"Alea rindu bermain bersama kak Seina." wajahnya terlihat sedih ketika menyebut nama Seina.


"Kenapa kamu sedih?, sebentar lagi kak Seina juga akan pulang kan. Apa kamu mau ketemu kak Seina?"ucap Arfan memancing Alea agar dipanggilkan Seina, padahal sepertinya Arfan sendiri yang ingin bertemu Seina.


" Iya paman, Alea ingin bertemu dengan kak Seina." Alea menjawab dengan cepat dan bersemangat.


Setelah mendengar permintaan Alea, Arfan segera mengetuk pintu.


"Alea, apa kamu sudah tidur? "tanya Arfan dari luar.


" Belum, ada apa pak? " tanya Seina dari balik pintu.


"Alea ingin melihatmu, oma sedang video call denganku." balas Arfan, untuk menjelaskan kepentingan yang sebenarnya.


"Baik Pak." dengan segera Seina membuka pintu.


Oma dan Alea yang menyaksikan hal itu melihat dengan aneh.


Kenapa mereka berdua tidak bersama?, apa mereka sedang marahan. batin oma. Apalagi ketika melihat ada selimut dan bantal di sofa tadi.


"Hai kak Seina." Alea terlihat bersemangat setelah melihat Seina dari layar.


"Hai Alea, apa kamu rindu kakak!? " sapaan dan pertanyaan basa basi Seina untuk Alea.


"Iya." menjawab dengan wajah lucu cemberut.


Seina dan Alea saling mengobati kangen dengan melakukan obrolan. Tak terasa sudah 15 menit mereka bercengkerama. Akhirnya oma mengambil ponsel yang dibawa Alea.


Sebelum menutup, oma menanyakan sesuatu kepada Arfan dan Seina. "Apa kalian tidak tidur bersama?" pertanyaan itu belum terjawab tiba-tiba pangggilan terputus, karena jaringan yang ada di ponsel oma sedang tidak stabil.


Aduh pakai acara putus sambungannya, ah ya sudahlah aku tidur saja, mungkin mereka juga akan istirahat juga, tidak perlu kuhubungkan ulang. Mungkin lain kali aku bisa menanyakan kepada mereka. ucap oma di dalam hati disertai dengan perasaan kantuk yang sudah tidak tertahan lagi olehnya.

__ADS_1


__ADS_2