Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 35 Pertunangan


__ADS_3

Semua orang sudah berkumpul di aula tempat pertunangan.


"Seina, oma minta maaf. Oma tidak bisa melakukan apapun."


"Iya oma, Seina mengerti."


Seina hari ini berpenampilan sederhana, namun mengesankan. Ia memakai gaun dengan tinggi selutut berwarna merah muda. Rambutnya digerai, dan ia menambah aksesoris pada rambutnya, berupa jepitan hitam. Ia juga mengenakan make up yang natural.


Seina sudah datang dari tadi. Ia datang bersama Kayla. Saat ini acara intinya sudah akan dimulai sepertinya. Seina yang berada di area tempat catering, segera menuju tempat duduk bersama Kayla.


Saat itu Arfan dan Resa terlihat bahagia dari penglihatan para tamu. Arfan dan Resa terlihat serasi. Arfan kali ini menggunakan jas hitam dengan ditambah pita kupu-kupu sebagai casing, itu membuatnya semakin gagah dan tampan. Sedangkan untuk Resa ia menggunakan gaun panjang hitam dengan belahan dada terbuka srrta belahan kaki di pinggir. Hari ini Resa tampil dengan seksi dan anggung.


"Sein, aku ke kamar mandi dulu ya."


"Iya Kay."


Saat itu juga Seina menikmati kepahitan itu sendiri. Ia menatap dengan penuh kesedihan. Bagaimana tidak, ia harus melihat suaminya sendiri bertunangan dengan wanita lain.


Aku harus kuat. Aku tidak boleh lemah. Tuhan sudah menentukan takdirmu Seina, tetaplah tenang untuk menanti takdir terbaikmu.


Pasangan sudah pada tahap terakhir prosesi, mereka saling memasangkan cincin pada jari satu sama lain. Dan acara akhirnya selesai.


Oma, Teri, Arkan, bi Surti, dan mbak Ningsih merasa sedih, mereka tidak fokus dengan Arfan dan Resa melainkan lebih fokus melihat Seina. Dari masing-masing mereka saling berbicara dengan diri mereka sendiri.


Oma : Seina, oma akan selalu menganggapmu sebagai menantu di rumah ini, bersabarlah untuk menunggu takdir terbaikmu.


Arkan : Seina aku hanya bisa berdoa, semoga kebahagiaan akan menunggumu di masa yang akan datang.


Teri: Seina aku yakin kamu kuat, dan aku yakin hidupmu akan lebih baik di masa yang akan datang.


Mbak Ningsih : Non Sein, semoga selalu diberikan kesabaran. Ningsih akan selalu mendukungmu.


Bi Surti: Kasihan non Seina, ia harus menyaksikan suaminya bertunangan dengan orang lain. Semoga ingatan pak Arfan segera pulih, agar non tidak sedih lagi.


Semua orang menatap sedih Seina. Saat itu tba-tiba Resa datang menghampiri mereka yang masih sedih Akan Seina.

__ADS_1


"Halo. Bagaimana, apa penampilan kami bagus?" bertanya dengan tersenyum.


"Iya, penampilan non Resa seperti biduan di lampung saya."celoteh Ningsih.


" Apa?, biduan?, jangan salah kamu, ini gaun terinspirasi dengan gaun yang dipakai Angelina Jolie." berbicara dengan kesombongan.


"Siapa itu, saya kenalnya hanya dengan Ayu ting-ting, siapa itu Enjelina Jeli." bi Surti menambahimenambahi dengan nada medoknya.


"Upps, apa Angelina Jolie bukan jeli." Resa yang kesal akan Ningsih dan bi Surti pun pergi dari situ.


Sementara orang yang lain merasa ingin ketawa dengan apa yang dilakukan bi Surti dan Ningsih.


"Bagus terus ya. Kalian memang keren." Teri memberikan jempolnya kepada mereka.


Waktu sekarang sudah menunjukkan pukul 10 malam, para tamu juga sudah mulai pergi. Pertanda bahwa acara selesai sampai akhir. Seina dan Kayla sudah pergi dari sejak tadi. Sedangkan oma, Teri, dan Arfan baru saja pergi meninggalkan gedung itu. Sekarang tersisa hanya ada Arfan dan Resa.


"Sayang, apa aku boleh memanggil seperti itu?"


"Tentu, kita kan sudah bertunangan. Ayo kita pergi!" ucap Arfan.


***


Di taman


"Pak saya pesan baksonya satu."


"Iya mbak."


Seina menghabiskan waktunya untuk menenangkan diri di taman. Saat ini ia ingin sendirian, makanya Kayla tidak terlihat.


Seina menunggu baksonya datang sambil mengecek ponselnya. Ia berharap Arfan menghubunginya dan berkata jika sedang mencarinya. Nanarnya saat ini berkaca-kaca.


Tidak, sudah sejak kemarin lusa ia tidak menghubungiku. Ia tidak akan menghubungiku lagi.


"Ini mbak baksonya."

__ADS_1


"Terimakasih pak."


Seina yang sudah mendapatkan baksonya segera makan. Ia makan dengan tidak merasakan kenikmatan. Ia menambahkan sambal beberapa sendok. Itu ingin ia lakukan supaya fokusnya pada rasa pedas bukan rasa sakit di hatinya. Setelah selesai memakan, lalu Seina membayar. Kemudian ia berjalan lagi di area taman yang lain.


Di saat ia mulai jalan dengan beberapa langkah ia menemukan penjual arum manis. Ternyata usahanya untuk menghilangkan kepedihan hatinya sia-sia. Niat hati kepedasan demi kepedihannya hilang, malah muncul lagi ketika melihat arum manis itu. Seina selama di taman itu hanya mengenang masa indah bersama Arfan saat pertama kali berkencan.


Seina yang menyadari jika selama di taman, ia selalu mengingat Arfan akhirnya pergi. Ia memutuskan untuk segera pulang. Lebih baik aku pulang sekarang.


***


Di kantor


Pengumuman semua, ini ada undangan untuk kalian. Pak Arfan mengundang kita ke acara pernikahannya besok lusa. Orang itu adalah Robby, ia adalah salah satu karyawan senior di sini. Pak Robby membagikan undangan untuk semua yang ada di ruangan itu.


Seina yang mendapat segera membuangnya. Robby yang melihat Seina kemudian bereaksksi. "Ada apa Sein, kenapa kamu buang?"


.


"Ee.. tidak pak, saya membuangnya karena nanti malah berserakan di meja saya campur jadi satu dengan pekerjaan. Saya suka kebersihan pak. Lagipula saya kan sudah mendengar dari pak Robby bahwa acaranya akan dilaksanakan besok lusa."


Pak Robby yang mendengar alasan Seina hanya diam. Ia tidak tau jika yang membuang undangan itu adalah istri dari bosnya. Semua orang di kantor memang belum ada yang tau mengenai status Seina sebagai istri Arfan, karena memang waktu itu dirahasiakan. Yang mengetahui hanya Riko, Kayla dan keluarga saja.


Kenapa cepat sekali menikah, mereka kan baru saja kemarin bertunangan.


"Hai semuanya, apa kalian sudah mendapatkan undangan?"


Resa sudah tiba di tempat duduknya.


"Sudah Res." jawab salah satu karyawan yang lain.


"Oh ya kalian harus tau, mungkin besok adalah hari terakhirmu bekerja. Karena sebentar aku akan menjadi istri pak Arfan. Jadi tidak perlu capek bekerja lagi." ia mengatakan dengan angkuh.


Semua yang mendengar hanya diam. Tak berlangsung lama menatap Resa, lalu mata mereka kembali mulai fokus dengan pekerjaan. Sementara Resa masih dengan gerakan sombongnya, ia duduk bersilang dengan berbicara dalam hatinya. Ia sambil melirik sedikit ke arah seseorang.


Aku tau perasaanmu sekarang pasti sedang campur aduk. Maaf , sebenarnya aku sudah mengetahui lebih dulu jika kamu sudah menjadi istri sah Arfan. Tapi bagaimana lagi, kesempatan tidak datang dua kali kan. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan apa yang aku mau.

__ADS_1


__ADS_2