Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 30 Double date


__ADS_3

*** Pagi hari.


"Selamat pagi."ucap oma.


Jawaban serempak dilontarkan oleh semua orang yang ada di ruang makan.


"Kak , bagaimana kalau nanti malam kita jalan?"


"Aku sibuk, kamu saja dengan Teri."


"Iya aku memang pasti bersama Teri, maksudnya nanti kita berempat perginya. Aku dengan Teri, kak Arfan dengan Seina."


"Apa?, aku tetap tidak bisa."


"Ayolah kak, sekali-kali kita double date. Iya kan Sein." ucap Teri.


Seina hanya tersenyum sadja.


"Bagaimana dengamu, apa kamu bisa?" tanya Arfan dengan sedikit keraguan.


"Boleh, aku juga sudah lama tidak jalan-jalan." balas Seina.


***


Malam harinya


Aku harus menggunakan baju apa ya?, hari ini temanya dating, jadi aku harus menggunakan yang cerah. Oke, warna merah ini sepertinya cocok.


Seina menyiapkan bajunya.


Satu jam kemudian semua sudah siap berangkat.


"Ayo gas kak." ucap Teri.


Mereka kemudian berangkat menggunakan kendaraan masing-masing.


"Apa ya yang mereka bicarakan saat ini? "


"Ya pasti tentang merekalah." balas Arkan kepada Teri.


"Kamu merasa tidak, mereka itu sebenarnya sudah saling menyimpan rasa, tapi mereka belum bisa mengungkapkan satu sama lain."


"Iya biasalah, kak Arfan merasa gengsi pastinya. Aku sudah hafal dengan kak Arfan. Sejak dulu masih remaja, ia sulit menemukan pasangan. Dulu kak Vania saja adalah satu-satunya wanita yang beruntung bisa mendapat pengakuan cinta dari kak Arfan."


"Ouhh, jadi kak Arfan sesulit itu untuk mengakui cinta, tergantung siapa wanitanya."


"Yap, benar sekali Teri ku." Arkan berkata dengan senyum sambil memencet hidung Teri.


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai.


"Kak kami mau jalan dulu ya." Arkan pamit kepada kakaknya.


Sekarang hanya mereka berdua. Arkan bingung bagaimana memulai duluan. Apa yang harus aku lakukan. Oke tenang, aku harus mengingat seperti apa yang kulakukan bersama Vania dulu. Oh tidak, untuk memulai bagaimana ya?, oke aku akan bertanya seseorang.


Rik, bagaimana saat kita berkencan, bagaimana cara kita memulai duluan?, tolong jelaskan kepadaku. kirim ke Riko.


Maaf Pak, saya belum pernah melakukan kencan dengan siapapun. Jadi saya tidak tau prosedurnya. Dari Riko kepada Arfan.


Ternyata Arfan bertanya kepada orang yang salah. Arfan masih mencari bantuan seseorang di dalam otaknya. Ee... siapa lagi ya, oh ya Arkan. Eh tapi tidak, aku gengsi jika harus bertanya kepadanya. Bisa-bisa seminggu kedepan aku akan terus diledeknya.


Seina yang sudah terlalu lama menunggu pun membuka suara.


"Kita mau kemana pak?"

__ADS_1


"Ke penjual itu bagaimana?"


"Boleh."


Setelah sampai di tempat. "Pak pesan baksonya dia ya."


"Baik pak." ucap tukang bakso.


"Seina udaranya sangat sejuk ya malam ini?" begitu norak kalimatnya.


"Iya pak, sangat segar."


"Apa kamu tidak dingin?" berharap Seina akan mengucapkan dingin.


"Tidak pak." ucap Seina.


Yah, padahal Arfan sudah menyiapkan jaketnya untuk diberikan kepada Seina. Ternyata tidak semudah seperti di film- film romantis ya.


Mereka saat ini sedang menikmati bakso hangat yang sangat menggairahkan. Seina dan Arfan makan dengan sangat lahap.


"Apa kamu mau nambah?" ucap Arfan yang melihat Seina mengorek isi mangkoknya hingga tidak ada sisa.


Wanita ini memang tidak ada jaimnya ya. Di depan seorang pria yang saat ini sedang mengencaninya, ia memakan bakso dengan rakus sampai habis.


"Pak itu ada arum manis, aku ingin membelinya."


Arfan kemudian hanya mengikuti keinginan Seina.


"Sein ayo kita ke tempat duduk itu, aku ingin bicara sesuatu kepadamu."


"Oke pak."


Setelah sampai di tempat duduk yang nyaman, mereka kemudian saling berdekatan. Melihat tempat duduk yang berukuran kecil tak memberi jarak jauh kepada mereka.


"Sein, malam ini kamu suka tidak? " Arfan seperti bertanya dengan anak kecil.


"Apa kamu berencana ingin kemari lagi?"


"Pastinya pak."


"Dengan siapa kamu akan ke sini lagi?"


"Dengan orang."


Apa sih ini, pembicaraannya kesana kemari tidak jelas arahnya. Arfan lah yang memulai, jadi Seina ikut-ikutan deh.


Apa yang kukatakan, kenapa semakin tidak jelas begini. Oh ya aku mulai mengingatnya. Ini adalah bagian inti.


"Langsung saja Sein, aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu, apa kamu juga mencintaiku? " spontan tapi terkesan sangat datar dan terasa gambar tidak ada bumbu sama sekali di dalamnya.


"Apa? pak Arfan mencintaiku?, aku sebenarnya... tidak mencintai pak Arfan... "


"Oke Sein aku mengerti."


"Aku tidak mencintai pak Arfan dulu, tapi sekarang iya. Aku juga mencintai pak Arfan."


Seina hampir membuat copot jantungnya Arfan.


"Benarkah?, kamu serius Seina?"


"Tidak pak, saya bahkan limarius."


Arfan yang mendengar balasan Seina begitu senang, begitupun juga Seina.

__ADS_1


Akhirnya aku mendapatkan cintaku. Tuhan terimakasih atas pemberisnmu ini.


Seina tidak menyangka, jika Arfan mencintainya. Dulu Seina tidak pernah sedikit pun bermimpi dicintai Arfan. Dan sekarang mimpi itu belum ada di tidurnya, namun sudah ada di kehidupan nyatanya saat ini.


"Lihatlah bintang itu, bersinar seperti matamu."


"Sudah mulai ya pak gombalnya."


Arfan memang benar-benar memerankan sebagai pria yang sebenarnya.


Saat itu menunjukkan malam sudah hampir larut mereka berdua memutuskan untuk pulang. Sedangkan Arkan dan Teri sudah lebih dulu pulang, karena dicari Alea.


Sesampainya di rumah Arfan dan Seina menuju kamar.


"Pak saya tidur dulu ya."


"Iya."


"Eee... Seina apa aku boleh tidur bersamamu?"


"Boleh silakan pak."


Seina kulitnya merasa berdesir setelah mendengar pertanyaan dari Arfan.


Ada apa denganmu Seina?, kamu sudah mengungkapkan perasaanmu terhadapnya. Apa lagi yang ditunggu. Cepat lakukan yang terbaik.


Tiba-tiba tangan Arfan sudah memegang pinggang Seina. Malam itu mereka pertama kali melakukan hubungan yang sesungguhnya. Seina dan Arfan saling menatap dengan penuh cinta.


"Aku mencintaimu Seina."


"Aku juga mencintaimu pak Arfan."


Mereka melakukan hubungan suami istri dengan penuh ketenangan. Malam itu adalah malam yang indah bagi mereka berdua.


***


Di kantor


"Seina hari ini kita pulang bersama ya." ucap Arfan.


"Iya pak." Seina menjawab dengan wajah tersipu malu di dekat Kayla.


"Ciee, ciee ada yang baper nih."


"Apa sih Kay, kamu jangan bicara keras-keras." cegah Seina kepada Kayla.


Waktu pulang pun telah tiba, Arfan dan Seina pulang bersama.


"Sein, bisa tolong ambilkan tisu!" pinta Arfan kepada Seina.


Seina pun mengambilkan dan memberikan kepada Arfan.


"Tidak perlu pak biar saya saja yang mengelapnya."


Arfan yang mendengar pun merasa senang hatinya, mendapat perhatian dari Seina.


Seina kemudian mengelap keringat di dahi Arfan.


Setelah itu Arfan mulai fokus lagi dengan setirnya. Tiba-tiba saat ingin berbelok, ada seorang sepeda motor yang menyalipnya dengan kasar. Karena pengendara motor tidak memperhatikan jarak dengan mobil, motor itu nyaris tersenggol mobil yang mereka tumpangi. Karena harus menghindari motor, akibatnya mobil mereka kehilangan kendali. Tiba-tiba mobil yang ditumpangi Arfan dan Seina menabrak pembatas jalan.


Brukkkkkkkk.....


Kelihatannya keadaan mereka parah.

__ADS_1


___________________________Bersambung_________________________


Simak kelanjutannya di next bab ya. Jangan lupa dukung terus karya saya ya, biar semakin semangat nulisnya. Semoga kalian semua diberi kesehatan dan dilancarkan rezekinya. Salam dari author: Harpena1


__ADS_2