
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Seina dan Arfan masih berada di rumah keluarga Teri. Mereka belum pulang, karena masih menunggu semua tamu pergi.
"Pak saya mau ijin pulang dulu, karena saya harus mampir ke suatu tempat." pinta ijin Seina kepada Arfan.
"Iya, kamu boleh pulang sekarang." balas Arfan.
Setelah mendapat sinyal diperbolehkan, Seina kemudian pergi dengan taksi.
Semoga pak Rey tidak kesal, karena terlalu lama menunggu. Sekarang sudah pukul delapan kurang seperempat.
Saat tepat pukul 8 malam, akhirnya Seina sampai di kafe harmoni.
"Maaf pak. Saya tadi masih ada acara keluarga. Apa pak Rey sudah menunggu dari tadi?" tanya Seina.
"Tidak, tidak masalah Seina." balas pak Rey.
"Langsung saja pak, saya ingin menemui pak Rey, karena saya ingin mengajak kerja sama." langsung saja Seina berkata.
"Iya, dalam bentuk apa?" tanya pak Rey penasaran.
"Kerja sama yang saling menguntungkan." ucap Seina.
Pak Rey yang belum jelas dengan rasa penasarannya pun kembali mengatakan sesuatu. "Silakan katakan dengan jelas Seina! "
"Jadi saya ingin pak Rey mengambil untung dari kerugian perusahaan ARFU. Saya ingin perusahaan ARFU bangkrut." ucapan Seina yang penuh dengan amarah di hatinya.
"Apa?, kau kan pegawai di perusahaan ARFU, kenapa kau ingin menggulingkan jabatan Arfan?" tanya kembali pak Rey.
"Pak Rey tidak perlu tahu. Saya hanya fokus dengan hasil kerja sama ini, bukan menyampaikan motifnya karena apa." balas Seina dengan cepat.
"Oke baik, aku setuju dengan kerja sama ini. Tetapi apa rencana yang sudah kamu pikirkan?" pak Rey berkata dengan serius.
"Saya ingin pak Rey membuat penyebab isu tentang keburukan perusahaan ARFU. Pertama itu, dan yang kedua nanti tugas saya untuk menyebarluaskan ke media sosial. Bagaimana?" Seina menjelaskan panjang lebar kepada pak Rey.
"Oke rencana bagus, tapi apa yang bisa kudapatkan nanti?" ucap pak Rey.
"Pak Rey bisa mendapat nama baik dari lemahnya perusahaan ARFU." ujar Seina dengan yakin.
"Baik, aku paham. Setelah itu, ada banyak perusahaan yang lebih memilih bekerja sama dengan perusahaanku kan." balas pak Rey.
"Tepat sekali." Seina berkata dengan rasa puas, tanpa perlu menjelaskan lagi.
Setelah saling menyetujui kerja sama itu, pak Rey kemudian meninggalkan kafe tersebut. Sedangkan Seina masih disana.
Di mana pak Hendra?, apa dia tidak kesini?
Seina celingak-celinguk tidak menemukan orang yang ia cari.
__ADS_1
"Permisi mbak, apa pak Hendra tidak ke sini hari ini? " tanya Seina kepada salah satu pelayan.
"Oh pak Hendra. Ia berkata kemarin jika hari ini ia sedang sibuk, makanya tidak kemari. jawab pelayan tersebut.
" Oh, ya sudah kalau begitu, terimakasih ya kak atas informasinya." permintaan terimakasih oleh Seina ditujukan kepada pelayan wanita itu.
"Iya, sama-sama mbak." pelayan tersebut membalas, lalu pergi.
Setelah mengetahui pak Hendra tidak datang, Seina lalu pergi.
Seorang pria yang sedari tadi mengamati Seina, ikut menyusul Seina pergi. Pria itu memakai jas dengan rapi. Pria itu kemudian menaiki mobil miliknya. Sedangkan Seina menaiki taksi.
***
Di rumah keluarga Dirgantara.
Oma, Alea, Teri , dan Arfan sedang berkumpul bersama.
"Assalamu'alaikum." ucap Seina saat masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam." dijawab oleh semua orang yang berkumpul di ruang keluarga.
"Kak Seina, kenapa tidak pulang bersamaku tadi? " tanya Alea.
Seina pun menjawab dengan cepat. " Kak Seina tadi masih ada kepentingan sayang, jadi harus pergi lebih dulu. Gak papa kan, sekarang kan kita sudah bersama." ujar Seina dengan manis kepada Alea.
"Boleh, Seina setiap hari juga boleh." jawab Seina.
Kalau setiap hari Alea bersama mereka, mana bisa aku segera mendapat cucu. Aku harus memberi pengertian kepada Alea. Aku akan mempengaruhinya mulai besok.
Oma yang mendengar hanya tersenyum, tapi dengan pikiran tersembunyi di otaknya.
"Ya sudah, sekarang kamu makan dulu Seina!"perintah oma.
" Tidak oma, Seina sekarang ingin istirahat saja. Karena tadi kebetulan Seina sudah makan di luar." kata Seina.
Semua orang yang tadi berkumpul, sekarang sudah kembali ke kamar mereka untuk tidur.
***
Di kamar
"Alea, kak Seina mau ke kamar mandi dulu ya. Kak Seina mau mandi. " ujar Seina.
"Iya kak." Alea menjawab dengan keadaan matanya sudah mengantuk.
Saat itu Arfan yang menemani Alea tidur. Tiba-tiba Alea bangun.
__ADS_1
"Kebelet pipis." Alea berkata kepada Arfan.
Apa anak ini tidak pakai pampers ya?
Arfan kemudian mengecek celana Alea, ternyata benar yang ia pertanyakan. Alea tidak memakai pampers.
"Alea juga mau e#g paman." kata Alea.
Aduh bagaimana ini, jika aku bawa ke kamar mandi bawah terlalu lama. Nanti bisa-bisa Alea keluar duluan. Kalau ke kamar mandi yang lain, nanti mengganggu tidur mereka. Kalau di sini masih ada Seina.
Setelah beberapa pilihan yang Arfan pikirkan, kemudian Arfan langsung meminta Seina cepat keluar.
"Cepat bawa Alea masuk!" perintah Seina kepada Arfan.
Saat ini, Seina masih dalam keadaan terlilit handuk di tubuhnya. Ia tadi terburu-buru, ketika tahu Alea ingin buang air besar.
Seksi sekali.
Ada apa denganmu Arfan?
Beberapa saat kemudian, akhirnya Alea menyelesaikannya di kamar mandi. Arfan terlihat sangat telaten membersihkan Alea. Alea dan Arfan kemudian keluar dari kamar mandi.
Seina secepat kilat berlari dengan sekuat tenaga, untuk segera masuk ke kamar mandi.
Apa yang kulakukan, kenapa aku belum berpakaian?, pasti pak Arfan berpikiran macam-macam terhadapku.
Seina berkaca sambil menggerutu tentang penampilannya di depan Alea dan Arfan tadi.
Setelah penuh dengan penyesalan, Alea kemudian berhasil memakai pakaian dengan baik. Ia kemudian keluar dari kamar mandi.
Alea terlelap di pangkuan Arfan, sedangkan Arfan masih terjaga.
"Pak saya saja yang tidur di sofa, pak Arfan dan Alea bisa tidur di ranjang." ucap Seina.
"Iya." jawab Arfan dengan singkat.
Malam itu Seina beruntung, karena Alea sudah tidur lebih dulu. Ia aman tidak tidur seranjang dengan Arfan.
Syukurlah, hari ini adalah hariku. Aku sangat berharap di hari selanjutnya, akan diberi kelancaran seperti tadi.
Seina yang merasa aman, kemudian jatuh tertidur.
Arfan masih terjaga dengan pikirannya.
Dia hari ini merasa bahagia, biarkan sesukanya. Aku berharap rencananya akan berhasil, tapi di sisi lain, aku harus melindungi perusahaanku. Aku akan tetap mempertahankan perusahaan ARFU. Aku harus mencari cara agar tidak mematahkan usahanya, tapi juga tidak membahayakan perusahaanku. Besok aku akan bicarakan ini dengan Riko. Lebih baik sekarang aku tidur.
Arfan yang mengetahui rencana Seina, berusaha memikirkan jalan keluar yang terbaik.
__ADS_1
Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya ia bisa mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya. Semua sudah berhasil tidur di malam itu.