
"Sayang apa kamu tidak kesepian?"
"Apa yang kamu tanyakan, bukankah ada kita bersama Reyna,"
"Maksudnya bukan begitu, sekarang kan Reyna sudah menginjak enam tahun, apa dia tidak kesepian bermain sendiri,"
"Yang jelas kalau mengatakan, lihat Reyna semakin bingung,"
"Reyna sayang apa kamu tidak menginginkan adik?"
"Reyna mau adik, mau adik," Penuh dengan semangat.
Seina kaget dengan apa yang dikatakan suaminya.
"Bagaimana sayang, apa kamu mau hamil lagi?" Bertanya sambil tersenyum kepada istrinya.
Seina hanya termangu diam.
"Mama Seina mau adik,"
"Iya sayang, nanti ya, yang sabar,"
"Berarti kamu mau," Tanya Arfan.
"Iya aku bersedia, tapi ada syaratnya,"
"Apa syaratnya?"
"Syaratnya kamu harus belajar setiap hari minggu mengasuh Reyna,"
"Oke aku siap," Arfan berkata dengan yakin.
"Bagus sayang, ini adalah bentuk simulasi untuk kamu mengurus Reyna, ketika aku sibuk mengurus bayi mungil kita yang kedua nanti.
***
"Awas," Memegang satu tangan Kayla.
Hari ini jalanan sangat ramai, Kayla yang baru saja melangkah setelah keluar dari taksi tadi langsung berjalan tanpa menengok kanan kiri. Tiba-tiba ada sepeda motor melintas dengan kencang akan menyerempet tubuh Kayla. Begitulah secepat kilat Riko yang mengetahui Kayla dalam bahaya segera meraih tangan Kayla.
"Terimakasih pak, saya tidak tau apa yang akan terjadi pada saya jika pak Riko tidak menolong saya."
"Iya sama-sama,"
Kayla tersenyum menatap pak Riko. Mereka lalu berjalan menuju kantor bersama.
"Oh ya apa nanti setelah pulang dari kantor kamu ada acara?"
"Tidak pak,"
"Apa kamu mau ikut dengan saya ke sebuah perpustakaan,"
"Perpustakaan"
"Kenapa, kamu tidak bisa ya?"
Perpustakaan, aku kan tidak pernah ke sana, dan bahkan aku tidak suka membaca, apa aku bisa mengimbangi pak Riko.
"Memang di sana kita melakukan apa saja pak, apa buku yang harus dibeli,"
Pak Riko sedikit tertawa mendengar perkataan Kayla.
Sepertinya dia tidak pernah ke perpustakaan,
"Kenapa pak, apa ada yang salah?"
"Tidak, hanya saja kamu lucu, kita ke perpustakaan hanya membaca dan meminjam saja, bukannya membeli,"
Pak Riko menjelaskan dengan detail, sedangkan Kayla hanya manggut-manggut saja.
***
__ADS_1
"Sekarang waktunya kamu membangunkan Reyna, ayo sayang,"
Arfan hanya mengikuti apa yang dikatakan Seina..
"Reyna sayang ayo bangun nak,"
Kebetulan Reyna adalah anak yang baik dan penurut, setelah mendengar suara papanya Reyna langsung bangun.
E setelah Reyna bangun aku harus memintanya untuk segera mandi dan setelahnya aku harus menyiapkan sarapan Reyna.
Setelah Arfan melihat putrinya masuk ke kamar mandi, segera ia menuju ke dapur sambil melihat catatan di kertas yang dibawanya.
Dengan penuh kebingungan Arfan segera melihat resep yang dituliskan istrinya. Pertama Arfan mengambil satu butir telur dan kemudian menggorengnya di dalam wajan, sambil menunggu telur ia mengambil dia helai roti tawar, setelah itu memotong mentimun dan menyiapkan selada. Tiba-tiba hidungnya mencium sesuatu seperti aroma hangus.
Oh Tuhan, kenapa bisa menghitam seperti ini telurnya. Menepuk jidat sambil menyayangkan telur yang digorengnya.
"Papa,"
"Iya,"
"Reyna lapar,"
"Sebentar sayang,"
Arfan kemudian mengganti telur yang gosong tadi dengan menggoreng kembali menggunakan telur yang baru.
Beberapa menit kemudian sarapan Reyna sudah siap dihidangkan.
"Sarapan sudah datang," Arfan menghampiri putrinya sambil berekspresi ceria.
"Ye sarapan Reyna sudah datang,"
"Iya ini sayang, papa benar-benar menyiapkan ini untuk kamu, pagi ini kamu papa buatkan sandwich isi telur kesukaan kamu nak,"
"Iya pa Reyna sangat menyukai sandwich,"
"Oke sekarang boleh kamu makan,"
"Uekk, asin pa,"
"Apa," Bagaimana bisa asin, tadi sepertinya aku memberi garam secukupnya.
"Reyna mau susu saja pa,"
"Baik tunggu sebentar ya,"
Reyna lalu menunggu Arfan dengan penuh kesabaran.
Beberapa saat kemudian Arfan sudah siap dengan susu Reyna, ia membawanya dengan sebuah nampan.
"Ini silakan tuan putri," Ucap Arfan.
"Papa susunya terlalu manis Reyna tidak suka,"
"Oke sekarang papa panggilkan mama ya,"
"Mama mama," Arfan berteriak dengan lantang.
Seina lalu dengan cepat mucul menghampiri putrinya dan suaminya.
"Ada apa sayang?" Tanya Seina langsung.
"Aku tidak berhasil membuatkan sarapan dan susu untuk Seina, "
"Iya terus,"
"Kamu tidak marah?"
"Tidak, memangnya apa yang perlu dibuat marah, kamu kan masih belajar."
"Terimakasih sayang, nanti aku ajari lagi tentang cara membuat ini yang benar.
__ADS_1
Ternyata sulit ya menjadi seorang ibu rumah tangga, Seina kamu memang hebat,
" Iya pasti sayang,"
"Mama Reyna lapar," Reyna menyela percakapan antara Arfan dengan mamanya.
" Iya sayang, mama akan buatkan sekarang untuk kamu,"
Reyna merasa lebih baik mendengar janji mamanya, setelah mengalami kegagalan di sarapan kali ini.
***
Arfan sekarang berbincang empat mata dengan istrinya.
"Sayang yang sabar ya, maaf jika aku belum berhasil."
"It's Okey sayang, besok bisa dilakukan lagi."
Mereka berdua terlihat romantis di dapur, Seina sibuk mengaduk susu, sementara Arfan sibuk memperhatikan apa yang dilakukan sang istri.
"Besok-besok hati-hati jangan gosong lagi ya pa," Ucap Reyna kepada papa dan mamanya.
"Iya Reyna siap," Ucap Arfan penuh dilema,"
***
"Ayo masuk," Ucap pak Riko kepada Kayla.
"Iya pak," Ia kemudian mengikuti arahan pak Riko untuk duduk.
Pak Riko lalu berjalan menuju area banyaknya buku, "Sedang mencari apa pak?"
"Saya ingin mencari dulu, jika ada yang cocok saya akan mengambilnya," Kayla tiba-tiba mengikuti keberadaan pak Riko.
"Ini bagus pak kelihatannya," Menyodorkan sebuah buku untuk pak Riko.
"Cukup bagus pilihan mu?"
"Ya sudah saya akan membaca ini, silakan kamu mencari untukmu,"
Kayla kemudian menelusuri setiap rak yang berisi banyak buku.
"Ini aku sudah dapat,"
"Baik ayo kita baca di sana," Menunjuk ke sebuah meja kursi yang masih kosong.
"Aaah,"
"Ada apa?"
"Kecoa," Kayla langsung berhambur dari tempatnya.
Pak Riko segera menyingkirkan kecoa itu dari Kayla yang terlihat sedang ketakutan.
Mereka berdua kemudian membaca buku dengan penuh ketenangan tanpa ada yang mengganggu,
"Krukk.. krukkk," Di antara keheningan itu, suara terdengar dari perut Kayla.
"Ayo cepat kembalikan, dan kita pergi,"
"Kenapa memangnya?"
Tanpa banyak bicara pak Riko segera meminta Kayla untuk mengikutinya,
Mau kemana?, kenapa tiba-tiba pak Riko menghentikan ku ketika membaca?
Pak Riko ternyata mengajak Kayla ke sebuah restoran tak jauh dari perpustakaan yang ia datangi tadi, cukup beberapa langkah mereka dengan mudah sampai di restoran.
Ternyata pak Riko tau apa yang aku rasakan, Tersenyum dengan hati yang berbunga-bunga.
Pak Riko tiba-tiba perhatian kepada Kayla, apa yang sebenarnya ia rasakan, apa ia hanya sekedar mengagumi tanpa mencintai?"
__ADS_1