Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 19 Kesempatan


__ADS_3

"Alea sayang, ini mainan untukmu?" Seina membuyarkan kesedihan Alea yang meratapi mamanya.


"Yeyy... aku dapat boneka, terimakasih kak Seina" Alea terlihat begitu bahagia disamping kesedihan dia tadi.


Kasihan Alea, dengan umur yang masih kecil, ia harus menerima kepahitan dalam hidupnya.


Seina mengelus rambut Alea dengan halus.


Sementara Arfan yang sudah mengetahui apa yang terjadi, segera menghubungi adiknya. Tetapi, sepertinya Arkan tidak mengangkatnya.


"Seina, kemarilah! " tiba-tiba Arfan memanggil Seina.


"Iya ada apa pak?" tanya Seina pada Arfan.


"Sekarang keluarga ini masih dalam keadaan kurang baik, saya mohon kamu untuk mengerti. Oma juga pasti akan berlarut dengan kesedihan. Sebaiknya kita undur rencana kita untuk pindah ke apartemen." Arfan menjelaskan pada Seina.


Seina yang ikut dalam kesedihan di rumah ini pun menyetujuinya. Ia tidak tega meninggalkan oma dan Alea dalam situasi ini. Maka dari itu, Seina memutuskan untuk masih tinggal di sini.


***


Malam pun datang. Angin di luar membersamai hujan yang sedang turun dengan deras. Rumah ini sangat hening. Tidak ada siapapun yang masih di sekitar ruang tengah. Semua orang sudah kembali ke kamar masing-masing, setelah makan malam tadi.


Di ruang tengah, hanya ada Seina, Alea, dan mbak Ningsih.


"Kak Seina, Alea ingin tidur bersama dengan paman Arfan juga." pinta Alea tiba-tiba.


Mbak Ningsih yang mendengar pun seakan tak enak, ia kemudian berusaha membujuk Alea, tapi gagal.


"Ya sudah, tidak apa-apa mbak, biarkan Alea tidur dengan saya malam ini." ujar Seina kepada mbak Ningsih.


"Yeee, Alea bisa tidur bersama kak Seina dan paman Arfan." Alea merasa sangat bahagia.


Kemudian Alea dan Seina menuju kamar.


Sudah cukup, apa yang kulakukan beberapa hari ini. Sekarang aku akan fokus dengan tujuanku. Semoga ini bisa kujadikan kesempatan untuk lebih dekat dengan pak Arfan. Aku akan mencari tahu, siapa saja perusahaan besar yang bekerja sama dengan perusahaan ARFU. Setelah itu, aku akan membuat laporan palsu tentang kualitas produksi. Lalu aku akan sebarkan ke media sosial, untuk membuat kerugian besar dari perusahaan ARFU.


Setelah tiba di kamar, Alea segera memberitahu pamannya. "Paman Alea ingin tidur di sini."


"Benarkah? " jawab Arfan.


"Iya." Alea menjawab dengan kelucuannya.


"Ya sudah, sekarang Alea tidur ya. Lihatlah sekarang sudah pukul sembilan malam. Ayo kita tidur! " ajak Arfan.


Alea kemudian mulai membaringkan tubuhnya. Tak sampai di situ, Alea tiba-tiba ingin dipeluk Arfan dan Seina. "Alea ingin tidur bersama paman Arfan dan kak Seina." pinta Alea.

__ADS_1


Seina yang tahu keinginan Alea merasa canggung, jika harus seranjang dengan Arfan. Tapi itu harus ia lakukan, demi tujuannya memikat Arfan.


Tanpa basa- basi Seina menuju tempat tidur, kemudian Alea dipeluknya. Sedangkan Arfan masih berada di sofa.


"Paman ke sini, aku pengen dipeluk paman juga." rengek Alea.


deg.


"Iyaa."Arfan terpaksa menyetujuinya.


Dari kejauhan mereka seperti keluarga yang harmonis. Terlihat Alea senang dengan pelukan Seina dan Arfan.


Ketika memeluk Alea, tidak sengaja tangan Arfan menyentuh tangan Seina. Lalu, secepat kilat Arfan menjauhinya.


Saat ini mereka masih dalam posisi seperti tadi, dari satu jam yang lalu. Dan Alea akhirnya tidur juga. Arfan yang mengetahui Alea sudah tertidur, segera pindah ke sofa lagi.


Malam itu, adalah malam yang mengesankan. Sepasang suami-istri bersama dalam satu ranjang, meskipun ada penghalang yaitu Alea, tapi sudah menunjukkan perkembangan.


***


Keesokan harinya


"Oma... oma, oma bangun." teriak Seina.


Setelah beberapa saat, Seina kemudian menemukan Arfan.


"Pak, tolong" Seina mengucap dengan panik.


"Apa, tolong apa?" ujar Arfan.


"Oma pak, oma pingsan." Seina akhirnya berhasil menuntaskan ucapannya.


Arfan yang baru saja mengetahui, segera mengikuti arah Seina.


Sesampainya, Arfan langsung menggendong omanya, kemudian membawanya untuk pergi ke rumah sakit.


Saat tiba di rumah sakit, oma segera mendapat penanganan pertama dari dokter. Arfan merasa pikirannya kacau. Bagaimana tidak, orang yang berharga dalam hidupnya, mengalami kesakitan seperti itu.


"Bagaimana keadaan oma saya dok?" tanya Arfan yang mengetahui dokter baru saja keluar dari ruangan.


"Keadaannya baik, hanya saja beliau butuh perawatan intens. Sepertinya beliau telat makan, sehingga menyebabkan asam lambungnya naik." ujar dokter tersebut.


"Baik, terimakasih dok." balas Arfan.


"Pak, sepertinya oma harus ada yang menemani, agar tidak sampai terjadi seperti tadi lagi." ucap Seina kepada Arfan.

__ADS_1


"Iya, benar. Aku harus mencari orang untuk bisa menjaga oma." kata Arfan.


Setelah percakapan itu, Seina dan Arfan duduk bersama. Mereka masih menunggu ijin dari dokter untuk menemui oma.


Di sela waktu itu, Arfan menelepon seseorang.


"Halo, dimana kamu?" ucap Arfan.


"Oma sekarang berada di rumah sakit. Cepat datang kemari sekarang! "Arfan mengatakan dengan nada sedih.


" Pak, bagaimana jika kita mencari makan! " pinta Sejna.


"Kamu saja sendiri, aku akan tetap di sini menunggu oma." kata Arfan.


"Ya sudah pak, kalau begitu saya akan pergi sendiri." ujar Seina.


***


Setelah menunggu selama dua jam, akhirnya dokter mengijinkan Arfan masuk menemui omanya.


"Arfan, oma ingin agar kamu segera memiliki seorang anak. Hidup oma tidak tenang, jika masih melihatmu belum memiliki keturunan." oma tiba-tiba berbicara seperti itu.


Sedangkan Arfan membalasnya dengan lembut. "Iya oma, pasti Arfan akan memiliki keturunan. Tapi kan kami baru saja menikah. Jadi oma harus bersabar."


"Bagaimana bisa kamu memiliki keturunan, jika kamu dan Seina tidur terpisah. Oma tahu semuanya, kamu menikah dengan Sina karena, oma mendesakmu untuk segera menikah. Ini semua salah oma, seharusnya oma tidak terburu-buru memaksamu menikah." oma berkata yang ia ketahui.


"Tidak apa-apa oma, semuanya sudah terjadi. Tidak perlu disesali, dan yang penting tak perlu dipikirkan. Arfan mohon oma untuk selalu sehat." ujar Arfan sambil meneteskan air mata.


Seina yang berada dari balik pintu, merasa sedih dengan perasaan oma dan pak Arfan. Ia bisa merasakan sendiri keadaan itu, ketika kehilangan neneknya dan juga ayahnya.


Pak Arfan akan mengorbankan segalanya untuk oma, ia sangat menyayangi omanya. Rasa sayangnya kepada oma bahkan lebih besar daripada kepada dirinya sendiri. Pak Arfan adalah orang yang tulus. Apa benar jika pak Arfan melakukannya. Ia bukan tipe yang mudah menyakiti orang lain.


"Sedang apa kamu disana?, masuklah! " kata Arfan kepada Seina.


Seina yang mendengar perintah Arfan segera masuk.


"Oma sedang tidur?" tanyanya kepada Arfan.


"Iya, jangan keras-keras mengatakannya." jelas Arfan.


"Iya pak." kata Seina dengan hati-hati.


"Oh ya pak, ini saya membelikan makanan untuk pak Arfan." ujar Seina, sambil memberi sebungkus makanan.


"Iya, terima kasih." Arfan menerimanya, kemudian memakan di tempat itu langsung.

__ADS_1


__ADS_2