
Ketika sampai di rumah. Semua orang telah menyambut kedatangan Arfan.
Aku merasa sangat asing dengan semua hal. Apa aku dulu tinggal di sini?
"Arfan." oma memeluk erat, setelah selama seminggu tidak bertemu dengan cucunya. Ia mengetahui keadaan cucunya dari Arkan bartu kemarin. Arkan berusaha membuat alasan untuk oma jika kakaknya ada pekerjaan di luar kota selama lima hari.
"Siapa anda?"
"Aku adalah omamu nak."
"Kenapa aku tidak mengingat apapun tentang kalian semua."
"Sudahlah kak, lebih baik sekarang kamu istirahat."
"Aku mulai mengingat sedikit sekarang. Kamu Arkan kan. Anda adalah oma saya. Lainnya aku tidak bisa mengingat."
Arfan beruntung tidak melupakan semuanya. Ia masih ingat dengan oma dan Arkan beberapa saat. Tapi sayang ia melupakan Seina.
Kamu tidak mengingatku. Baiklah.
Seina yang terlihat kecewa kemudian masuk ke dalamdalam kamar.
"Kenapa kamu di sini. Aku tidak mengenalmu, kenapa kamu masuk ke kamarku?" ucap Arfan kepada Seina.
"Saya ingin mengambil baju pak."
Bagaikan orang asing. Seina terpaksa harus keluar dari kamar itu. Ia membereskan semua barangnya untuk dipindah ke kamar tamu.
***
Di ruang makan.
"Mama, kenapa paman lupa denganku?"
"Tidak sayang, paman tidak melupakanmu. Sebentar lagi paman pasti akan mengingatmu kembali. Ia hanya butuh pulih untuk sementara waktu."
Alea yang mendengar perkataan ibunya merasa tidak puas. "Alea sedih paman seperti ini."
"Alea sayang ada mbak Ningsih. Hilangkan kesedihanmiu dengan melihat mbak. Lihatlah mbak Ningsih bawa apa?"
Alea kemudian mengarahkan matanya ke benda yang mbak Ningsih bawa.
"Apa itu mbak Ningsih?"
"Alat make up. Ayo kita merias wajah kita. Nanti kita akan dinilai mamamu. Siapa yang paling cantik make up nya itulah pemenangnya. Mau?"
"Mau, Alea mau... "
Alea yang sangat bersemangat kemudian mulai membubuhkan make up di wajahnya.
*** Di taman
"Seina oma tau kamu pasti sangat bersedih. Oma harap kamu harus bersabar."
"Iya oma."
Seina mendapat pelukan dari oma.
Di depan pintu terlihat Arfan berdiri melihat ke Arah Seina dan oma. Lalu ia menghampiri omanya. "Oma apa pembantu ini adalah orang yang spesial, kenapa oma sampai memeluknya?"
__ADS_1
"Apa yang kamu ucapkan, dia itu istrimu bukan pembantu. Coba kamu ingat lagi Arfan."
"Kepalaku sakit sekali." Arfan memegang kepalanya dengan satu tangan kanannya.
"Sudahlah oma, tidak perlu memaksanya untuk mengingatku. Pak Arfan akan kesakitan jika dipaksa mengingat sesuatu."
"E.. pembantu, tolong ambilkan sepatuku dan taruh di kamar. Aku akan segera pergi ke kantor." ucap Arfan.
"Arfan kamu itu masih sakit, kenapa kamu tidak istirahat saja."ujar oma.
" Tidak oma, aku sudah seminggu ini ijin. Aku harus bekerja mulai hari ini."
"Yasudah, kalau begitu kamu berangkatlah bersama Seina. Ia juga bekerja di kantor milikmu."
"Apa, aku pikir dia seorang pembantu di sini."
*** Di mobil.
"Maafkan aku ya, tadi aku kira kamu pembantu di rumahku. Terus kenapa kamu tinggal di rumahku?"
"Saya hanya menginap pak, kebetulan waktu pak Arfan di rumah sakit, saya ikut menjaga dan kemarin karena terlalu lelah saya diberi tawaran oleh oma untuk menginap."
"Tapi kenapa pakaianmu di kamarku?"
"Ee.. iya pak, pakaian itu saya salah menaruhnya, harusnya di kamar tamu, tapi ternyata saya taruh di kamar pak Arfan."
Seina mencari kalimat yang pas untuk mengatakannya pada Arfan.
"Oke, oh ya sudah berapa lama kamu bekerja di perusahaan saya."
"Sekitar enam bulan pak."
Sesampainya di kantor Arfan segera menuju ruangannya. Pak Riko segera menyambutnya.
"Pak apa keadaan anda sudah baik?"
"Sudah Rik, tenang saja. Resa mana?"
Resa, untuk apa pak Arfan menanyakannya?
>> Riwayat Resa
Resa adalah seorang wanita biasa yang pernah menjadi karyawan di perusahaan ARFU. Resa dulu adalah wanita yang baik dan jujur, tapi setelah kejadian itu dia menjadi wanita yang manipulatif dan licik.
***Flashback
Resa bekerja di perusahaan ARFU selama satu tahun. Setelah mulai memasuki bulan keenam, Resa mendapatkan musibah. Ia telah dikotori oleh satu karyawan milik perusahaan lain. Setelah itulah Resa berubah menjadi wanita yang licik, karena ia merasa sudah tidak ada gunanya menjadi orang baik. Peristiwa itu tidak ada yang mengetahui, selain hanya dirinya. Waktu demi waktu Resa masih tetap bekerja di perusahaan ARFU. Ia mengabdikan penuh dirinya di perusahaan ARFU. Lambat laun Resa berhasil menarik hati oma. Oma yang dulu sebelum Resa berubah pernah bertemu. Oma merasa kagum dengan kepribadiannya. Oleh karena itu, oma menjodohkan Afan dengan Resa. Arfan yang hanya menuruti omanya tak bisa menolak. Karena Arfan sendiri melihat Resa sebagai wanita yang baik. Dan tanggal pertunangan pun sudah ditentukan. Sebelum H - 1 bertunangan, Resa kepergok selingkuh dengan seseorang. Arfan sendiri yang mengetahuinya. Setelah itu Arfan langsung membatalkan pertunangannya dan mengeluarkannya dari perusahaan ARFU. Begitulah riwayatnya dengan Arfan. Maka dari itu, sekarang Arfan tiba-tiba mengingat nama Resa.
"Pak apa maksud pak Arfan, Resa sudah keluar dari perusahaan ini.
"Tidak, apa maksudmu?, Resa adalah karyawan di sini. Resa juga calon tunanganku." ucapan Arfan mengagetkan Riko.
Bagaimana ini, pak Arfan hanya mengingat kejadian masa lalu, dia tidak mengingat kejadian yang baru-baru ini.
"Tolong kamu hubungi Resa, dan minta dia datang besok ke kantor!" perintah Arfan dengan tegas.
"Baik pak."
Dengan perasaan yang bingung sekaligus terkejut, Riko keluar dari ruangan Arfan.
__ADS_1
*** Di rumah dirgantara
"Arfan kamu baru pulang, kenapa telat pulangnya?"
"Iya oma tadi ada rapat dadakan."
"Kalau begitu kamu mandi dulu, setelah itu ikut kami makan! "
"Iya oma."
Setelah beberapa menit, Arfan datang menuju meja makan.
"Alea sayang kenapa kamu cemberut?" Arfan mulai mengingat nama Alea.
"Paman Arfan sudah mengingatku?, yee."
Arfan hanya membalas Seina senyuman.
"Ter, dimana Arkan?, apa dia belum pulang?"
"Haa... "
"Apa? kenapa Ter?"
"Tidak kak, Teri hanya kaget saja. Arkan katanya masih lembur. Ia akan telat pulang.
Pak Arfan sudah mulai mengingat Alea dan Teri, semoga dia juga mengingatku.
Seina merasa senang karena perkembangan ingatan Arfan sudah mulai membaik. Tapi beberapa detik kemudian yang ia pikirkan dengan baik berubah menjadi bom baginya.
"Eeee kamu kenapa disini?, apa kamu belum kembali ke rumahmu?"
"Belum pak."
"Oke, nanti jika ingin pulang bisa katakan pada saya. Nanti akan saya antar."
"Iya pak."
"Arfaan." ucap oma.
Seina kemudian memberikan kode anggukan kepada oma untuk menuruti Arfan.
Jam sudah menunjukkan 9 malam. Seina akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah dirgantara. Ia berpikir harus menuruti Arfan saja, agar Arfan otaknya tidak bekerja terlalu keras dalam mengingat sesuatu.
"Kak Seina mau kemana?" cegah Alea.
"Kak Seina mau pulang sayang, jangan khawatir nanti kak Seina akan sering ke sini menemui kamu."
"Tapiii..."
"Sudah sayang, kak Seina harus pergi dulu. Kak Seina kan sudah janji akan sering kemari." tambah Teri.
Alea kemudian menuruti apa yang Seina dan mamanya katakan. Alea tidak membantah lagi.
"Ya sudah kami pergi dulu ya. Arfan akan mengantar Seina pulang. Aku tidak tega jika melihat perempuan pulang sendiri malam-malam begini.
Setelah beberapa obrolan, akhirnya Arfan dan Seina berhasil keluar dari rumah itu.
Seina merasa sedih dengan keadaan itu. Tetapi ia tetap profesional,, memasang mimik yang ceria seperti biasanya.
__ADS_1