
Malam pun tiba, di sebuah hunian kamar terdapat sepasang orang yang saling menjaga keheningan.
Aku harus segera melanjutkan rencanaku untuk menggulingkan tahtanya dari jabatan besar ini. Aku harus memikatnya, agar aku bisa lebih tahu tentang kelemahannya. Dengan begitu aku akan lebih mudah membuatnya keluar dari perusahaan ini. Rasa kehilangan ini tidak aku balas dengan nyawa, tapi akan kubalas dengan menghilangkan harga diri dari hidupmu. Seina tenggelam dalam rencananya.
Sementara Arfan sibuk dengan laptopnya, ia masih bekerja di malam yang larut ini.
"Kenapa pak Arfan belum tidur?" tanya Seina.
Arfan yang mendengar langsung membalasnya. "Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku, karena mulai besok aku harus ijin."
Apa???, oh Tuhan aku hampir saja melupakan semua itu. Besok aku dan pak Arfan dipaksa berangkat honeymoon oleh oma.
Seina yang mendengar ucapan Arfan tak membalasnya, ia malah berpikir gelisah sendiri.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tapi Arfan masih belum menutup laptopnya. Seina yang melihat itu juga belum bisa tidur. Tiba-tiba Arfan berkata kepada Seina. "Tidurlah!, sekarang sudah malam, aku akan segera selesai sebentar lagi."
"Baik pak." jawab Seina.
"Ahh, tubuhku sangat sakit tidur di sini." Arfan telah menyelesaikan pekerjaannya, tapi ia tak sengaja menggerutu tentang rasa sakit di tubuhnya dengan keras, sehingga dapat didengar juga oleh Seina yang baru saja ingin memejamkan mata.
"Pak Arfan bisa tidur di sini, saya yang akan tidur di sofa." ucap Seina.
" Tidak, aku masih bisa menahannya, sekarang cepat tidurlah!, besok kita harus berangkat pagi." perintah Arfan.
Seina yang mendengar perintahnya pun mengikuti. Seina menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, hanya wajahnya yang tersisa tanpa selimut.
*** Pagi hari
"Selamat pagi semua." Ucap oma kepada semua yang berada di meja makan tersebut.
Semua orang segera menyahuti oma dengan ucapan selamat pagi.
__ADS_1
"Bagaimana, apa kalian sudah siap? " tanya oma kepada Arfan dan Seina.
"Iya oma." berucap dalam waktu yang sama.
Semua yang ada di situ hanya mendengarkan.
"Kak Seina, Alea ikut ya?" pinta Alea tiba-tiba.
"Tidak sayang, kamu di rumah saja, kak Seina dan kak Arfan tidak bisa diganggu." ucap Teri kepada putri kecilnya.
"Iya nona kecil, Alea di rumah saja bersama mbak Ningsih yang cantik ini, lagi pula wajah mbak Ningsih kan hampir mirip dengan non Seina. Hehe." Ningsih berkata yang membuat tawa di antara semua orang.
"Alea sayang, kamu di rumah saja ya, nanti saat pulang kak Seina akan membawa oleh-oleh buat kamu. Nanti setelah kak Seina pulang, kita main bersama lagi ya. Untuk sementara kamu bisa main dengan mbak Ningsih cantik ini, ya kan mbak." Jelas Seina.
"Iya dong non Seina, pasti. Pokoknya jika Alea rindu dengan kak Seina tatap saja mbak Ningsih. Oke." Ningsih mengatakan dengan percaya diri.
Setelah semua sarapan, segera Seina membersihkan piring yang baru saja dipakai dan mulai membersihkan semua area itu, tak ketinggalan ia juga membersihkan rumah dengan baik pagi ini.
Aku sangat kagum dengan Seina, ia mudah dekat dengan anak kecil, ia juga pandai memikat hati oma. Dulu setelah Teri menikah denganku bahkan butuh tiga bulan untuk Teri memikat hati oma. Dan juga baru-baru ini Teri bisa memasak dan menyelesaikan tugas rumah tangganya. Dulu aku sudah menyakitinya, aku adalah pria yang paling bodoh dengan meninggalkan dia saat momen terburuknya. Aku sungguh menyesal. Maafkan aku Seina, andai waktu bisa diulang aku pasti sudah bahagia bersamamu saat ini.
Setelah beberapa menit, Arkan sadar akan lamunannya. Arkan segera melangkah ke suatu ruangan.
***
"Kami berangkat dulu oma, Arkan, Teri, Alea, Mbak Ningsih, Bibi, dan semuanya. Doakan kami selamat sampai tujuan." pamit Arfan kepada semua orang.
"Hati-hati ya, jaga Seina dengan baik, dan jangan berhenti berusaha. Semoga ada kabar baik setelah kalian pulang honeymoon." jelas oma.
Seina terlihat kikuk mendengar apa yang dikatakan oma, sementara Arfan masih memasang wajah datarnya didepan semua orang.
Arkan yang menyaksikan Seina pergi seperti tidak rela, ia merasa masih mencintainya. Tapi apa mau dia kembali dengannya lagi, Arkan kan sudah memiliki keluarga. Meskipun dalam hati Arkan berpikir bahwa dia masih memiliki kesempatan, tapi sulit mungkin untuk Seina. Seina sudah terlanjur menyimpan luka atas nama Arkan di hatinya.
__ADS_1
Arkan masih menatap Seina dengan lekat. Sedangkan Teri yang melihat langsung menyimpulkan dalam hatinya, jika suaminya itu masih menyimpan rasa untuk Seina.
"Dadah... dadahh kak Seina dan Paman Arfan." Alea melambaikan tangan dari kejauhan, sementara mobil sudah melaju cepat.
***
Matahari sudah menampakkan sinarnya yang begitu terang dan memberikan rasa panas. Mobil itu sudah terparkir di tempat parkir bawah tanah. Mereka berdua sudah sampai di sebuah tempat, yaitu bukan di tempat honeymoon melainkan di apartemen Arfan.
"Untuk sementara kita berada di sini, kita harus hati-hati jika ingin keluar agar tidak sampai ketahuan oleh semua anggota keluarga." tegas Arfan kepada Seina.
"Iya Pak, kalau begitu bagaimana jika saya tetap bekerja pak, tapi dari sini saja tidak perlu ke kantor." ide Seina muncul untuk membuat kerjanya sendiri produktif.
"Baik, nanti saya akan menghubungi Riko untuk memberi tugas kepadamu." balas Arfan.
Seina yang mendengar persetujuan bosnya sangat gembira. "Terimakasih ya pak."
"Emmmm." hanya itu yang terdengar.
***
Di sebuah Bank banyak pegawai yang sibuk memberi pelayanan. Sementara Arkan hanya duduk terdiam di dalam tanpa melakukan apapun.
"Permisi pak, apa bapak butuh sesuatu? " tanya seorang OB.
"Tidak, aku tidak membutuhkan apapun, pergilah!" Arkan masih dengan nada kesalnya.
Hatinya sangat berkecamuk saat ini. Ia memikirkan orang lain yang bisa dikatakan masa lalunya. Ia bahkan muak memikirkan istrinya sendiri. Tapi di lain sisi, ia sangat menyayangi Alea putri kecilnya.
Apa aku sebaiknya memutuskan hubungan ini dengan Teri?, aku sudah tidak tahan dengan perilakunya saat ini. Dan setelah perjanjian kak Arfan dan Seina selesai aku akan mencoba mendekati Seina dan menjadikan dia sebagai mama bagi Alea. Apa itu mungkin?, apa Seina semudah itu bisa memaafkanku?
Arkan masih dikendalikan oleh egonya, ia masih sama seperti dulu, memikirkan sesuatu dengan sesaat tanpa bisa memikirkan perasaan orang lain. Ia tidak bisa menahan egonya untuk melakukan apa yang dia mau, ia melakukan sesuatu hanya demi dirinya sendiri.
__ADS_1
Sementara di tempat lain Teri sibuk bekerja, ia membuat berbagai pose gaya dan sudah enam kali ia berganti baju. Tubuhnya yang tinggi semampai mampu membuat pakaian yang biasa pun bisa bagus bila dipakainya. Diimbangi juga dengan paras cantiknya dan juga kulitnya yang putih bersih.