
*** 1 tahun kemudian
"Mama, pa pa.. pa pa," Si kecil ini tak berhenti memanggil papanya.
Andaikan aku ikut dengannya waktu itu, pasti Reyna bisa melihat papanya.
"Seina, apa kamu bisa hari ini temani oma belanja?" Oma tiba-tiba muncul dari dapur.
"Iya oma, Seina bisa. Reyna sayang ayo kita bersiap, kita mau belanja, Reyna ikut???" Melihat putrinya dengan baik.
"Iya, ma ma Eyna itut." Lidahnya masih berbelit untuk mengeluarkan suara yang jelas.
"Non Sein apa saya boleh iku?" Menara rambut yang tergerai dengan sebaik-baiknya.
"Tentu, ayo mbak Ningsih juga segera bersiap." Mengiyakan permintaan baby sitter Reyna.
"Alea juga ikut." Tidak mau kalah putri kecil ini juga ingin ikut.
Semua akhirnya diputuskan untuk ikut ke mall.
"Ter ini lebih bagus untuk Alea." Menunjuk sebuah baju yang lucu.
"Iya Sein, memang bagus pilihanmu." Membalas dengan cepat.
"Pa pa.. pa.. "
"Hai anak cantik." Seorang pria memuji Reyna.
Reyna berjalan ke sana kemari, hingga jauh dari orang-orang.
"Pa pa.. pa." Dia masih mengatakan hal yang sama seperti tadi.
Reyna kemudian menatap dengan kedua bola mata yang berkilau, pria itu heran dengan tingkah Reyna.
"Ada apa kak, " Pria itu membalas tatapan Reyna.
Dimana orang tuanya, apa anak ini hilang dari keberadaan orang tuanya. Lebih baik aku jaga dia hingga orang tuanya datang mencarinya.
"Reyna dimana kamu nak." Seina mencari putrinya dengan penuh kepanikan, ia bahkan menangis tersedu karena kehilangan anaknya.
Tuhan temukanlah Reyna, aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku bisa hidup tanpanya. Aku sudah cukup merasakan rasa kehilangan yang ketiga kalinya. Tapi sekarang aku mohon jangan biarkan perasaan itu terjadi lagi. Dulu pak Arfan sudah meninggalkanku, dan sekarang Reyna.... Tidak tidak aku harus mencari anakku sampai ketemu. Aku yakin Reyna tidak akan meninggalkan diriku sendiri.
***
__ADS_1
Flashback
Dulu setelah terjadinya insiden kebakaran satu tahun yang lalu, Arfan berhasil selamat dari maut setelah ditangani dokter. Namun setelahnya ia harus menjalani perawatan lagi di luar negeri. Bagian paru-paru nya terinfeksi karena asap yang masuk tiada henti. Untuk mempercepat pemulihannya, Arfan memilih berobat ke Singapura. Saat itulah musibah yang sangat menyakitkan datang. Arfan ke luar negeri hanya seorang diri. Ia tidak ingin ditemani oleh siapapun, bahkan istrinya sendiri. Saat itu di akhir tahun Arfan berangkat ke Singapura. Selanjutnya ada kabar yang datang jika pesawat yang Arfan tumpangi jatuh di sebuah gunung. Saat itulah perasaan Seina hancur. Ia harus melahirkan tanpa suami tercinta disampingnya. Semua keluarga sampai sekarang masih tidak menyangka. Mereka semua berharap bahwa Arfan masih dapat ditemukan dengan selamat. .
"Namanya siapa kamu?" Duduk menyeimbangi tubuh Reyna.
"Eyna... " Menjawab dengan mimik yang lucu.
Pria ini sampai gemas dibuat Reyna. " Gadis kecil yang imut dan lucu, apa kamu mau es krim?"
Reyna hanya menganggukkan kepalanya.
***
"Reyna." Seorang anak kecil memanggil Reyna.
"Kak Lea."
Reyna memperhatikan dari jauh. Alea yang mengetahui keberadaan Reyna segera memberitahu Seina.
"Sayang ini es krimnya, sebentar om mau ke sana dulu mencarikan makanan untukmu, om akan mengawasi mu dari sana." Pria berniat untuk membeli makanan Reyna.
"Reyna putriku, Reyna." Dengan penuh kecemasan bercampur kelegaan wanita ini memeluk erat putrinya.
"Kamu lapar nak," Seina mengira bahwa anaknya menginginkan makanan.
Di kasir terlihat pria tadi sedang membayar. Saat selesai, ia segera menghampiri Reyna yang ia minta menunggu di tempat.
Dimana amak lucu itu, apa orang tuanya sudah menemukannya,
Pria itu mencari ke sekeliling, matanya mulai dengan seorang wanita dan anak kecil.
Syukurlah dia sudah bertemu dengan ibunya. Pria itu kemudian pergi dengan kelegaan.
***
"Fan apa kamu tidak mau menikah?" tanya seorang pria tampan yang berada di depannya.
"Mau, tapi sepertinya aku sudah pernah menikah, tapi dengan siapa dan kapan aku tidak tau." Arfan mengatakan dengan isyarat hatinya.
"Ha ha, bercanda kamu." Pria itu menghamburkan pikiran Arfan.
Mereka berdua lalu meminum kopi masing-masing. Mereka adalah teman akrab setahun ini. Dua pria itu bernama Rendy dan Arfan. Iya benar Arfan yang kita kenal sebelumnya, CEO dari perusahaan ARFU.
__ADS_1
***
Flashback
Setelah terjadi kecelakaan pesawat itu, banyak korban ditemukan, termasuk Arfan. Ia ditemukan dalam keadaan terluka parah di kepalanya, tapi untung saja ia masih memiliki sedikit nafas. Ada beberapa pendaki gunung yang berada di wilayah jatuhnya pesawat, salah satunya Rendy yang mengetahui keadaan Arfan, lalu mereka membawa Arfan ke rumah sakit. Sejak saat itulah pertemanan Rendy dan Arfan terjadi. Sampai saat ini Arfan belum kembali kepada keluarganya, karena ia mengalami amnesia yang kedua kali. Untuk memenuhi kebutuhan, Arfan bekerja di perusahaan milik Rendy. Ia menjadi karyawan yang sangat bermanfaat bagi perusahaannya. Mengingat pengalaman Arfan dulu ketika di perusahaannya sendiri luar biasa.
"Kak Seina, aku lihat paman tadi." Alea mengucapkan langsung kepada Seina saat di mobil.
Teri yang mendengar segera menyaut. " Tidak sayang, mungkin itu hanya mirip saja dengan paman. "
"Tadi paman bersama Reyna." Menjelaskan sekali lagi untuk meyakinkan mamanya.
"Reyna cantik, apa benar tadi ada orang yang bersama Reyna!? "
Seina dan semua orang menunggu jawaban dari Reyna.
"Pa.. pa," Reyna mengatakan papa sambil mengangguk.
Apa benar pak Arfan masih hidup?, tapi kenapa dia tidak menemui keluarganya.
***
Di kantor
"Pak saya hari ini minta ijin pulang lebih awal."
"Kenapa?, berikan alasannya,"
"Saya merasa tidak enak badan pak."
"Baiklah, sekarang cepatlah untuk segera pulang dan istirahat."
"Iya pak."
Setelah Arfan tidak kembali, untuk sementara waktu Riko yang menggantikan. Tetapi jika dalam kurun waktu lima tahun belum ada kabar tentang Arfan, perusahaan akan dikelola oleh Arkan. Dulu sebelum berangkat Arfan memang berpesan agar Riko yang menjaga perusahaannya selama ia berobat ke Singapura. Meskipun begitu Riko tidak semena-mena, ia menjaga amanah dengan baik.
"Apa tidak seharusnya kamu ke rumah sakit," Menangkap tubuh Kayla di tangannya.
"Tidak pak, terimakasih pak karena telah menyelamatkan saya agar tidak terjatuh."
"Iya sama-sama."
Apa aku ikuti dia saja ya dari belakang, aku tidak mau terjadi apa-apa kepadanya.
__ADS_1
Hubungan mereka masih saja belum ada kemajuan. Hanya perasaan yang terpendam setahun ini yang mereka andalkan. Saling perhatian itu sudah biasa, tapi saling mengungkapkan itu harusnya menjadi hal yang luar biasa. Riko masih tidak berani mengungkapkan, ia bahkan masih meningkatkan kedinginan hatinya, sementara Kayla hanya berkhayal tanpa mewujudkan, wanita ini juga belum berani mengungkapkan, meskipun dibilang Kayla lebih fleksibel dari pada Riko.