
Saat itu terlihat mobil ambulan yang datang. Dua orang yang terluka itu segera dibawa ke rumah sakit.
Semua terjadi begitu cepat. Setelah mobil mereka menabrak pembatas jalan. Seina dan Arfan badannya langsung terguncang hebat. Saat itu keadaan begitu chaos. Salah satu dari mereka ada yang tidak sadarkan diri.
*** Di rumah dirgantara
"Halo, iya benar ini dengan pihak keluarga mereka, ini dengan siapa ya."
"Astaghfirullah... kak Arfan dan Seina. Iya Pak terimakasih atas informasinya.
Arkan begitu terkejut mendengar informasi dari pihak polisi. Arfan dan Seina mengalami kecelakaan, mereka berdua sekarang sedang di bawa ke rumah sakit.
" Kenapa?, ada apa?"
"Kak Arfan dan Seina mengalami kecelakaan."
"Bagaimana keadaan mereka?"
"Belum tau, tadi aku baru saja dihubungi polisi. Mereka berdua sekarang sedang dibawa ke rumah sakit."
"Ya sudah lebih baik kita sekarang menuju rumah sakit langsung!"
Teri dan Arkan langsung berangkat ke rumah sakit. Semua penghuni rumah sudah tidur. Mereka tidak berani memberitahu oma.
***
Di rumah sakit
Sesampainya di rumah sakit Arkan dan Teri bergegas menuju kamar pasien.
"Bagaimana dok dengan keadaan kakak saya?"
"Keadaan pihak perempuan tidak apa-apa, hanya ada luka kecil saja. Tetapi untuk pihak laki-laki saat ini tengah menjalani masa kritis. Ada pendarahan di otaknya, itu diakibatkan karena kepalanya terbentur keras.
"Tolong lakukan yang terbaik untuk kakak saya dok." ucap Arkan.
"Iya saya akan melakukan yang terbaik semampu saya. Saya mohon untuk tetap tenang dan berdoa."
Teri dan Arkan menunggu dengan perasaan cemas.
"Ter apa kita harus mengatakannya kepada oma?"
"Iya, tapi aku khawatir nanti jika oma akan menurun kesehatannya." tegas Arkan.
Setelah menunggu lagi, satu jam kemudian dokter menghampiri mereka berdua.
"Saat ini pak Arfan membutuhkan transfusi darah, akibat pendarahan itu ia kehilangan banyak darah. Apakah ada yang memiliki darah A?"
"Iya saya kebetulan adiknya dok, kami memiliki golongan darah yang sama. Ambil darah saya saja dok."
"Baiklah, mari ikut saya!, kita harus segera melakukannya."
Arkan kemudian mengikuti dokter untuk mendonorkan darahnya.
*** di ruangan pasien lain
Seina keadannya sudah mulai membaik. Ia baru saja di pindahkan ke ruangan lain. Teri yang mengetahui lalu menuju ke ruangan Seina.
Kehidupan apa yang kulihatkulihat saat ini. Mereka baru saja menikmati hubungan mereka yang sebenarnya, tapi sekarang mereka harus menerima nasib seperti ini. Tuhan tolong selamatkan kak Arfan.
"Seina, bagaimana keadaanmuu?"
__ADS_1
"Teri, aku sudah tidak apa-apa." Seina mengatakan dengan suara yang lemah.
"Syukurlah, aku sangat mengkhawatirkanmu tadi."
"Dimana pak Arfan Ter?"
"Kak Arfan masih mendapat penanganan dari dokter Sein."
"Terus keadaannya bagaimana?"
"Eeee... kak Arfan sekarang... " Teri kemudian memotong pembicaraan.
"Jawab Ter, bagaimana???" Seina merasa tidak enak dengan hatinya.
"Kak Arfan sekarang sedang kritis Sein, kak Arfan mengalami pendarahan di otaknya, sekarang Arkan sedang mendonorkan darahnya untuk kak Arfan."
"Astaghfirullah, pak Arfan."
Seina kemudian bangkit dari tidurnya, ia ingin berjalan menuju ruangan Arfan. "Aku harus melihat keadaannya sekarang." Seina mengatakan dengan kepanikannya.
"Tidak Sein, kamu harus istirahat, tubuhmu masih lemah. Kamu harus tenang, kak Arfan pasti akan baik-baik saja. Apalagi kak Arfan sudah mendapat transfusi darah."
"Tapi Ter, aku ingin melihatnya."
"Tidak Sein kamu harus tetap disini."
Dengan segala cara, akhirnya Teri berhasil membujuk Seina. Malam itu Seina bermalam di rumah sakit dengan ditemani Teri.
***
Pagi hari di rumah dirgantara
"Selamat pagi oma." Arkan menyaut omanya.
"Arkan dimana Teri?"
"Emm, Teri kemarin menginap di rumah saudara oma, katanya mau ada acara yang penting."
"Ooo." oma lalu melanjutkan sarapannya.
"Kenapa aku belum melihat Seina dan Arkan ya dari tadi, kemana mereka?"
"Oh ya tadi mereka berangkat tanpa sarapan oma. Katanya ada meeting dengan klien penting."
"Meeting kok pagi sekali."
"Ya begitulah oma, kadang ada klien yang meminta bertemu sebelum jam kerja. Biasanya jadwal mereka itu benar-benar sudah tidak ada yang bisa digeser oma."
"Oke, yasudah kalau begitu."
"Oma, Arkan sudah selesai sarapan. Arkan pamit pergi ya oma."
"Iya hati-hati Arkan. Nanti Teri kamu jemput sekalian, karena Alea pasti akan mencarinya nanti."
"Oke oma."
***
Di rumah sakit
"Dok bagaimana keadaan suami saya sekarang?"
__ADS_1
"Syukurlah saat ini keadaan sudah mulai membaik. Mungkin beberapa saat lagi ia akan sadar."
"Alhamdulillah, terimakasih banyak dok." ucap Seina.
"Dok, apa kami boleh melihat kak Arfan?"
Sebelum dokter melangkah, Teri kemudian menyela pertanyaan. "Boleh silakan, tapi mohon tetap menjaga ketenangan ya. Nanti jika pasien sudah sadar silakan cepat panggil saya.
" Iya dok." balas Teri.
Seina dan Teri segera masuk ke dalam.
"Pak Arfan."
Seina memanggilnya. Ia merasa sedih melihat keadaan Arfan yang seperti itu.
Lampu di ruangan tersebut sangat cerah. Cahayanya mulai terlihat sekelebat oleh mata Arfan. Sedikit demi sedikit mata Arfan mulai terbuka. Seina yang mengetahui Arfan sangat lega dan bahagia. "Kamu sudah sadar?"
Seina bertanya sambil memberikan senyuman.
"Sein aku panggil dokter dulu ya." ucap Teri.
"Iya Ter."
Teri kemudian pergi dengan cepat keluar dari ruangan itu.
Sedangkan Seina masih berusaha dengan lembut berkomunikasi kepada Arfan.
Mulut Arfan mulai bekerja. Ia tiba-tiba bersuara. "Siapa kamu?"
Apa yang ia katakan, apa pak Arfan sedang bercanda.
"Aku tau pak Arfan merasakan sakit yang luar biasa. Tapi alangkah baiknya menunda candaan seperti ini, sekarang fokus dengan kesehatan saja."
Seina berpikir dengan positif. Ia masih memasang ekspresi senyum. Seina tak hanya diam setelah itu, ia kemudian menawarkan sesuatu. "Apa pak Arfan ingin sesuatu?"
"Aku tidak mau, dan aku tidak mengenalimu. Siapa sebenarnya kamu?"
Seina yang mendengar kalimat yang kedua kalinya berpikir kembali. Apa?, aku bingung mencernanya.
"Pak Arfan sadar, syukurlah pak anda bisa melewati masa kritis itu." dokter mengatakan itu setelah berhasil masuk ke ruangan.
"Dok, saya minta dokter untuk memeriksanya. Kenapa dia seperti tidak mengenali saya ya?" ucap Seina.
Dokter lalu memeriksa Arfan.
Setelah selesai memeriksa, dokter kemudian meminta Seina untuk menuju ke ruangannya.
" Begini bu. Pak Arfan saat ini mengalami amnesia. Itu diakibatkan karena benturan yang keras terhadap kepalanya, sehingga salah satu saraf otaknya mengalami gangguan." ucap dokter setelah memeriksa Arfan.
"Apaaa dok amnesia?" Seina xkaget mendengarkan ucapan dari dokter di depannya itu.
"Apa itu sementara dok?, atau... " ucap Seina yang sedikit takut.
"Saya belum bisa memastikannya. Biasanya amnesia bisa hilang dengan sendirinya. Yang terpenting pasien harus dalam keadaan tenang tanpa tekanan. Pola makan yang baik, juga harus tetap dijaga.
"Baik dok terimakasih." Seina kemudian pergi dari ruangan itu.
Beginilah ujian Cinta. , Cinta akan pergi kapanpun ia mau. Cinta akan datang tiba-tiba dan akan pergi tiba-tiba. Tapi untuk kisahku sepertinya tidak pergi, melainkan masih singgah di tempat lain. Tapi apa bedanya dengan pergi?, Tuhan kuatkan aku dan sabarkan aku. Apa pak Arfan benar akan melupakanku selamanya?, secepat inikah keadaan berubah. Kemarin kami masih menikmati masa indah percintaan kami.
Seina berjalan menuju ruangan Arfan dengan perasaan yang hancur. Ia harus menerima kepahitan itu.
__ADS_1