
Sebuah keluarga besar sedang berkumpul. Mereka terlihat saling berbagi pendapat satu sama lain.
"Aku ingin agar Alea memiliki baby sitter. Sebaiknya, aku carikan dari yayasan milik temanku." ucap Teri.
" Tidak apa-apa, itu malah lebih baik jika ada yang membantu menjaga Alea. " sahut Arkan.
Sementara di kursi seberang, oma dan Arfan terlihat diam belum bersuara.
"Bagaimana menurut kalian, apa kami harus mencarikan baby sitter segera?" tanya Teri bersemangat.
"Menurutku, akan lebih baik Alea dijaga oleh mamanya saja, karena kalau orang yang menjaganya, aku takut jika sesuatu terjadi. Tetapi, ini mungkin hanya pikiranku saja. Tidak ada apa-apa sebenarnya, lebih banyak yang menjaga akan semakin baik pula." pendapat yang diluruskan sendiri oleh Arfan.
"Kamu mau kemana Teri?, apa kamu akan melanjutkan pekerjaan kamu sebagai model seperti dulu? " tanya oma dengan serius.
Perasaan orang tua memang selalu benar, oma sudah curiga dari pertama Teri berbicara tentang baby sitter tadi. Ternyata benar, Teri akan melanjutkan pekerjaan modelnya yang sudah vakum dari dua tahun yang lalu. Teri memang layak menjadi model, dengan badannya yang ramping. Tidak hanya itu, bentuk tubuhnya juga sangat indah, kulitnya putih bersih, matanya indah, bentuk wajahnya oval dagunya yang lancip, yang jelas ciri-ciri seorang model melekat pada dirinya.
"I ya, oma." merasa kikuk menjawab karena telah didahului oleh omanya sebelum dia sendiri berbicara.
Insting oma memang kuat, apapun yang dirasakan cucu atau cucu menantunya sekalipun pasti akan tahu.
__ADS_1
"Aku tidak mempermasalahkan dengan itu, karena akupun tidak berhak menghentikan cita-citamu untuk menjadi model yang terkenal. Hanya saja oma berpesan, agar kamu bisa menjaga diri dan jangan sampai lupa dengan keluarga kamu di rumah. Oma akan memberikan kamu ijin asalkan kamu mengikuti peraturan oma." Oma mentolerir tapi juga terlihat bersyarat.
Teri mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oma. Dia terlihat menerima segalanya. Ijin itu sudah berarti baginya, tidak masalah jika dia harus membagi waktu seperti itu. Karena memang dia juga sudah berkeluarga. Teri orang yang cukup terbuka dan fleksibel, apapun pendapat akan dia tampung dengan baik. Sementara dua orang pria hanya mendengarkan oma dan teri berdiskusi. Sekarang semuanya sudah selesai, teri akan mengikuti peraturan oma bekerja selama 6 jam mulai pukul 11 siang hingga pukul 5 sore. Itu sudah lebih cukup bagi Teri, untuk mengobati rasa rindu pada pekerjaannya. Teri sudah cukup lama bekerja sebagai model. Mungkin kurang lebih 4 tahun sejak dirinya masih kuliah semester 3 dulu. Semua sudah jelas, dan para anggota rapat keluarga ini mulai pergi untuk urusan masing-masing. Arkan dan Arfan mulai menyalakan mesin mobil masing-masing, dan menuju jalan ke tempat pekerjaan mereka.
Di sebuah mobil berkelas, seorang pria sedang memikirkan sesuatu.
Aku harus menemuinya hari ini, dan menyelesaikan semua di hari ini juga. Tapi tidak, ini terlalu cepat, dia pasti tidak akan mempercayai dengan semudah itu. Aku ikuti saja alurnya, semua akan terungkap pada waktu yang tepat. Sebenarnya aku juga ingin melindungi Arkan. Aku tidak ingin Arkan mendapat masalah. Mungkin aku harus diam, tapi bergerak. Hanya ketenangan yang aku perlukan saat ini. Aku tidak perlu cepat, tapi harus tepat yang kupriporitaskan agar semua bisa terkendali olehku. Arfan menghabiskan waktu perjalanannya hanya untuk memikirkan itu hingga dia tiba di kantornya.
Sementara di sebuah rumah, terlihat wanita cantik terbalut oleh selimut tebal, yang ketika kita bayangkan mungkin sangat hangat dan nyaman dipakai. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh, tapi tak ada pergerakan sekalipun dari wanita itu yang tak lain adalah Seina. Bahkan, alarmnya pun sampai bisa mendapat kacang satu kilo jika diumpamakan. Sejak pukul lima pagi tadi, alarm tak berhenti berbunyi, tapi juga tidak ada yang menghentikannya. Sungguh malang nasibnya,bapa salah jam alarm ini sehingga dia diabaikan oleh pemiliknya.
Di sisi lain ada seseorang yang terlihat unik di keluarga Dirgantara. Orang tersebut berjenis kelamin perempuan, tingginya mungkin sekitar 160 cm, perawakannya tidak gemuk dan tidak kurus tapi berisi. Mungkin jika diperkirakan berat badannya sekitar 55 kg. Untuk wajah sepertinya tidak menunjukkan angka seperti angka berat badannya. Bisa dibilang dia berumur sekitar 40 tahun. Pakaiannya terlihat rapi, wajahnya meskipun tidak keriput, tapi tidak putih seperti Teri. Ia memiliki tipe kulit sawo matang. Tapi yang membingungkan rambutnya digerai, dan tidak mencerminkan seperti pekerjaannya sama sekali.
"Wa'alaikumsalam, iya selamat pagi tunggu sebentar. " oma menyaut dari dalam.
krekk...
Pintu terbuka dengan lebar. Oma yang membukanya segera mendeteksi siapa yang datang. Oma yang tahu segera mempersilakan wanita tersebut masuk. Dia tak lain adalah baby sitter yang dipanggil Teri, dari sebuah yayasan yang bagus, khusus dengan pelatihan bagi baby sitter. Semua calon baby sitter yang akan dipanggil oleh beberapa orang yang menginginkan, sudah lebih dulu diberikan pelatihan tentang anak-anak. Mulai dari balita hingga umur 7 tahun. Semua ilmu sudah diberikan juga, tak hanya itu ada kegiatan praktek jug disana. Jadi, sudah dijamin pasti baby sitter dari sana bagus-bagus.
"Perkenalkan oma nama saya Ningsih. Saya sudah tau oma lo sebelumnya, hehe. Wanita ini memperkenalkan diri, tapi ada kekocakan yang ditampilkan wajahnya.
__ADS_1
" Iya salam kenal, darimana kamu tahu saya? "tanya oma kembali yang terlihat bingung.
" Saya tahu bahwa oma adalah omanya pak Arfan, CEO dari perusahaan furniture terkenal itu kan. Saya pernah melihat di koran oma." langsung menjawab dengan cepat.
"Oh baiklah, sekarang kamu naik ke atas, di pojok sebelah kanan itu adalah kamar kamu." ucap oma pada Ningsih.
"Emm, baiklah oma terimakasih. "Penampilannya tidak seperti baby sitter biasa, meskipun ia mengenakan seragam, tapi juga selain rambutnya tergerai, ia mengenakan pita merah muda di rambutnya, seperti ABG saja. Ia juga mengenakan riasan bak artis korea saja. Setelah mendapat perintah dari oma, Ningsih melangkah dengan berseok-seok bak model sedang berjalan.
Oma yang melihatnya sempat heran, ada keunikan dari baby sitter itu. Tapi setelahnya dia tidak lagi memikirkan tentang Ningsih. Oma berjalan menuju kamarnya kembali.
Rumah ini memang besar, tapi dari dulu tidak lebih dari satu asisten yang bekerja di rumah ini. Omalah yang mengatur semuanya, ia merasa tidak ingin menghabiskan waktunya hanya bersantai, ia ingin melakukan pekerjaan rumah tangga yang biasa wanita lakukan. Biasanya hanya oma dan bi surti yang melakukan semua, tapi sekarang ia dibantu juga oleh Teri.
Di sebuah kamar yang hening, tiba-tiba sebuah selimut yang memanjang terlihat melayang beberapa detik karena seseorang. Seina berusaha untuk sadar dari tidurnya. Dirinya berpikir saat ini sedang bermimpi bangun tidur dengan menerbangkan selimutnya. Dia berpikir lagi, dia sekarang sudah berada di kantor dan ketiduran ketika jam istirahat.
"Aaaaaaaa...." Teriaknya dalam hati.
Ternyata dia baru sadar sedang menjalani kehidupan nyata. Tak bisa hanyut dengan berpikir lagi, Seina segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hari ini adalah hari sakralnya, yaitu masuk kerja pertama di perusahaan yang besar. Tetapi dia harus menerima kesalahan yang dibuat karena kecerobohannya sendiri. Layangan putusan tidak jadi diterima bekerja sudah terbit di pikiran Seina saat mengguyur badannya. Di saat seperti ini, dia masih berpikir yang tidak-tidak, bahkan saat mandi pun terus berpikir otaknya. Kalau tidak begitu namanya bukan Seina, si pemikir dalam segala hal.
__ADS_1