Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 27 Pindah ke Apartemen


__ADS_3

**"5 bulan kemudian.


Tak ada rasa cinta di hati ini, hanya kata cinta dari mulutku saja. Merasa terbebani dengan kehidupannya.


Dunia seperti berhenti di pikirannya, otaknya tak pernah lelah memikirkan itu.


"Apa kamu hanya berdiam di situ sampai besok pagi?"


tanya dia.


"Sudahlah hentikan sandiwara ini, aku ingin bercerai denganmu besok." berteriak sambil menahan air matanya yang ingin segera jatuh.


Sebenarnya bukan dia yang harus bertanggungjawab atas hal ini, tapi wanita itu sudah terlanjur menuliskan nasib ini di otaknya karena kesalahan pria itu.


"Aku selalu berbohong hanya karena oma."


"Kamu harus tunggu hingga waktu berakhir." ucap Arfan.


"Apa kamu tau rencanaku sudah hancur. Aku merelakan semuanya untuk kebenaran. Tetapi sebelum kumulai kamu bahkan sudah mengetahui rencanaku."


Seina meratapi nasib yang tak berpihak kepadanya. Semua rencananya gagal, mulai dari kerja sama bersama pak Rey, hingga percobaan yang keenam dengan rencana yang berbeda juga hancur. Bagaimana tidak, semua yang akan dilakukan Seina sudah lebih dulu diketahui Arfan.


"Sepertinya kondisi keluarga ini sudah kembali kondusif, besok kita akan pindah apartemen."


Seina tak membalas perkataan Arfan, ia hanya diamdiam memasang wajah marah.


***Di kantor


"Sein ayo nanti kita ke mall, mau gak? '


" Maaf Kay, nanti aku sedang sibuk mau pindahan rumah."


"Wah kamu mau pindah kemana bersama pak Arfan?"


"Pindah ke apartemen."


"Mau aku bantu?" tawar Kayla.


"Ah tidak, aku paling hanya membawa baju dan peralatanku saja." ucap Seina.


"Oke Sein."


Lalu mereka berdua kembali dengan pekerjaan masing-masing.


"Kayla, apa kamu sudah selesai? " pak Riko.


"Sebentar lagi pak. Tidak apa-apa jika pak Riko pulang lebih dulu. Saya ingin menyelesaikan dulu tugas saya." balas Kayla.


Pak Riko dengan sabar menunggu bawahannya itu. Hingga jam menunjukkan pukul 7 malam, akhirnya Kayla berhasil menyelesaikannya.


Kayla sudah bekerja di perusahaan ARFU selama 4 bulan. Ia ditempatkan sebagai karyawan biasa seperti Seina. Pekerjaannya selalu bagus, maka tak jarang pak Riko selalu memujinya.

__ADS_1


"Mari pak."


Kayla berpapasan dengan pak Riko, lalu ia membatin. Kenapa pak Riko masih disini?, bukankah pekerjaannya sudah selesai dari tadi?, apa mungkin dia masih ada pekerjaan lain?


Di tepi jalan, Kayla menanti taksi dengan sabar.


Tiba-tiba mobil seseorang berhenti di depannya. "Apa kamu mau pulang bersama saya?, silakan naik!" ucap pak yang ada di dalam mobil tersebut.


"Tidak perlu pak, terimakasih atas tumpangannya. Saya akan tunggu sebentar lagi, mungkin taksi segera datang."


"On baik, saya dulu ya."


Berkata dengan senyuman manisnya.


"Taksi." akhirnya yang dinanti pun datang.


***Di apartemen


"Oke, sekarang kita sudah berada di sini, dan oma juga sudah pergi. Sekarang keputusan ada di kamu, lakukan apa maumu, aku membebaskanmu."


"Aku tidak ingin apapun, aku hanya ingin bercerai."


"kita sudah membuat perjanjian kontrak, jadi kamu harus melakukannya hingga selesai."


Arfan masih bisa mengendalikan kesabarannya.


"Bukankah ketika kita berhasil pindah ke apartemen, kamu akan pulang ke rumahmu sendiri?"


"Ya sudah tinggal di sini saja."ucap Arfan.


" Aku tau maksudmu, dengan begitu kamu memanfaatkannya kan, kamu akan menjebakku dan merayuku agar bisa jatuh cinta terhadspmu. Gunakanlah waktu satu bulan ini, tapi asal kamu tau aku tidak akan terpengaruh."


Seina yang mengatakan dengan panjang, merasa kesal sendiri.


Kenapa aku marah-marah tadi?, bagaimana jika aku nanti cepat tua, oh tidaak...


Ia lalu menuju kamar, dilanjutkan dengan tidur.


Aku masih sulit memasuki hatinya, sebelum semua kebenaran terungkap.


Arfan lalu tidur di atas sofa seperti biasa.


"Aku tidak mau tolong hentikan, tolong." suara Seina dengan mata terpejam.


Apa dia tidur?, kenapa dia berbicara dalam keadaan tidur?


Arfan heran dengan tingkah laku Seina saat ini.


Brukk, tiba-tiba Seina berdiri dan kemudian berjalan sempoyongan. Dengan keseimbangan seadanya, Seina menjatuhkan tubuhnya di atas Arfan yang saat itu tidur.


"Seina, ada apa denganmu!" ucap Arfan didekat telinga Seina.

__ADS_1


Saat ini dua orang itu berpelukan, tubuh Seina tepat berada di atas tubuh Arfan. Arfan dengan nafas berat memindahkan Seina ke tempat tidurnya.


Tidak biasanya dia mengigau seperti ini. Seina aku tau perasaanmu, tapi kamu harus bersabar menunggu satu bulan ini.


***


Di rumah dirgantara


Kehidupan manis bisa terlihat dari kejauhan. Sebuah keluarga kecil, saling bercanda tawa.


"Papa, ayo kita main petak umpet!ajak Alea.


" Ayo sayang."


"Kalian main dulu ya, aku akan membuatkan cemilan untuk kalian." ucap Teri.


"Ok mama."


Keluarga ini berhasil melewati prahara empat bulan yang lalu. Teri dan Arkan tidak jadi bercerai. Arkan akhirnya sadar dengan kesalahannya, ia tau bahwa keegoisannya membawa kehancuran bagi semuanya. Mereka akhirnya saling mengerti.


"Teri lebih baik kamu tidurkan Alea ke dalam?, setelah itu kembalilah, aku ingin bicara denganmu."


"Iya."


"Mbak Ningsih, bisa bantu saya menidurkan Alea di kamarnya." ucap Teri kepada mbak Ningsih.


"Siap non Teri cantik." mbak Ningsih masih dengan tingkah lakunya seperti dulu.


Teri dan Arkan kemudian menuju ke taman depan, dengan tujuan menghindari kebisingan.


"Sudah apa yang ingin kamu bicarakan." ucap Teri.


"Sebenarnya aku menyimpan rahasia besar. Ini tentang ayahnya Seina."


"Apa?"


"Iya, jadi 6 bulan yang lalu oma sempat masuk rumah sakit, kamu masih ingat kan?"


"Iya benar oma dulu sempat masuk rumah sakit, dan kemudian sampai kritis."


"Ya tepat. Saat itu oma membutuhkan transfusi darah, kebetulan saat ketersediaan darah O negatif tersisa satu. Padahal selain oma ada pasien lain lagi yang membutuhkannya. Pasien itu adalah ayahnya Seina, aku tau dari kak Arfan."


"Lanjut, terus bagaimana?"


"Dokter sebenarnya ingin memberikan transfusi itu untuk ayahnya Seina, karena mereka lebih dulu tiba di rumah sakit. Tapi karena aku tidak mau terjadi apa-apa dengan oma, aku kemudian menyuap petinggi rumah sakit untuk memberikan transfusi darah itu untuk oma. Dan alhasil oma berhasil selamat, tapi ayah Seina tidak bisa tertolong. Padahal saat itu kak Arfan sudah menemukannya di rumah sakit lain, tapi harus menunggu satu jam. Karena, keputusan sepihakku itu, kini Seina menyimpan dendam terhadap kak Arfan."


"Apa maksudmu, kenapa bukan kepadamu?"


"Itu dia masalahnya, Seina pernah menyelidiki tentang identitas oma, dan ia bertanya tentang cucu oma yang saat itu berada di rumah sakit. Seina bertanya kepada salah suster, dan suster itu menjawab jika kak Arfanlah cucu dari oma. Semua orang lebih mengenali kak Arfan daripada aku, karena kak Arfan adalah CEO terkenal di negeri ini."


"Jadi apa kamu berniat untuk meluruskannya?, kasihan dengan kak Arfan harus menanggungnya."

__ADS_1


"Iya Ter, benar apa katamu. Besok aku harus memberitahu yang sebenarnya kepada Seina."


__ADS_2