Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 29 Tidak jadi bercerai


__ADS_3

"Maaf oma, kami berbohong kepada oma."


Oma memasang ekspresi sesuai dengan perintah dari Teri tadi.


" Oma sebenarnya, pernikahan kami hanya pura-pura. Kami terpaksa melakukannya. Oma mendesakku untuk segera menikah, karena itu aku menjadikan Seina sebagai istri kontrakku. Hari ini adalah batas kontrak itu. Besok Arfan dan Seina akan mengajukan surat perceraian. Maafkan Arfan oma."


Arfan berkata dengan cucuran air matanya. Ia begitu merasakan sakit yang dalam, karena harus mengatakan kenyataan itu.


"Oma tidak menyangka, kamu yang oma besarkan dan oma didik dari kecil menjadi seperti ini."


"Oma kira kamu cucu oma yang baik, bijak, dan bertanggungjawab. Ternyata itu semua salah."


Oma mengeluarkan air matanya dengan deras.


"Oma maafkan Seina, saya terpaksa melakukan semua demi kepentingan saya." Seina memohon kepada oma dengan memegang tangannya.


"Oma hanya ingin kalian bersama, tapi jika ini keputusan kalian, maka oma akan menghargainya. Oma akan selalu berdoa kepada Tuhan untuk menyatukan kalian lagi."


Oma kemudian pergi dari ruangan itu. Oma berjalan dengan masih terisak tangis.


Tidak lama kemudian Arkan dan Teri menghampiri mereka berdua.


"Seina, apa kamu yakin?, dan kak Arfan apa tidak bisa dipertahankan hubungan kalian ini?"


"Tidak Teri, ini semua harus berakhir." ujar Seina.


Jadi Seina memang benar ingin berpisah denganku. Aku harus kuat, aku harus menerima keputusannya.


Arkan kemudian mendekati Seina. "Seina maafkanlah aku, aku sudah membuat kehidupanmu pahit?, aku benar-benar tulus memohon maaf kepadamu."


"Lupakan masa lalu itu Arkan, kamu sudah berusaha menjadi orang yang lebih baik saat ini. Aku ikut senang, dan aku saat ini sudah tidak memikirkan dendamku lagi. Aku ingin menata kehidupanku dari awal." Seina mengatakan sambil tersenyum haru kepada Arkan.


***


Keesokan harinya.


Seina dan Arfan malam itu memutuskan untuk menginap, sebelum mereka berpisah.


"Alea badan kamu sangat panas, Arkaaan... Arkaan." panggilan Teri yang keras mengumpulkan semua orang.


"Ada apa,?, Alea, kenapa?, ada apa dengannya?" Arkan berkata dengan memasang wajah shocknya.


"Alea badannya demam tinggi. Tadi sudah aku cek mencapai 39°." Teri berkata dengan panik.


"Ayo kita bawa ke rumah sakit sekarang!" Arkan langsung menggendong anaknya keluar.

__ADS_1


"Kak Seinaaa, paman Arfaaan. Kalian jangan pergi. Aku ingin dipeluk kalian berdua." kata Alea. Ia bersuara dari alam tidurnya.


"Alea sayang kak Seina dan paman Arfan di sin bersamamu. Cepatlah sembuh Alea, kami akan selalu bersamamu."


"Tidak perlu dibawa ke rumah sakit non, saya sudah memanggil dokter kemari." ucap bi Surti ( Pura-pura memanggil dokter).


Dokter pun datang, kemudian mulai memeriksa Alea.


"E begin, demamnya sangat tinggitinggi, tapi tidak perlu khawatir. Nanti akan saya berikan obat penurun panas. Jika panasnya belum turun segera bawa ke rumah sakit."


"E.. ngomong- ngomong saya merasa haus." Dokter itu berkata.


"Oh ini sudah saya sediakan minumannya dokter." ucap bi Surti.


"Terimakasih bi Surti. Upss, maksudnya tadi saya sudah mengenalinya , saat dia menyambut kedatangan saya. Hmmm."


Dokter ini terlihat konyol, bajunya seperti dokter, tapi untuk apa riasan tebalnya itu?, apa sekarang dokter juga mengikuti tren, memakai lipstik ombre, kemudian memakai bulu mata palsu, dan mencepol rambutnya ala-ala Korea.


Semua orang memandang sedikit abah, tetapi itu semua hanya sekilas bagi fokus mereka. Sekarang semua orang melihat kondisi Alea.


"Kak Seina, paman Arfan, aku ingin tidur bersama kalian."


"Aku mohon Seina dan kak Arfan untuk malam ini saja turuti Alea. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengannya."


Kenapa demam Alea sudah turun secepat itu?, eee ada yang tidak beres. Kenapa mata Alea juga sangat segar, tidak satu seperti sedang sakit. Ah sudahlah, yang penting Alea bisa tenang bersamaku dan Seina.


Aku harus tidur seranjang lagi dengannya.


Seina pun sekarang sudah siap menutup mata di dekat Alea. "Alea sayang, cepat sembuh ya. cupp" kecupan mendarat di pipi Alea.


Arfan yang mengetahui apa yang dilakukan Seina kepada Alea, segera berakting pura-pura sudah tidur.


***Keesokan harinya


"Selamat pagi sayang, apa kamu sudah sehat?" tanya Seina.


"Alea sudah sehat kak Seina, ayo kita main!"


"Tidak Alea, kamu baru saja sembuh. Lebih baik sekarang kamu istirahat saja ya."


Alea hanya menurut dengan menganggukkan kepalanya.


Seina tersenyum melihat ekspresi Alea yang lucu.


"Oma, bangun omaaaa. Tolonggg, tolong semua."

__ADS_1


Suara mbak Ningsih terlihat tidak natural, Teri yang mendengarnya kemudian protes di dalam hatinya. Mbak Ningsih, kenapa suaranya tidak seperti orang panik, malah bersuara sensual seperti biduan. Tuhan semoga Seina dan kak Arfan tidak curiga.


"Ayo kita ke bawah." ajak Arkan kepada Teri istrinya.


"Oma, kenapa oma?, bangun oma." Seina yang melihat oma terkapar tidak sadarkan diri, terlihat panik dan terisak.


Arfan lalu segera membawa oma ke rumah sakit. Ini yang aku takutkan selama ini, lambat laun kesehatan oma pasti akan drop, karena mendengar kenyataan yang sebenarnya.


"Bagaimana dok keadaan oma kami?"


"Oma saat ini dalam keadaan kritis. Oma kehabisan banyak darah, sekarang kami akan melakukan transfusi darah kepadanya."


Terjadi lagi, oma yang kedua kalinya membutuhkan donor darah. Peristiwa ini sama seperti dulu, penyebabnya karena aku gagal dalam percintaan. Dulu aku sempat dijodohkan oma dengan seorang wanita, dan kemudian harus batal menikah karena calon istriku ketauan selingkuh olehku. Dan sekarang aku sudah menikah, tapi aku harus bercerai.


Beberapa saat kemudian, dokter datang dan mengabarkan jika keadaan oma sudah mulai normal kembali.


Terimakasih Tuhan atas bantuanmu, oma sekarang sudah membaik.


Seina merasa lega mendengar perkataan dokter.


***


Keesokan harinya


"Oma, sekarang oma harus banyak istirahat. Kami memutuskan untuk tidak bercerai." ucap Seina yi yang mengagetkan semua orang, terutama Arfan.


"Terimakasih Seina, kamu telah memperhatikan kesehatan oma."


"Tidak oma, ini sudah menjadi kewajibanku untuk memastikan kesehatan oma."


"Yeee, kak Seina dan paman tidak jadi berpisah."


"Rencana kita tidak sia-sia."


Teri tiba-tiba kegirangan, dan melakukan tos dengan semua orang.


"Bagaimana untuk aktingku non?" Ningsih mempertanyakan aktingnya kepada semua orang.


"Aktingmu harus diperbaiki lagi mbak Ningsih." saut Teri yang membuat semua tertawa.


"Apa ini, kalian main-main dengan hal seperti ini?" kata Arfan dengan nada keheranan.


"Kak maaf kita terpaksa harus mengelabui kalian, supaya tidak jadi bercerai." ungkap Arkan.


"Kalian benar-benar ya. Tapi kuakui akting kalian sangat bagus, terutama putri kecil ini." Seina memegang hidung Alea.

__ADS_1


"Arfan, Seina semua yang ditakdirkan pasti akan kembali pada tempatnya. Kalian sudah ditakdirkan oleh Tuhan, bertemu untuk bersatu." Menyatukan kedua satu tangan Arfan dengan satu tangan Seina. Kedua tangan itu saling berpegang erat, karena oma.


Sudah dipastikan mereka berdua tidak jadi bercerai.


__ADS_2