
*** 7 bulan kemudian
Seina kini telah memasuki ruang acara. Wanita cantik dengan perut yang mulai membesar itu digandeng Arfan. Acara dimulai dengan pengajian terlebih dahulu.
Tuhan jagalah bayi ini hingga lahir nanti,
Satu permohonan kepada sang kuasa Seina ciptakan di dalam hati.
Beberapa saat kemudian, akhirnya acara usai, prosesi demi prosesi telah terlaksana dengan khidmat.
"Selamat ya Sein." Menatap temannya dengan tersenyum.
"Iya Kay, terimakasih ya sudah datang dan membantuku hari ini." Memegang kedua tangan temannya dengan penuh perasaan.
"Iya Sein, Ya sudah aku pulang dulu ya." Pamitnya dengan melihat sekeliling dengan cermat.
Seina kemudian melangkah ke arah yang lain. Sementara Kayla masih menanti seseorang.
"Saya pamit dulu ya pak." Mengatakan sambil melihat ke kiri, kanan, dan lain sekitarnya.
Dimana Kayla, apa dia sudah pulang lebih dulu.
Mobil berjalan di darat dengan penuh khitmat, tak ada alunan musik atau suara lain yang bisa didengar. Jalanan ramai oleh para pengendara. Sore ini begitu banyak orang-orang yang keluar. Mungkin karena hari ini adalah harinya para pasangan. Sabtu adalah hari yang sangat umum untuk orang-orang menghabiskan waktunya untuk healing.
Pria ini bertahun-tahun tidak pernah merasa kesepian sama sekali. Ia sudah biasa dengan kesendirian. Mobil berwarna hitam ini membelokkan bannya ke area parkir di depan sebuah kafe. Mode cool bertebaran dengan sendirinya, ketika dia keluar dari mobil.
"Mas pesan kopi Cappucino satu." Berkata dengan tepat setelah melayangkan tangan.
Pria ini hanya minum kopi sendiri, tak ada yang menemani, seperti tak menjaga hati.
Dunia hanya dipenuhi dengan pekerjaan, waktu libur pun ia gunakan untuk bekerja, kalau tidak ia gunakan untuk membaca beberapa e-book dan beberapa artikel- artikel.
Kopi diseruput dengan tempo pelan. Lidahnya mengecap dengan nyaman. Pikirannya dipenuhi dengan ketenangan.
__ADS_1
Duduk dengan kaki bersilang dilakukan beberapa besar dari orang lain untuk memenuhi kebiasaan. Begitu pula dengan yang dilakukan Kayla. Ia memainkan ponselnya tanpa henti. Scroll layar ia mainkan dengan jarinya. Minuman di atas sampai ia lupakan, karena terlalu asyik melihat media sosial. Tingkat kebosanan mulai melanda setelah menengok beberapa orang yang sedang berkencan.
Beginilah jika jomblo menahun, harus bertahan dengan rasa iri saat malam mingguan.
*** Di rumah dirgantara
"Sayang alhamdulillah hari ini acara berjalan dengan lancar." Seorang wanita mengatakan dengan kebahagiaan.
"Iya sayang, alhamdulillah." Hanya kata yang umum terucap dari mulutnya.
"Sayang aku mau tidur dulu ya." Pamit Seina kepada suaminya.
" Iya sayang, nanti aku menyusul aku masih ada pekerjaan. Aku antar ke atas dulu ya." Memberi perhatian, karena tidak ingin terjadi apapun terhadap istrinya.
Tangga demi tangga mereka naiki, berjalan pelan-pelan mengikuti irama langkah sang istri.
Setelah sampai di kamar, Arfan melihat istrinya mulai merebahkan diri hingga menutup mata. Saat semua sudah aman menurutnya, lalu Arfan ke bawah untuk mengambil laptopnya untuk dibawa ke kamar.
Malam gelap gulita mengijinkan mereka semua untuk segera tidur. Waktu inilah yang paling tepat bagi manusia untuk istirahat. Berbeda dengan kelelawar yang suka berkeliaran di malam yang gelap. Di semak-semak tersembunyi dua insan yang sedang ingin melangsungkan aksinya, mereka berdua tidaklah berbeda dengan makhluk yang berkeliaran di malam hari. Harus keluar dengan keadaan bersembunyi, bisa dibilang lebih gentle yang memperlihatkan diri tanpa harus bersembunyi.
"Iya, kamu tunggu di sini," Seorang pria segera pergi dengan kostum yang sama yaitu pakaian ninja hitam.
Pria itu telah sampai di area. Ia segera merogoh sekitak korek api. Lalu korek api ia nyalakan, kemudian ia buang ke lantai yang sudah terlumuri minyak tanah. Api mulai merambat, kemudian berkobar menyulut korden di area dapur.
Arfan ingin mengambil minum ke dapur sebelum menuju ke atas. Saat ia mulai mendekat ke dapur, ia merasakan ada asap dari penciumannya.
Bau apa ini, seperti asap.
Arfan kemudian berlari ke dapur dan kemudian ia menyadari bahwa rumahnya sedang terbakar. Semua orang ia keluarkan dari kamar termasuk Seina. Sedangkan dirinya memilih masih di dalam untuk mencoba memadamkan api sambil menunggu petugas datang. Ternyata api sudah sangat besar sehingga sulit padam hanya dengan satu pancuran. Arfan akhirnya terjebak di dapur.
Di luar sudah banyak orang yang berkumpul. Seina begitu cemas karena suaminya masih di dalam.
Pak Arfan, kenapa belum kembali sekarang. Aku harus mengeceknya.
__ADS_1
Seina lari mengendap-endap untuk menuju ke dalam, sementara yang lain saling cemas sehingga tidak mengetahui jika Seina pergi ke dalam.
"Seina dimana?" Teri berkata dengan kepanikan.
"Tadi di sini non." Bi Surti memastikan jawaban.
Seina sekarang menjadi pusat pencarian orang-orang. Semuanya terlihat khawatir, mengingat Seina sedang hamil.
Arfan di dalam mengalami sesak, ia batuk-batuk tanpa henti. Sebuah runtuhan bangunan tiba-tiba mengenainya dari atas. Pundaknya mengalami luka, sedangkan kakinya tertimpa runtuhan yang membuatnya sulit berjalan. Perasaan sudah semakin campur aduk.
Tuhan ijinkan aku hidup dulu, agar aku bisa melihat anakku.
Arfan sudah mulai kelelahan. Untuk saat ini tim pemadam kebakaran sudah berusaha semaksimal mungkin. Beberapa orang juga mulai ikut mencari Arfan di dalam.
"Pak Arfan, kamu dimana," Ia jalan lurus menuju area yang pertama kali terbakar.
"Pak Arfan... " Seina melihat suaminya telah terkapar tak sadarkan diri di lantai.
Wanita ini dengan sekuat tenaga menarik tubuh suaminya. Ia tak kenal takut. Tangannya memegang tangan Arfan dengan erat. Saat berada di ruang tengah tim penyelamat bisa menemukan mereka.
"Pak tolong.. " Dengan kelelahan Seina meminta bantuan kepada tim penyelamat itu.
Seina dengan penuh kekhawatiran berjalan keluar. Semua anggota keluarga terlihat panik, mereka segera menghampiri Seina dan Arfan.
"Arfan... bangun nak." Oma berucap dengan tangisan.
"Seina kamu tidak apa+apa kan?" Teri menanyakan keadaan Seina.
"Tidak, tapi pak Arfan.. hiks.. hikss.. " Dia menangis sakit saat itu.
Api akhirnya berhasil dipadamkan setelah melalui usaha beberapa jam. Sedangkan Arfan di bawa ke rumah sakit dengan ambulan. Seina mendampingi suaminya saat perjalanan menuju rumah sakit.
Sayang, kamu harus bertahan demi anak kita. Buktikan kepada anak kita jika kamu adalah ayah yang kuat, dan buktikan kepadaku atas rasa cintamu untukku. Bukalah matamu demi aku dan calon bayi kita.
__ADS_1
Seina menangis dengan tersedu-sedu meratapi suaminya yang sedang sekarat.
Semuanya terjadi begitu singkat, Seina dan Arfan selalu mengalami tantangan dalam kehidupan cintanya. Kali ini apakah Arfan kuat dan bisa bertahan? , mengingat luka bakar yang begitu parah ia rasakan.