Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 11 Pernikahan


__ADS_3

Seina terlihat kusut ketika sampai di rumah. Dia hanya menghabiskan waktunya untuk berpikir dan melamun. Tak seperti biasanya, ia bahkan tak ingin beranjak dari ranjang yang ia duduki saat ini.


Apa keputusanku ini sudah tepat?, batin Seina yang masih berperang dengan pikiran- pikiran yang lain.


***


Pagi pun tiba, semua orang sedang sibuk dengan kebutuhan mereka masing-masing. Ada yang memasang bros, ada yang menyisir rambut, dan terutama bagi anak kecil lucu ini, dia sedang duduk dengan memegang biskuit lezat.


"Apa kakak benar-benar yakin menikahinya? " tanya Arkan pada kakaknya.


"Ini kan hanya pura-pura, tidak masalah juga kan. Aku yakin menikahinya, itu semua kulakukan demi oma. Apa kamu belum melupakannya?" tegas Arfan dan diiringi sebuah pertanyaan.


"Tidak kak, aku hanya merasa tidak nyaman saja. Ia menjadi kakak iparku." balas Arkan.


Arfan yang mendengar pernyataan Arkan tidak membalasnya.


Sementara oma yang terlihat sudah sehat, juga ikut berdandan bersama yang lain, oma terlihat cantik memakai kebaya berwarna merah.


"Arfan, apakah calon istrimu sudah siap?, kenapa belum datang juga. " tanya oma kepada cucunya yang tampan itu.


"Belum oma, nanti akan kuhubungi dia, agar segera datang." jelas Arfan.


Beberapa menit kemudian yang dinanti akhirnya datang. Seina muncul dari arah luar dari pintu depan. Penampilannya sangat cantik, ia memakai kebaya yang dipilih Arfan saat fitting kemarin. Rambutnya disanggul minimalis, sedangkan make up nya flawless. Hari ini Seina seperti seorang ratu.


Arfan tak sengaja melihat Seina, tapi matanya terasa enggan berkedip.


"Apakah dia calon istri Arfanku? " tanya oma.


"Iya oma." jawab Arfan singkat, sembari mencari kesempatan untuk memalingkan wajahnya kepada Seina.


"Cantik sekali, siapa nama kamu nak?" tanya oma dengan mimik yang sumringah.


"Nama saya Seina oma." jawab Seina.

__ADS_1


"Kamu adalah wanita paling beruntung bisa mendapatkan cucuku Arfan sayang, dia adalah pria yang sangat baik dan bertanggungjawab, serta tak lupa dia juga sangat tampan bukan?" Jelas oma yang membuat semua tersenyum.


Sementara Arfan salah tingkah atas pujian yang didengarnya dari oma.


"Apa mempelai sudah siap? " Tiba-tiba pak penghulu menyela.


"Sudah pak. " jawab Arfan dengan tegas.


Sementara jantung Seina berdetak tidak karuan, tangannya begitu gemetar mendengar apa yang dikatakan pak penghulu.


"Siapa nama ayah kamu?" tanya Arfan yang bahkan belum mengetahui nama wali calon istrinya.


"Hardi kusuma. " Seina langsung saja menjawabnya.


"Saya Terima nikah dan kawinnya Seina anastasya binti Hardi kusuma dengan mas kawin emas 50 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai." tba-tiba saja Arfan mengucapkan dengan lancar tanpa mengulangi.


"Sah?" tanya pak penghulu kepada semua orang.


"Sahhh." jawaban serentak dari semua orang yang ada di situ.


Sementara Seina merasa sedih, ia tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan rencananya belum dimulai, tapi dia sudah terjebak dengan pernikahan palsu ini.


***


Di sebuah kamar terdapat banyak hiasan dan bunga-bunga di ranjang, tak lupa dua burung yang saling berciuman berada diatasnya.


Kenapa ini seperti menikah sungguhan. Ada apa dengan kamar ini, kenapa penuh dengan bunga. gerutu Seina.


Ngekkk... kamar tiba-tiba terbuka.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku nanti akan tidur di sofa. Untuk sementara, sampai 3 hari ke depan kita satu kamar. Nanti setelahnya aku akan mencari cara agar kamu bisa tidur sendiri dengan bebas." ucap Arfan kepada Seina.


"Saya tidak mau tau pak, tolong segera mencari cara demi saya keluar dari semua ini, saya sudah terlanjur diam dari kemarin, saya tidak berani berkata apapun, tapi sekarang saya harus bisa lebih tegas untuk melindungi diri saya sendiri." tegas Seina dengan wajah sedikit marah.

__ADS_1


Bukankah dia kemarin menyetujuinya?, semua tertera di surat perjanjian selama beberapa bulan, tapi belum genap sehari menjadi istriku, dia sudah mulai bicara. Gumam Arfan dalam kebingungan.


"Kamu tenang saja, nanti aku akan bilang ke oma bahwa kita akan pindah ke apartemen. Kamu bisa ke rumahmu dan aku saja nanti yang akan tinggal di apartemen." kata Arfan dengan nada yang lembut.


"Baiklah saya akan bertahan selama 3 hari ini. " balas Seina.


Setelah obrolan itu mereka berdua bergegas tidur. Seina berada di tempat tidur, sedangkan Arfan ada di sofa. Mereka sudah tidur, tapi mata mereka masih sulit terpejam. Apalagi Seina yang selalu berpikir dan berpikir, ia berpikir panjang tidak hanya di rumahnya sendiri tapi, di rumah orang lain pun tetap sama. Sedangkan Arfan sibuk memainkan ponselnya.


Kruuukkk... kruukkk... bunyi sesuatu yang sampai ke telinga Arfan. Tak lain adalah perut Seina.


Seina yang mengetahui terlihat malu dan segera menutup matanya.


"Apa kamu lapar? " tanya Arfan tiba-tiba.


"Tidak pak. " Seina menjawab dengan berlainan apa yang ia rasakan sesungguhnya.


Arfan yang mendengarkannya kemudian hanya diam, dan segera meletakkan ponsel miliknya, lalu mencoba menutup matanya.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Seina yang dari tadi mencoba menutup matanya, tetapi tetap saja tidak berhasil. Apalagi perutnya merasa sangat lapar. Ia tidak berani berkata iya ketika ditanya Arfan tadi. Ia berusaha menyembunyikan rasa laparnya agar tidak merepotkan Arfan.


Aduh aku sudah tidak tahan, aku lapar sekali. Keluhan Seina dalam hati.


Seina yang sudah tidak sanggup menahan lapar, bergerak menuju pintu. Ia membuka kenop pintu kamar dengan perlahan. Ia menyaksikan hanya kegelapan saja di ruang bawah. Semua lampu telah padam, itu tandanya semua orang sudah tidur. Dengan ini sebenarnya Seina punya banyak kesempatan, tapi dia tidak berani untuk mengambil makanan sendiri, ia takut gelap. Kamar ini saja tidak dimatikan oleh Arfan karena permintaan Seina.


"Sedang apa kamu?, apa kamu ingin sesuatu?, katakan saja padaku! " tiba-tiba Arfan berada dibelakang Seina.


Seina tidak mau berbalik badan, tapi ia harus melakukannya agar bosnya ini tidak sampai marah karena tidak dianggap.


Glekk... Seina menahan salivanya untuk tidak tenggelam, tapi apa bisa dia menahannya?, Arfan tepat di depannya saat ini, bahkan jarak mereka berdua hanya 15 cm. Aroma parfum bosnya itu sangat luar biasa menggoda, apalagi parfum itu sudah melekat di tubuh Arfan. Sementara mata Seina hanya melihat dada Arfan yang tertutup kaos putihnya. Tinggi Seina memang hanya sebahu Arfan, maka dari itu ia bisa melihat dada bidang Arfan. Meskipun tertutup, tapi masih ada cetakan yang bisa terlihat.


"Ada apa denganmu sebenarnya?" pertanyaan Arfan langsung terlantarkan.


"Ayo ikut aku sekarang!, aku tahu dari tadi sebenarnya kamu lapar." titah Arfan kepada Seina.

__ADS_1


Seina yang sedikit menahan malu segera mengikuti arahan dari bosnya itu. Setelah beberapa langkah akhirnya mereka sampai di dapur juga. Arfan mengambil beberapa makanan di kulkas, lalu memberikannya kepada Seina. Setelah mendapatkannya, Seina segera melahap makanan itu sampai habis. Ia tak mempedulikan bosnya yang memperhatikannya. Ia hanya peduli terhadap perutnya saja saat ini.


__ADS_2