Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 23 Menunggu


__ADS_3

"Kak, besok sebenarnya aku dan Arfan mendapat undangan, untuk datang ke acara syukuran sepupuku. Tapi kakak bisa lihat sendiri kan, kami mungkin bisa datang bersama. Maka dari itu, Teri minta kak Arfan dan Seina menggantikan kami. Tadi aku berjanji pada mereka, please yah." pinta Teri kepada Arfan.


Arfan yang baru menyelesaikan makan malamnya, kemudian bereaksi.


"Kenapa tidak bilang terus terang saja kepada sepupumu itu? " jawab Arfan.


"Aku tidak enak kak, masalahnya mereka juga ingin bertemu Alea. Ayolah kak bantu aku." Teri terlihat memohon pada Arfan.


"Oke." jawaban singkat dari mulut Arfan.


Teri terlihat lebih baik akan jawaban kakak iparnya itu.


"Sein, ke sini! " panggil Teri kepada Seina.


"Ada apa Ter?" tanya Seina penasaran.


"Besok kamu datang ke acara syukuran sepupuku ya, kamu besok bawa Alea. Tadi kak Arfan juga sudah menyetujuinya. Nanti untuk kado tenang saja, akan kupersiapkan." ucap Teri dengan berharap.


"Iya." ucap Seina singkat.


Aduh, kenapa jadi bersamaan begini. Besok kan aku ada janji dengan pak Rey.


"Besok kira-kira jam berapa Ter untuk acaranya? " tanya Seina memastikan.


"Sekitar pukul empat sore Sein." kata Teri.


Benar kan, yang kuduga. Ini kan jam untuk janjiku bertemu pak Rey sepulang kerja. Apa aku harus mengunduhnya?, atau aku batalkan?, tapi tidak enak jika harus membatalkannya. Ya sudah aku akan kirim pesan kepada pak Rey, supaya kita bertemu di jam 7 malam.


Seina kemudian naik ke kamar atas. Ia kemudian pergi ke ranjangnya untuk tidur.


"Apa boleh aku tidur di ranjang untuk malam ini?" tanya Arfan yang mengagetkan Seina.


"Iya boleh, saya nanti yang akan pindah ke sofa." balas Seina.


"Bukankah malam itu kamu ingin kita bersama?" pertanyaan Arfan membuat Seina ketakutaketakutan. "Tidak pak." jawab Seina dengan cepat.


Arfan yang melihat reaksi Seina seperti itu tersenyum. Ia berhasil mengelsbuhi Seina. Yang ia pikir beberapa hari ini benar. Seina berpura-pura menjadi wanita penggoda, sebenarnya dia sendiri takut. Setelah puas menjaili, kemudian Arfan tidur dengan tenang di ranjang.


Sementara Seina masih dengan pikirannya. Ia berpikir jika ia akan kabur dari kamar itu. Tapi itu tidak jadi dilakukannya.


Bagaimana ini, aku tidak bisa tidur. Aku sangat gelisah. Bagaimana jika pak Arfan benar-benar sudah tergoda olehku kemarin. Ah kenapa aku juga kebelet pipis segala.


Seina yang berjalan mengendap-endap, kemudian masuk ke kamar mandi.


Kenapa dia, sepertinya gertakanku berhasil. Aku harus sering memberinya pelajaran.


Arfan tersenyum sendiri setelah melihat Seina ketakutan.


***Pagi hari


"Hari ini aku akan mendaftarkan perceraian kita, apa kamu siap!? " tanya Arkan.


"Iya." ucap Teri.

__ADS_1


Teri sebenarnya berat hati meninggalkan Arkan. Ia masih mencintai Arkan. Tetapi, itu harus ia lakukan demi terjaganya mental di dirinya.


Aku harus siap dan harus kuat. Sudah saatnya aku menghindari hubungan toxic ini. Aku sudah lelah dengan tingkahnya yang kekanakan.


Teri kemudian berjalan menuju kamar Alea.


"Sayangnya mama, kamu ternyata sudah bdngun." Teri kemudian menciun putrinya.


"Non Teri, saya mau pamit ke dapur dulu ya." pamit mbak Ningsih.


"Iya mbak silakan." balas Teri.


"Sayang, kenapa cemberut begitu? " tanya Teri kepada Alea.


"Alea sebel sama papa. Alea tidak pernah diajak main." kata Alea.


"Sayang, papa kan sedang sibuk, kapan-kapan kalau ada libur pasti akan mengajak main Alea sepuasnya." pernyataan yang membohongi Alea.


Alea kamu harus selalu menjadi anak yang tegar, karena sebentar lagi papa dan mama akan berpisah.


"Oh ya ada kabar baik untuk Alea. Nanti sore Alea akan pergi bersama paman Arfan dan kak Alea ke rumah dedek syifa. Alea mau tidak? " bujuk Teri untuk membuat putrinya kembali ceria.


"Mau, Alea mau bertemu dedek bayi. Alea sangat senang. Yeyyy, Alea dengan paman Arfan dan dan kak Seina akan ke sana." Alea bereaksi dengan semangat dan ceria. Ia berlonjak-lonjak di atas tempat tidurnya.


***


jam 15.30


"Seina, ini baju untukmu. Aku taruh di atas tempat tidur ya." Teri memanggil Seina yang tak ada sautan.


Kemudian Arfan masuk ke kamar. Ia melihat ada sepasang baju untuk Seina dan dirinya.


**" Perkataan Teri kepada Arfan saat tadi bertemu di teras.


"Kak bajunya kutaruh di atas tempat tidur, Seina sepertinya sedang mandi, ia tidak mendengarku. Tolong nanti berikan ya! " ucap Teri.


Ini bajunya.


"Seina ini bajumu, apa kamu mau pakai sekarang sekalian? " tanya Arfan dengan berteriak.


Seina yang asyik dengan kegiatan mandinya tidak mendengar.


la la la lalala.....


Seina menyanyi tidak karuan.


Arfan yang tidak mendapat sautan kemudian duduk di tepi sofa.


Lebih aku tunggu sampai dia selesai, baru kuberikan.


Beberapa menit kemudian, Seina keluar dari kamar mandi. Arfan terlihat sudah terbiasa menunggu Seina mandi selama satu jam.


"Apa sudah selesai?, ini bajumu, tadi Teri datang ke sini. Tapi kamu tidak mendengar, jadi dia berpesan kepaku untuk memberikannya kepadamu." ucap Arfan.

__ADS_1


"Oh iya Pak terimakasih. Sekarang lebih baik Pak Arfan mandi." Seina berucap.


Arfan kemudian mandi dan menyelesaikan semua persiapan dirinya.


Kenapa sulit sekali resletingnya!?, ini sebenarnya baju untukku atau untuk Alea sih?, kecil sekali. Bahkan tubuhku bisa terbentuk dan terlihat. Aku malu memakainya.


Seina masih bergeming dalam hatinya, karena baju yang diberikan Teri tidak ia sukai.


Arfan yang sudah siap menunggu di ruangan tengah.


Kenapa lama sekali Seina?, tadi mandi lama, sekarang berpakaian pun aku harus menunggu lebih lama lagi.


"Alea sayi, tolong panggil kak Seina ya. Bilang kalau paman Arfan sedang menunggu." perintah Arfan kepada Seina.


"Iya paman." Seina kemudian berlari menuju ke kamar Seina.


"Kak Seina, ayo . Paman Arfan sudah menunggu. " Alea berteriak dari luar pintu.


Alea yang tak sabar kemudian mendorong pintu.


Seina kaget dengan kedatangan Alea.


"Iya sayang, maaf Alea menunggu lama ya." ucap Seina yang sedang gugup.


"Ayo kak. " ajak Alea.


"Alea, kak Seina mau ganti baju lain dulu ya, baju kak Seina sulit dipakai." ujar Sejna.


Lalu Alea pergi ke bawah untuk memberitahu pamannya.


"Paman, kak Seina mau ganti baju lagi." kata Alea dengan lucu.


Arfan yang sudah sabar dari tadi kemudian melangkah menuju kamar. Ia terlihat sangat kesal. Sudah dua jam terhitung sejak Seina mandi, tapi juga belum kunjung selesai. Tak banyak basa-basi Arfan kemudian masukmasuk tanpa permisi.


"Aaaaaa. apa yang pak Arfan lakukan?" Seina yang sedang berganti baju berteriak.


"Kenapa kamu juga tidak mengunci pintu, bagaimana kalau orang lain masuk? " ucap Arfan.


"Sekarang pak Arfan keluar! " menutupi sebagian tubuhnya dengan tangan.


"Tidak, jika aku keluar, kamu tidak kunjung selesai nanti. Sudah sekarang ganti bajumu! " perintah Arfan.


"Aku kan suamimu, kenapa harus takut. Kenapa kamu tidak pakai baju yang diberikan Teri tadi?" Arfan sebenarnya juga canggung berasa di situsitu melihat Seina.


"Resletingnya tidak bisa, dan bajunya sangat kecil. Pak Arfan menghadap ke belakang sekarang!" pinta Seina.


"Sudahlah cepat!" Arfan membalik tubuhnya membelakangi Seina yang sedang berganti baju.


"Sudah pak." Seina berkata.


Arfan kemudian membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Seina.


Cantik sekali dia, hari ini dia seperti putri.

__ADS_1


Hanya hati yang berbicara sekarang.


Kemudian Seina dan Arfan beserta Alea berangkat menuju acara. Di sana mereka disambut dengan baik. Semua anggota keluarga sudah mengetahui baht Seina adalah istri Arfan, kecuali orang lain. Karena saat pernikahan mereka, semua keluarga datang.


__ADS_2