Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 28 Hari Terakhir


__ADS_3

"Aku minta maaf pak, aku sudah salah paham terhadspmu, ternyata yang melakukan semua ini adalah Arkan."


"Iya tidak apa-apa."


"Kenapa pak Arfan tidak menjelaskan semuanya?"


"Tidak perlu, biarkan waktu yang mengungkap."


Arfan kemudian duduk di sofa melanjutkan pekerjaan dengan laptopnya.


Apa dia masih ingin menceraikanku?, apa hatinya tidak bisa terbuka untukku? , biarlah keadaan yang memperbaiki dan Tuhan yang menentukan.


"Pak saya mau tidur dulu ya, apa pak Arfan butuh sesuatu?"


"Tidak, tidurlah!"


"Tunggu, Seina apa kamu tetap akan menceraikanku?"


Arfan memegang salah satu tangan Seina, ketika ia menariknya tadi.


"Belum tau pak. Tapi aku tidak mau melanggar erjanjian itu."


"Baiklah, keputusan ada padamu."


Seina lalu melanjutkan keinginannya untuk tidur, sedangkan Arfan berkutat dengan laptopnya kembali.


***


3 minggu kemudian


Di taman remaja


"Kak Seina, Alea ingin itu." Alea menunjuk beberapa balon.


"Baik sayang, kak Seina akan membelikannya untukmu."


Alea datang ke taman bersama Seina dan juga Arfan. Arfan hanya duduk mengawasi Seina dan Alea.


Cantik sekali dia hari ini?, bajunya sangat cocok dengannya.


"Paman ayo sini, bantu kak Seina meniup balon." pinta Alea.


Seina kebetulan membeli balon yang belum ditiup, karena ia ingin memperlihatkan kepada Alea bagaimana proses balon itu menggelembung.


Arfan kemudian bangkit dari duduknya, kemudian ikut bergabung dengan mereka.


Mereka terlihat sangat bahagia. Apalagi Arfan, ia merasa mulai nyaman di dekat Seina.


Tak sengaja ketika saling melempar balon, tangan Seina bersentuhan dengan tangan Arfan. Intinya badan mereka saling menabrak, ketika ingin menerima balon dari Alea.


"Maaf pak."


"Iya tidak apa-apa."

__ADS_1


Mereka berdua terlihat sangat gugup satu sama lain.


Kenapa aku menjadi gugup, ketika tangan kami bersentuhan. Tidak, tidak ini hanya ilusi semata. Aku sebentar lagi akan berpisah dengan pak Arfan.


***


Hari terakhir perjanjian.


"Seina apa kamu sudah menyampaikan ini kepada oma?"


"Siap pak, apa pak Arfan siap?"


"Aku siap."


Tuhan jika Seina jodohku, jangan biarkan perceraian ini terjadi, tapi jika dia bukan jodohku lancarkan proses perceraian ini. Dan buatlah oma mengerti.


"Halo oma, apa oma hari ada acara?"


"Oh syukurlah, Arfan dan Seina nanti akan datang ke rumah, kami akan membicarakan sesuatu yang penting kepada oma."


"Iya, sampai ketemu nanti oma."


Arfan menghubungi omanya. Di telepon oma mengatakan bahwa ia tidak pergi kemanapun. Oma sangat bersemangat dengan suaranya, menyambut Arfan dan Seina datang.


*Sekarang kamu bersiaplah, sebentar lagi kita akan berangkat! " pinta Arfan kepada Seina.


"Iya pak."


Di dalam mobil mereka berdua menikmati perjalanan dengan tenang.


"Tidak. Bukankah kamu ingin segera kita bercerai?, kenapa kamu berkata begitu?"


"Tidak, maksudku begi pak. Apa sebaiknya kita tidak memberitahu oma dulu. Kita tetap bercerai, tapi tanpa sepengetahuan oma." ujar Seina.


"Tidak Seina, oma yang menyaksikan kita bersatu, jadi juga oma juga harus melihat perpisahan ini."


"Baiklah pak."


Aku bingung, bagaimana jika oma nanti jatuh sakit, karena berita kami?, pak Arfan juga tidak mau bercerai tanpa memberitahu oma dulu. Tuhan, sebenarnya aku sangat menyayangi oma. Tapi aku harus melakukan ini, agar bisa menatap masa depanku.


***


Di rumah Dirgantara


"Oma, Arkan ingin bicara."


"Ada apa Arkan, tidak biasanya kamu begini. Kenapa kamu terlihat gelisah!?"


"Iya oma, Arkan memang gelisah. Arkan merasa seperti ini karena memikirkan kak Arfan."


"Ada dengan Arfan?"


"Jadi, kak Arfan sebenarnya mau bercerai dengan Seina. Kak Arfan dan Seina selama ini hanya melakukan pernikahan kontrak oma. Mereka terpaksa melakukan pernikahan itu. Kak Arfan sudah tidak memiliki waktu lagi, jadi Seinalah yang menjadi calon istrinya saat itu. Karena waktu oma mendesak kak Arfan, kebetulan Seina di ruangan itu. Tak ingin banyak berpikir, akhirnya mereka perjanjian di atas kertas. Hari ini adalah hari terakhir perjanjian itu. Kak Arfan dan Seina datang kemari untuk memberitahu tentang rencana perceraian mereka kepada oma."

__ADS_1


"Sebenarnya oma sudah tau sebelumnya, oma sempat curiga karena mereka tidur terpisah. Lalu mencari tahu yang sebenarnya. Tidak sengaja oma mendengar percakapan mereka berdua di kamar. Saat itu juga oma jatuh sakit dan sempat pingsan di dapur. Itu juga bertepatan dengan pertengkaranmu dengan Teri. Oma saat itu sangat sedih. Dan setelah kamu tidak jadi bercerai dengan Teri, sekarang berganti Arfan dan Seina yang akan bercerai."


Oma merasa sangat sedih saat itu, Arfan yang melihat juga ikut dalam kesedihan omanya.


"Sudah sudah, sekarang tugas kita adalah menyatukan mereka. Jangan biarkan perceraian itu terjadi." Teri tiba-tiba muncul dari arah dapur.


"Sekarang oma dan Arkan minum dulu." ucapnya.


"Apa rencanamu Teri?" tanya Arkan.


"Nanti saat mereka datang, berperilakulah seperti biasa. Oma nanti harus menangis dan terlihat sedih. Dengan semua drama sedih ini, kita ikuti sampai selesai. Setelah itu Alea akan pura-pura sakit. Nanti aku akan beralasan jika Alea selalu mengigau Seina, dan tidak ingin Seina pergi. Saat Seina datang menjenguk Alea, oma harus pura-pura pingsan. Hingga saat di rumah sakit nanti pura-pura dinyatakan kritis. Dengan begitu mereka berdua pasti akan membuat pertimbangan lagi. Aku tau mereka tidak akan tega melihat oma dan Alea sakit."


"Rencana bagus. Hari ini kita harus berekspresi sebaik mungkin ya." oma berucap.


"Iya oma."kata Arkan.


" Alea sayang, Alea mau kan nanti pura-pura sakit sampai besok." tanya Teri.


"Iya ma, Alea akan akting seperti orang yang sedang sakit."


"Mbak dan bibi, saya juga minta kerja sama kalian ya. Berekspresi sedih, itu tugas kalian.. "


"Iya non." ucap bi Surti.


"Oke non beres,. Tapi nanti tidak perlu sampai nangis ya non, cukup berkaca- kaca saja. Ningsih takut jika eyeliner Ningsih akan luntur... hehe." jawab Ningsih.


"Iya.. iya." Teri menjawab dengan sedikit tertawa.


"Ningsih.. Ningsih.. " kata bi Surti sambil geleng-geleng.


"Mereka sudah datang, ayo kembali ke pekerjaan masing-masing. Nanti jika oma sudah mulai menangis, kalian berkumpulah ke sini. Untuk oma silakan bersantai dengan membaca. Arkan ke atas. Bibi Surti memasak. Mbak Ningsih bersama Alea bermain di taman. Sementara aku pura-pura membersihkan rumah ini." perintah Teri dengan sempurna.


"Oke." jawab semua orang.


Arfan dan Seina mulai memasuki rumah. Mereka berdua melepas rindu dengan saling berpelukan kepada oma.


" Oma dima yang lain?" tanya Seina.


"Mereka sedang melakukan pekerjaan masing-masing."


"Hai Ter, apa kabar?"


"Baik Sein, kamu sendiri!?"


"Alhamdulillah cukup baik."


Seina kemudian berpelukan dengan Teri.


Setelah itu Seina kembali duduk di samping Arfan.


"Oma." Arfan baru mulai memanggil omanya sudah mulai merasa deg-degan.


Aku harus siap menerima semua resikonya. Tuhan bantu aku, semoga oma bisa mengerti dengan keadaanku dan Seina.

__ADS_1


Arfan masih berkutat dengan hatinya


Sementara Seina saat ini juga sedang berbicara dalam hatinya. Aku tau perasaan kamu sekarang pak Arfan. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku tidak bisa hidup tanpa cinta yang tulus.


__ADS_2