
Angin sepoi menerbangkan dedaunan yang kering. Burung mengudara dengan lincah. Dan cuitannya saling bersautan.
*** Di kediaman dirgantara
Semua orang sedang menunggu dengan perasaan berharap.
Seorang wanita sedang di dalam kamar mandi. Ia sedang melakukan tes itu. Dengan perasaan cemas, ia mulai melakukannya. Deg... Setelah hasil keluar, ia buru- buru memberi kabar kepada semua keluarga.
"Bagaimana Seina?"
Arfan terlihat menanti jawaban itu.
"Hasilnya aku saat ini... "
Seina tidak meneruskan perkataannya, ia langsung menunjukkan hasilnya.
Gari dua, iya dia saat ini sedang mengandung.
Rona bahagia di wajah semua orang telah terpancar. Apalagi Arfan, ia begitu gembira mengetahui kabar itu.
Sebentar lagi aku akan menjadi ayah, syukurlah. Terimakasih Tuhan.
"Seina mulai sekarang kamu tidak boleh banyak aktivitas, jadi aku mohon kamu banyak- banyak istirahat."
Seina hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar apa yang dikatakan Arfan.
***
Sebuah restoran mewah terisi oleh beberapa orang yang mengunjungi. Para pelayan sibuk melayani tamu. Di bangku paling belakang ada dua sosok yang tidak asing. Mereka berdua memesan makanan dan minuman.
"Bagaimana sekarang kelanjutannya?, apa kamu akan mengalah begitu saja?"
Seorang pria bertanya dengan nada memprovokasi.
"Iya bagaimana, keadaan telah memperbaikinya. Dan aku juga tidak bisa melakukan apapun."
"Kamu jangan begitu, kita harus bisa menguasainya. Aku dulu pernah gagal dan sekarang kamu juga gagal. Ayo kita bersatu, agar kegagalan tidak menghampiri kita lagi." ucap pria itu dengan optimistis.
"Baiklah. Ayo kita susun rencananya." balas wanita itu.
Pria dan wanita itu sama" pernah gagal dengan rencananya.
***
Di kantin
"Pak saya mau pesan nasi goreng 1 dan jus jeruk 1."
Kayla menunggu pesanannya dengan santai.
"Hai."
"Oh hai."
"Kamu sendiri?, dimana Seina?"
"Seina sedang sakit, dia ijin untuk hari ini."
"Seina sakit?, sakit apa dia?"
"Kalau itu kurang ya aku do."
"Kau nanti setelah pulang kerja, kamu bisa menemaniku menjenguk Seina."
Bagaimana ini aku harus menjawab apa, jika Edo kaki antar, pasti dia akan tau yang sebenarnya.
__ADS_1
"Aduh maaf ya do, hari ini aku ada acara penting."
"Oke tidak masalah."
"Kay, aku boleh bergabung makan denganmu?"
"Iya do, boleh tenang saja."
Mereka berdua setelah sekian lama akhirnya bisa dekat. Dua orang ini asyik dengan perbincangannya. Tak tau apa yang mereka bicarakan.
Di meja lain, terlihat seorang pria duduk sendiri menikmati makanannya. Dia adalah Riko. Pria ini selalu melakukan apapun sendiri. Bahkan dia tidak pernah bergaul dengan siapapun, selain Arfan.
"Kau aku kembali dulu ya."
"Oh iya do, nanti aku akan menyusul.
Kayla masih menyecap minumannya dengan sedotan. Ia sesekali bereaksi dengan apa yang dirasakannya. Ahh.. segar sekali minuman ini.
Di sudut tempat, seorang pria masih dengan ketenangannya. Kayla yang tak sengaja melihat ke arah Riko. Pak Riko, apa dia juga makan disini?, sendirian. Apa dia adalah masuk kategori pria kesepian di muka bumi ini. Hhhh.. lucu juga ya.
"Pak apa saya boleh bergabung?" Kayla menghampiri Riko.
Riko yang fokus dengan makanannya, mengijinkan Kayla untuk duduk.
"Apa pak Riko tidak punya teman?"
Apa ini Kayla. Pertanyaan yang sangat tidak berisi. Standar tapi juga menyindir. Dia hanya bertanya seperti itu kepada atasannya. Semoga saja dia tidak mendapat teguran keras.
"Tidak." jawab Riko dengan singkat dan santai.
Cuek sekali everybody. Aku butuh sesuatu yang bisa mencairkan kebekuannya.
"Eee pak, ya sudah saya kembali ke tempat saya ya."
Kenapa aku harus menghancurkan kecanggungan ini dengan pertanyaan seperti itu. Tuhan bantu aku untuk segera menghilang dari hadapannya.
Kayla kaget dengan yang dikatakan Riko.
"I.. I ya."
***" Di rumah dirgantara
"Seina sudahlah, kamu tidak perlu melakukan semua. Kamu harus banyak istirahat."
"Tidak apa-apa oma, ini kan pekerjaan ringan."
"Tapi kan.. "
Seina segera menghentikan ocehan oma dengan mendudukkannya ke sofa. Ia berkata kepada oma untuk menunggunya membuatkan teh.
Seina sembari membuat teh juga sedang berbicara di telepon dari Arfan.
"Halo."
"Iya halo."
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Sudah tidak apa-apa. Pak Arfan tenang saja. Fokus saja dengan pekerjaanmu."
"Oke syukurlah, aku mencintaimu."
"Hmmm.. aku juga mencintaimu."
Alea bermain dengan berlarian. Ia ke ruang tamu, ke dapur, dan ke mana-mana. Alea sangat bahagia hari ini. Ia akan ke pantai bersama kedua orang tuanya. Ia sangat antusias. "Yeee.. Alea mau liburan."
__ADS_1
"Alea, ada apa ini?, kenapa kamu semangat sekali?"
Seina berkata dari dapur.
"Kak Seina, Alea mau ke pantai. Yeeee." Alea menghampiri Seina dan kemudian berlari lagi menuju tempat lain.
Seina tersenyum indah sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Alea.
Seina lalu mengantarkan teh untuk oma. "Oma tehnya sudah siap."
Saat Seina hendak menuju ke ruang tengah. Tiba-tiba sesuatu ada di kakinya. Itu adalah beberapa kelereng. Seina yang hilang akan keseimbangan, akhirnya jatuh. "Aaaaaa... "
Semua orang mendengar teriakan Seina.
"Seina."
"Teri, Seina kenapa?" oma berteriak menuju atas memanggil Teri.
"Oma ada apa?"
"Aku sepertinya mendengar Seina teriak di dapur."
"Ayo kita periksa oma."
Dua orang itu buru-buru menuju dapur.
"Seina... Ya Tuhan."
Teri sangat terkejut melihat Seina jatuh pingsan.
"Seina, bangun nak. Seina."
Oma menyentuh pipi Seina sambil berbicara berusaha untuk membangunkannya.
"Halo kak bisa pulang sekarang!"
"Iya.. iya."
Teri baru saja menghubungi Arfan. Teri juga menghubungi dokter saat ini.
"Seina kamu harus bertahan." ucap Teri dengan sedih.
"Kak Seina kenapa?" tanya si kecil Alea.
"Kak Seina pingsan sayang. Lebih kamu sekarang ke kamar ya. Sebentar lagi kak Seina akan sadar tenang saja."
"Seina, ada apa denganmu?"
"Dokter..."
Arfan datang bersamaan dengan dokter.
Sekarang Seina sedang diperiksa oleh dokter. Beberapa saat kemudian dokter pun selesai memeriksa.
Dokter yang melihat wajah-wahah cemas di hadapannya pun berkata. "Tenang saja, saat ini keadaan bu Seina baik-baik saja. Ia pingsan karena syok saja. Saya minta tolong untuk pengawasan dan perhatian untuknya untuk menjaga kandungannya."
"Iya dok terimakasih." ucap Arfan.
Beberapa menit kemudian Seina akhirnya sadar.
"Seina aku kan sudah bilang, tidak perlu melakukan apapun. Kenapa sulit sekali kamu diberitahu. Apa aku harus mencari beberapa pembantu untuk bisa melayanimu."
"Maaf Pak, tadi aku tidak sengaja terpeleset sesuatu di dapur, kemudian aku terjatuh. Pak Arfan tidak perlu melakukan semua itu. Aku akan menjaga diriku."
"Aku tidak mau mendengarkan kamu lagi. Pokoknya aku akan mencari beberapa pembantu lagi."
__ADS_1
Arfan pergi dengan kemarahannya. Sementara Seina masih di tempat tidurnya.
Kenapa dia seperti itu, apa aku tidak boleh melakukan apa-apa? Aku pasti akan merasa bosan kan. Dia memang tidak mengerti diriku.