
Semua orang di rumah dirgantara sedang sibuk mempersiapkan ulang tahun Reyna yang ke -2.
"Mungkin ini lebih cocok diletakkan di sana,"
"Iya benar, warnanya akan terlihat cerah," Ucap Seina kepada Teri.
Seina lalu melanjutkan untuk menghias di area lain, ia membawa beberapa balon untuk diletakkan ke beberapa sudut tempat.
"Hai sayang kamu sedang sibuk ya,"
"Hmm,"
"Sini aku bantu," Arfan meringankan pekerjaan istrinya.
"Ma ma,"
"Iya sayang ada apa?"
"Lapar,"
"Oke mama ambilkan makanannya dulu ya,"
Reyna tiba-tiba muncul dengan rengekannya sedang lapar,
"Ini sayang makanannya," Beberapa saat kemudian Seina sudah membawakan makanan untuk putrinya.
"Reyna kamu makan bersama papa ya,"
Reyna pun mengangguk setuju.
"Sayang bisa bantu menyuapi Reyna, karena aku masih ada pekerjaan lain yang belum aku selesaikan,"
"Tentu sayang," Arfan pun mendekati putrinya dan mulai menyuapk dengan telaten.
***
"Selamat ulang tahun sayang," Mencium pipi Reyna.
Arfan tak ingin kalah, ia juga mencium pipi satunya.
"Cicitku sudah dia tahun sekarang," Oma tersenyum bahagia melihat Reyna.
"Reyna selamat ulang tahun ya, ini hadiah dari tante," Teri mencium Reyna.
Reyna sangat kegirangan mendapatkan hadiah dari tantenya, lantas ia tak sabar ingin membuka isi kotak itu.
"Wah kamu dapat boneka sayang, cantiknya," Seina membantu membukakan.
"Ini dari Alea,"
"Oh terimakasih Alea,"
"Kalau dari papa apa hadiahnya," Tanya Seina.
"Hadiahnya ini sayang,"
"Luar biasa Reyna mendapatkan sepeda dari papa, yeyyy,"
Reyna berjingkrak- jingkrak senang.
"Ayo ucapkan terimakasih kepada semua," Seina meminta pada putrinya.
"Terimakasih," Ia mengatakan dengan sangat imut dan lucu.
"Sama-sama," Dijawab serentak oleh semuanya.
***
"Kay kamu bisa bantu aku tidak,"
"Iya membantu apa do,"
"Hari ini kan ada hajatan di pernikahan saudara, aku diundang, tapi aku butuh teman untuk datang ke sana,"
"Terus maksudnya?"
"Aku minta tolong temani untuk datang ke pernikahan saudaraku itu,"
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau kamu ke sana sendiri," Penuh dengan pertanyaan.
"Aku malu Kay, pasti nanti aku akan ditanyai tentang jodoh, mau ya Kay hanya sebentar saja,"
"Okelah, jadi ini ceritanya aku menjadi pacar pura-pura mu,"
"Tepat sekali,"
"Kamu gaji berapa aku do," Pertanyaan yang berupa candaan.
"Yah cukuplah untuk makan tiga hari," Edo mengatakan dengan nada bercanda kepada temannya itu.
***
"Kay kamu malam ini benar- benar cantik,"
"Ya iyalah,"
"Kita naik apa ini do,"
"Tenang kita akan naik ini,"
"Apa, kita ke pesta naik bajaj,"
"Pantas do kamu belum dapat jodoh, rejekimu saja seret, hhh ampun,"
"Awas kamu Kay, aku buktikan suatu saat nanti aku akan menjadi orang yang sukses,"
"Coba saja nanti buktikan, aku yang jelas akan kayang jika kamu memiliki mobil sendiri,"
"Oke benar ya kamu akan kayang,"
"Iya kan aku sudah bilang,"
Mereka berdua lalu mengendarai bajaj untuk pergi ke pesta itu.
"Wow mewah sekali, ini acaranya di hotel bintang lima, "
"Iya memang saudaraku kaya,"
"Ya beda nasib Kay,"
"Makanya kalau kerja jangan malas-malasan, biar tidak hidup pas-pasan terus,"
"Gak usah banyak cincong deh kamu, ayo sekarang masuk Kay,"
Mereka sebelum masuk melakukan diskusi kecil mengenai apa yang harus dilakukan nanti ketika di dalam.
Tangan Kayla berpegangan erat dengan tangan Edo, mereka berdua bak pasangan romantis yang baru saja jadian.
"Hai, Edo akhirnya kamu punya pasangan untuk dibawa ke kondangan," Ucap seorang pria dewasa, dia mungkin salah satu dari kerabat Edo.
"Iya dong, hidup kan harus berubah,"
"Ngomong-ngomong kekasihmu cantik sekali do,"
"Pasti, dia adalah cinta pertama dan terakhir ku,"
Uekk, percaya diri sekali dia, Kayla menyembunyikan di dalam hatinya dengan segenap hati merasa jijik atas kata sok puitis dari temannya itu.
"Eh anak ibu sudah datang," Seorang ibu menghampiri Edo dan Kayla.
"Iya bu," Mencium tangan ibunya.
"Ini siapa?"
"Dia kekasihku bu. "
"Masya Allah cantik sekali, beruntung jika kamu dengannya,"
Kayla lalu memperkenalkan diri di depan ibu Edo.
Ruangan itu semakin penuh, beberapa orang datang silih berganti untuk merayakan pernikahan megah ini. Satu pasangan membuat orang tertuju pada mereka berdua. Iya dia adalah pemilik perusahaan ARFU dan istrinya.
"Seina,"
"Lho mereka berdua di sini,"
__ADS_1
Edo Kayla merasa terkejut atas kedatangan Seina dan Arfan.
Perusahaan ARFU memang sudah terkenal seantero negeri ini, jadi tak heran jika ada banyak klien besar yang menjadi partner bisnisnya. Pak Arfan mendapatkan undangan dari mempelai pria. Mempelai prianya merupakan seorang CEO dari perusahaan yang besar hampir sama seperti perusahaan ARFU.
"Sein," Panggil Kayla.
Seina yang mengetahui Kayla memanggil segera menghampiri.
"Sedang apa kamu di sini Kay?"
"Aku datang ke sini karena Edo, dia butuh teman ke pesta pernikahan saudaranya ini,"
"Oh jadi ini pesta saudara Edo,"
"Iya, mempelai wanitanya adalah sepupu Edo,"
"Hai Sein,"
"Hai do,"
Edo akhirnya bergabung berbincang dengan Kayla dan Seina.
"Sudah dulu ya, sepertinya pak Arfan mau mengatakan sesuatu,"
"Oke Kay," Jawab Kayla.
"Di persilakan para pasangan yang hadir untuk ikut berdansa bersama pengantin." Seorang pemandu acara meminta para hadirin untuk berdiri dan ikut merayakan kemeriahan pesta pernikahan itu.
"Do bagaimana?"
"Ya sudah menari ala kadarnya Kay, lihat aku sedang diintai oleh keluargaku, mereka terlihat sedikit mencurigai hubungan kita,"
"Oke ayo gas," Ucap Kayla.
Kayla memang teman yang baik, ia tidak pandang bulu, siapapun ia akan bantu semampunya. Kayla juga kebetulan memiliki tingkat kepercayaan diri yang baik, jadi tak membuat sulit baginya untuk melakukan apapun.
"Kami pergi dulu ya,"
"Iya Sein," Ucap Kayla.
"Saya pulang dulu ya,"
"Iya Pak, silakan." Balas Edo kepada Arfan.
Setelah kepergian Arfan dan Seina, Edo dan Kayla melanjutkan dansanya yang sempat terhenti tadi.
Satu tangan Edo memegang pinggang Kayla, sedangkan Kayla memegang dada Edo. Mereka terlihat kompak melakukan pekerjaan itu.
Seseorang yang baru datang melirik pasangan yang sedang berdansa itu, lalu menghampiri sang pengantin.
"Selamat pak atas pernikahannya, semoga selalu diberi kebahagiaan," Ucapnya.
"Terimakasih pak Riko telah menyempatkan untuk datang kemari, O ya tadi pak Arfan baru saja keluar."
"Iya Pak sama-sama, emm benarkah?," Riko bertindak normal seperti pria yang basa-basi saat berada di sebuah acara.
"Iya tadi pak Arfan datang bersama istrinya, kapan pak Riko mengakhiri masa lajang ini?"
"Santai, kapan pun bisa," Jawaban itu membuat sang pengantin tergelak tawa.
Ha pak Riko di sini, apa dia tau ya keberadaanku bersama Edo di sini.
Kayla meminta Edo untuk mencari tempat yang tidak bisa terjangkau luas, mereka berdua menarik diri untuk pergi ke gerombolan beberapa pasangan.
"Aduh sakit, Kay bagaimana sih, memangnya ada apa?, kenapa harus bersembunyi seperti ini,"
"Itu di sana ada pak Riko,"
"Memangnya kenapa?, kamu kan bukan kekasihnya, oh atau jangan- jangan kamu menyukainya ya," Berkata seperti pria tengil.
"Do jangan lanjutkan, atau aku akan pergi sebelum pesta ini berakhir."
"Aaa, iya iya Kay," Edo langsung menciut menerima ancaman kecil dari Kayla.
Edo memang trauma dan tidak bisa mentolerir atas ejekan para kerabatnya. Ia sangat jengkel dan risih jika selalu ditanyai pasangan.
Mereka sedang berkencan? Sementara Riko duduk sendiri sambil meminum segelas air.
__ADS_1