Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 14 Ketahuan oma


__ADS_3

Saat malam hari, di sebuah apartemen masih sama seperti kemarin, masih terdapat aktivitas kerja antara Arfan dan Seina.


"Pak pekerjaan saya sudah selesai, saya ingin membuat makan malam dulu." ijin Seina.


"Tidak perlu, aku akan memesan makanan dari luar saja." balas Arfan yang melarang Seina memasak.


"Tidak apa-apa pak, jika pak Arfan ingin memesan lebih baik untuk pak Arfan sendiri, karena saya ingin memakan masakan rumah untuk malam ini." Jawab Seina.


"Apa yang kamu akan masak, di kulkas tidak ada bahan apapun." timpal Arfan.


"Kalau begitu saya ijin keluar sebentar pak untuk belanja kebutuhan."ijin Seina.


" Kita sekarang sedang bersembunyi, kamu jangan sampai lalai, jika kita sampai ketahuan oma. maka kamu harus menanggung resikonya sendiri nanti."ucap Arfan.


"Saya janji akan berhati-hati pak, saya akan membeli seperlunya dan cepat kembali."Seina masih dengan kemauannya.


" Baiklah, terserah."Arfan merasa marah kemudian diam.


Seina yang melihat bosnya memasang wajah marah tak menghiraukan. Ia tetap bersikeras pergi membeli bahan makanan.


Di sebuah supermarket terdekat, Seina memilih bahan makanan dengan hati-hati. Ia mengenakan hoodie dengan penutup kepala, jadi kemungkinan besar ia dalam keadaan aman.


Setelah selesai ia segera menuju kasir. Seina menunggu antrian dengan sabar. Setelah beberapa menit akhirnya berganti gilirannya. Semua belanjaan sudah di total tinggal membayar. Tiba-tiba saat ingin membayar, Seina berniat mengambil dompetnya di dalam tas, tetapi tidak bisa ia temukan.


Dimana dompetku?, tadi aku ingat sudah kemasukan. Tuhan, jangan bilang aku habis dicopet.


"Copet... copet... Tolongnngg... dompetku dicopet orang." teriak Seina hingga terdengar oleh semua pembeli di sana. Semua orang kemudian berkumpul di area kasir. Semuanya terlihat panik. Tak disangka saat itu, Seina tak sengaja melepaskan kupluk dari kepalanya. Ia juga melepaskan masker yang sebelumnya ia kenakan. Jadi bisa saja orang yang mengenalnya akan tahu.


"Kak Seina... " teriak seorang anak kecil yang sedang digandeng omanya.


"Seina, kenapa dia disini? " ucap oma.


"Seina, dimana Arfan, dan kenapa kamu disini, bukankah seharusnya kamu sudah honeymoon? "pertanyaan oma langsung terlontar begitu saja yang mengagetkan Seina.

__ADS_1


"Oma, Alea." Seina sangat terkejut dengan kehadiran mereka.


Ya Tuhan bagaimana ini, aku harus menjawab apa.


"Eemmmh...begini oma, kemarin kita memutuskan untuk menunda karena pak Arfan ada pekerjaan penting. "ucap Seina dengan nada yang bergetar.


" Ini pasti ulah Arfan, aku akan memberikan omelan untuknya sekarang." oma berkata dengan cepat kemudian mulai merogoh sakunya yang didalamnya ada ponsel.


***


Di apartemen Arfan menikmati pekerjaannya. Tiba-tiba saat ia sedang enjoy dengan pekerjaannya, ada notifikasi panggilan.


"Halo, ada apa oma?" tanya Arfan langsung kepada omanya.


"Bagaimana dengan kelakuannu ini, ha? kamu tega membiarkan Seina belanja sendiri sampai dia kecopetan. Dan kenapa kamu tidak honeymoon, malah mementingkan pekerjaan. Oma tidak mau tau, oma besok akan memesan tiket ulang dan oma sendiri yang akan memastikan kamu dan Seina honeymoon." kata oma panjang lebar.


Arfan yang mendengar pun terkejut. Ia sudah punya firasat jika ini pasti akan terjadi. Dia mulai menyalahkan Seina dalam hati. Jika saja Seina menurutinya pasti tidak akan jadi seperti ini.


"Maaf oma, Arfan...." belum sempat menyelesaikan oma sudah memutuskan sambungan teleponnya.


***


"Ayo masuk Seina." ajak oma.


"Kak Seina aku lapar." ucap Alea.


"Iya sayang, kamu tunggu di sana sambil menonton bersama oma. Kak Seina akan memasakkan kamu dan oma." Seina berkata dengan lembut kepada Alea.


"Bagaimana oma bisa kesini? " Arfan yang mengetahui oma kemudian menghampinya dan langsung bertanya.


"Oma tau karena Seina, tadi oma belanja bersama Alea, lalu ada yang teriak kecopetan, dan ternyata ketika kita melihat korbannya adalah Seina. Dan aku meminta Seina untuk mengantarku ke apartemen kamu ini." jelas oma.


"Ohhh," Jawaban singkat Arfan.

__ADS_1


"Paman Arfan , oma tolong jangan berisik aku sedang menonton kartun kesukaanku." Alea meminta paman dan omanya untuk diam.


"Makanan sudah siap, silakan makan malam! " Teriak Seina dengan bersemangat setelah hampir 15 menit ia bergelut di dapur.


"Ayo oma kita makan bersama, dan Alea ayo, katanya tadi lapar. Kak Seina sudah menyiapkan makanan khusus untuk kamu." ujar Seina.


Kemudian semuanya makan dengan lahap. Apalagi oma, ia sampai nambah makan. Ia merasakan sangat cocok makanan itu ketika menyentuh lidahnya. Arfan yang ikut makan juga terlihat sangat lahap. Ia juga ingin nambah seperti oma, tapi itu semua ia urungkan, demi menjaga harga dirinya di depan Seina.


"Bagaimana Alea, apa kamu suka dengan makanannya? " tanya Seina kepada Alea.


"Sangat suka, makanannya sangat enak, nanti kapan-kapan Alea ingin dimasakin kak Seina lagi ya. " berbicara sambil mengambil makannya yang masih tersisa satu sendok.


"Tentu, kak Seina akan memasak untuk kamu lagi. " Seina menjawab dengan bersemangat.


Sementara oma menimpali pembicaraan antara Seina dan juga Alea.


"Iya Seina masakanmu benar-benar enak, oma sangat menyukainya. Tidak salah Arfan memilihmu, selain cantik, pintar, kamu juga pandai memasak." kata oma dengan memberikan pujian kepada Seina.


"Terimakasih oma." hanya itu yang dikatakan Seina.


Sedangkan Arfan yang mendengar pembicaraan itu juga mengiyakan didalam hatinya, jika makanan yang Seina buat memang sangat enak. Tapi ia tidak mau memberikan pujian itu secara langsung, ia hanya menggumamkan di dalam hatinya saja. Ia pasti gengsi jika harus mengatakan pada Seina.


Tak terasa oma dan Alea sudah berada di apartemen Arfan selama satu jam. Lalu oma mau pamit pulang.


"Oma apa tidak sebaiknya menginap di sini saja, Arfan tidak tega jika kalian pulang malam begini, apa Arfan antar saja oma. " ucap Arfan kepada omanya.


"Tidak apa-apa Arfan oma sudah terbiasa. Oma nanti akan menghubungi Arkan saja supaya menjemput kami, jika naik taksi membuatmu khawatir." balas oma.


"Lebih baik begitu oma." Arfan menyetujui apa yang dikatakan oma.


"Jangan lupa untuk besok ya, kalian harus bersiap pagi, oma akan mengantarkan kalian sampai bandara. Oma ingin kalian bisa menghabiskan waktu berdua. Dan segera memberikan cucu buyut untuk oma." tegas oma memperjelas apa yang sudah ia katakan di telepon tadi.


"iya oma." dengan terpaksa Arfan mengiyakan omanya.

__ADS_1


Sementara Seina yang berada didekatnya, terlihat tidak nyaman. Tetapi ia harus berpura-pura senang di hadapan oma. Ia juga mengiyakan apa yang dikatakan oma barusan. Ia tidak bisa menolak perkataan orang tua. Padahal di dalam hatinya merasa tersiksa, dengan semua kepalsuan yang ia setujui sendiri.


__ADS_2