
Langit malam ditandai kegelapan, hati yang suram telah ia rasakan. Wanita ini menanti dengan harapan, tapi tak kunjung ada kepastian. Dua insan yang saling menjual mahal, sebenarnya mereka berdua tidak ada ada harga jual, tapi perasaan kesal, membuat mereka merasa menyesal, karena hampir mendekati sial.
Percintaan ku benar-benar buruk. Huhhf
Seorang wanita tulen sedang menanti teks dari seseorang di ponselnya.
Aku sebenarnya sangat bingung, bagaimana aku mengungkapkan, tapi di saat ini sedang dekat dengan orang lain, Di sebuah kamar berbaring lah seorang pria sambil memikirkan percintaannya.
Harusnya aku kemarin saat ada kesempatan langsung mengatakan yang sebenarnya kepada pak Riko. Sekarang ia sudah ada wanita lain yang lebih baik dariku. Melamun sambil meratapi yang terjadi.
***Flashback
Di perusahaan ARFU terdapat seorang karyawan baru wanita, ia baru saja masuk tiga hari ini, namanya Sinta. Ia memiliki paras yang cantik, berkulit putih, postur tubuhnya mendukung seperti model, dan kelihatannya ia tipe wanita yang cerdas dan ideal bagi incaran para pria. Dia sangat dekat dengan pak Riko, tiga hari ini ia selalu menghabiskan waktu dengan pak Riko. Alasannya memang untuk bertanya perihal pekerjaan, tapi saat di dekat pak Riko ia bertingkah seperti wanitanya pak Riko. Ia sampai lancang memperbaiki kancing baju pak Riko yang sempat terlepas. Hal ini lah yang membuat Kayla merasa insecure untuk melanjutkan perjuangan cintanya, apalagi pak Riko terlihat merespon dengan baik, membuat Kayla berpikir bahwa pak Riko ada rasa dengan Sinta.
Kedua orang ini saling salah paham, yang satu salah sangka dengan Kayla saat berdua bersama Edo di pesta pernikahan waktu itu, dan yang satu salah paham karena pak Riko terlihat dekat dengan Sinta. Padahal yang terjadi itu bukan seperti yang ada di pikiran mereka, yang terjadi hanyalah kesalahpahaman.
***
Brukk...
Tiba-tiba saja Seina pingsan di dekat Arfan.
"Seina, ada apa denganmu sayang, bangunlah," Ucap Arfan sambil memegang pipi sang istri.
"Lebih baik panggilkan dokter saja kak," Ucap Teri yang ikut membantu menangani Seina yang tak kunjung sadar.
"Astaghfirullah, Seina kenapa, apa yang terjadi kepadanya?" Oma yang baru saja turun terkaget hatinya mengetahui keadaan Seina seperti itu.
"Tidak tau oma, tiba-tiba saja ia pingsan tadi di dekat kak Arfan, semoga baik-baik saja dengannya, sebentar lagi dokter akan kemari." Dengan wajah tenang Teri berusaha menjelaskan kepada oma yang terlihat sedikit cemas.
Beberapa saat kemudian dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan Seina. Arfan ikut mendampingi di samping Seina.
"Bagaimana dok, keadaan istri saya, apa yang terjadi dengannya?"
"Tenang pak, bu Seina dalam keadaan baik-baik saja,"
Arfan merasa lega mendengar perkataan dari dokter.
"Oh iya Pak, sekalian ada kabar bagus saat ini bu Seina sedang mengandung, sebentar lagi anda akan memiliki anak yang kedua, selamat pak." Ucap dokter sambil tersenyum.
"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas rezeki darimu," Lalu memegang tangan Seina yang masih di tempat tidur.
"Tapi kenapa istri saya belum sadar dok sampai sekarang?" Menanyakan keadaan sang istri yang masih belum membuka matanya.
__ADS_1
"Tunggu pak, sebentar lagi bu Seina pasti akan segera sadar." Balas dokter dengan tenang.
" Sa-yang," Tiba-tiba tak lama kemudian Seina mengeluarkan suara dengan sangat lembut, mungkin itu karena efek kekuatannya yang masih lemah akibat pingsan tadi.
"Kamu sudah bangun, sayang aku ingin memberi kabar baik kepadamu," Mengucapkan dengan begitu antusias kepada istrinya.
"Kabar apa sayang?" Merespon dengan begitu penasaran.
"Sebentar lagi Reyna akan memiliki adik sayang,"
"Alhamdulillah," Wajahnya yang tadi pucat sekarang sumringah mendengar kabar kehamilannya itu.
"Mama sakit," Reyna tiba-tiba masuk dan langsung memeluk Seina.
"Reyna sayang, sebentar lagi kamu ada temannya, kamu akan memiliki adik bayi," Arfan berkata kepada putrinya yang baru sampai.
"Yeeee, sebentar lagi Reyna punya adik bayi,"
Alea yang mengikuti Reyna masuk tak kalah heboh mendengar kabar itu, " Yeeeeee Reyna, kak Alea mau dapat adik lagi, jadi adiknya dua," Girang berjingkrak sambil memeluk Reyna.
Pemandangan itu terlihat Indah oleh Seina dan Arfan. Mereka merasa sangat bahagia saat itu.
***
"Halo, saya adalah istri dari pemilik ponsel ini, dimana suami saya, kenapa anda yang menelepin?"
Teri merasa cemas setelah mengangkat telepon dari nomor Arkan, tapi ternyata bukan suaminya yang berbicara dengannya melainkan orang lain.
"Saya menemukan ponsel ini yang terjatuh di jalan tadi, saya mencoba menghubungi seseorang di kontak ponsel ini sebelum saya lapor ke polisi,"
"Oh iya Pak, terimakasih, sekarang bapak ada dimana, saya akan mengambil ponsel itu bersama suami saya,"
"Saya sekarang berada di kafe Harmoni,"
"Baik Pak, tolong tunggu kami sampai di sana,"
"Baik bu,"
Suara mobil di depan rumah membuat Teri cepat bergerak, ia melangkah ke depan untuk menyambut suaminya, ia hafal benar dengan suara mobil itu, maka tak perlu melihat siapa yang datang, itu pasti suaminya.
"Arkan, ayo ikut bersamaku," Ucap Teri di depan Arkan.
"Kemana?"
__ADS_1
"Mengambil ponselmu,"
"Apa ponsel, sebentar saya akan cek,"
Saku celana ia rogoh dengan dalam, ternyata tidak ada ponsel di sana. "Iya ternyata ponselku tidak ada di saku,"
"Makanya ayo kita ambil, tadi bapak-bapak yang menelepinku, katanya ia menemukan ponsel kamu yang terjatuh." Menjelaskan kepada sang suami.
Mereka berdua lalu pergi menggunakan mobil.
***
"Sayang mulai sekarang kamu harus lebih hati-hati ya, jangan banyak bergerak, kalau ada sesuatu bilang kepadaku nanti aku akan membantumu," Mengatakan dengan sepenuh hati.
"Iya sayang, terimakasih," Seina yang mendapat perhatian khusus dari suaminya merasa lebih nyaman.
Tok.. tok. tok
"Iya sebentar," Ucap Arfan.
"Oma, silakan masuk,"
"Bagaimana keadaan kamu Seina?"
"Seina baik-baik saja oma,"
"Oma sangat senang mendengar kabar bahagia dari kamu,"
"Iya oma Seina juga sangat bahagia dengan kehamilan ini,"
"Reyna la-pal," Putri kecil ini mengatakan dengan tidak begitu jelas tapi menggemaskan.
"Iya sayang, Reyna makan dengan papa ya," Arfan langsung menanggapi putrinya.
Reyna kemudian mengangguk setuju, jika papanya yang menyuapinya.
"Wah cucu oma yang cantik sedang makan," Mengelus rambut Reyna dengan penuh kasih sayang.
"Makan yang banyak ya, nanti supaya kuat menggendong adik bayi,"
Reyna mendengarkan omanya dengan cermat sambil memakan suapan dari Arfan, ia memakan dengan sangat lahap.
Arfan dengan telaten menyuapi putrinya, ia hari ini free tidak ke kantor, khusus untuk merawat putri dan istrinya. Ia begitu menyayangi keluarga kecilnya melebihi dirinya sendiri.
__ADS_1