Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 44 Terlewat


__ADS_3

"Pak sepertinya saya tidak bisa melanjutkan perjodohan ini, maafkan saya."


Pak Rendy memperhatikan Devan. "Jiika memang kamu tidak menyukainya tidak masalah, aku tidak memaksamu, "


"Jika pak Rendy mau memecat saya tidak apa-apa, saya sudah siap, "


"Untuk apa aku melakukan itu, tidak ada hubungannya antara pekerjaan dan perjodohan ini."


Devan merasa lega, nafasnya yang tadi sedikit berat kini berubah menjadi ringan.


"Terimakasih pak,"


Devan berjalan keluar ruangan. Syukurlah apa yang kupikirkan tidak terjadi,


Apa?, dia menolak untuk melanjutkan perjodohan ini, Devan kamu itu bukan pria yang luar biasa, aku masih bisa mencari yang lebih dari kamu, ciihhh cuma sekretaris saja belagu sekali. Berjalan sambil mendengus kesal.


***


Kenapa aku masih kepikiran dengan anak kecil yang berada di mall waktu itu, hatiku tidak bisa terlepas seperti memiliki ikatan yang kuat dengannya. Dan wanita yang bersamanya, seperti aku pernah melihat sebelumnya. Pikiran Devan masih melintas di masa lalunya.


Duduk termenung di tempat yang sepi, menatap fokus ke tanah. Devan merasa sendirian, ia tidak memiliki siapapun menurutnya. Padahal versi yang nyata ia memiliki keluarga yang sangat menyayanginya, apalagi keluarga kecilnya terlihat sangat harmonis.


"Ma ma," Reyna menunjuk ke arah penjual arum manis.


"Apa sayang, oo, kamu ingin itu," Dengan cepat Seina mengetahui keinginan putrinya.


Lalu Seina hanya mengangguk dengan tatapannya lucu terhadap mamanya.


"Pak saya mau beli arum manisnya satu ya," ucap Seina.


"Iya, duduk dulu neng, di sana ada tempat duduk yang nyaman, nanti jika sudah jadi akan saya antar," ujar penjual itu.


"Iya pak," Ia lalu berjalan menuju tempat duduk.


Dunia ini berputar sangat cepat, baru saja si Devan duduk di tempat itu, sekarang Seina dan putrinya. Apa tidak bisa waktu melambat beberapa menit, agar mereka bisa bertemu,

__ADS_1


Devan berjalan menyusuri taman. Ia melihat penjual bakso di dekat sana. Karena perutnya merasa lapar, ia segera memesan bakso.


"Pak bakso satu," ucapnya.


Penjual itu lalu memberikan semangkok bakso untuk Devan. "Ini pak."


"Terimakasih pak."


***


"Halo Sein, kamu dimana?"


"Oke aku akan menyusul ya, tunggu aku di sana,"


Kayla baru saja menghubungi Seina. Ia kini bersiap untuk menyusul Seina di taman.


Pria itu sekarang sudah keluar dari area taman, ia berdiri di tepi jalan. Sepertinya ia akan menantikan sesuatu.


Sepi sekali, tidak biasanya begini.


Seorang wanita sedang membayar taksi, ia mengulurkan beberapa lembar uang kepada pak sopir. "Terimakasih pak." Dengan keceriaan ia lalu melangkah untuk masuk ke taman. Tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang pria sedang menuju taksi.


Apa aku mimpi?, Tuhan sadarkan aku sore ini. Awww kulitku sakit ketika kucubit. Apa artinya ini nyata, oh Tuhan iya benar nyata. Itu memang pak Arfan. Kapan pak Arfan ditemukan, oh sudahlah mungkin aku saja yang kurang update informasi. Tapi kenapa Seina tidak memberitahuku, dan jika memang saat ini pak Arfan bersama mereka di taman ini, kenapa pak Arfan malah sendiri naik taksi?, oh Tuhan sudahlah mungkin pak Arfan ada kepentingan lain. Lebih baik sekarang aku ke tempat Seina, ia pasti sudah menungguku.


"Hai putri kecil, cantik sekali kamu," Setelah banyak pikiran hinggap dari tadi Kayla berhasil bertemu Seina.


"Lama sekali Kay, masih luluran?" Meledek dengan nada sedikit kesal.


"Maaf, jangan begitu Sein, tadi itu mencari taksi sulit," memegang kedua telinganya menghadap Reyna sambil memelas manja.


"Oke, kami maafkan aunty, lain kali jangan begitu ya,"


"Siap, O iya Sein pak Arfan kapan ditemukan, kenapa kamu tidak memberitahuku," Bertanya dengan penasaran.


"Apa, pak Arfan, dia belum kembali Kay sampai sekarang, ngomong apa kamu itu," Memastikan bahwa yang ditanyakan temannya tidak tepat.

__ADS_1


"Tapi tadi aku melihatnya naik taksi Sein, aku yakin dia benar pak Arfan."


"Yang benar Kay," Pura-pura tidak mengetahui yang selama ini ia pikirkan.


"Iya Sein, aku berani sumpah Demi apa,"


"Iya Kay, jadi begini kemarin aku diberikan informasi mengenai pak Arfan oleh pak Riko, ia berkata bahwa ia melihat pak Arfan. Saat itu pak Riko sedang meeting, saat sampai ia dikejutkan bahwa kliennya adalah pak Arfan tapi dengan nama lain Devan, ia bekerja di sebuah perusahaan sebagai sekretaris. Pak Riko menduga jika saat ini pak Arfan mengalami amnesia yang kedua kali. Dan waktu di mall Alea katanya juga melihat pak Arfan. Dan sekarang kamu, aku jadi penasaran siapa sebenarnya Devan, apa benar dia pak Arfan yang hilang ingatan atau memang benar orang lain." Seina akhirnya menceritakan semuanya dengan panjang lebar kepada temannya.


"Haa serius Sein, kalau aku sih yakin dia pak Arfan," Melotot ke arah Seina dengan menggebu-gebu.


Seina hanya bereaksi bimbang.


Mereka berdua melihat langit yang cerah mulai menghitam. Lalu mereka akhirnya memutuskan untuk pulang setelah menghabiskan perbincangan panjang tadi.


Tuhan bantu aku, berilah jalan untukku agar aku bisa mengetahui kebenarannya.


***


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam, masuk," Seorang pria memberikan ruang kepada sekretarisnya.


"Van maaf jika kamu harus ke sini malam-malam begini, saya hanya ingin menyampaikan sesuatu."


"Iya Pak, tidak apa-apa, tentang apa ya pak kalau boleh saya tau?"


"Tentang kamu,"


Arfan terlihat sangat penasaran ketika ia tau bosnya akan membahas dirinya.


Pak Rendy membenshi duduknya, agar dapat dengan leluasa berbicara. " Jadi begini, sebenarnya selama setahun ini saya menyembunyikannya darimu, saya tidak ingin melihat kamu merasakan sakit ketika aku minta dengan memaksa otakmu untuk mengingat."


Apa maksudnya, aku semakin tidak mengerti dengan apa yang pak Rendy katakan, Devan masih merasakan kebingungan.


Kemudian pak Rendy melanjutkan lagi. "Van saya ingin menceritakan dari awal, agar kamu tidak bingung. Jadi dulu setahun yang lalu aku pernah melakukan pendakian di sebuah gunung, saat itu aku tidak mengetahui jika ada kecelakaan pesawat yang terjadi dan terjatuh di area gunung itu satu hari kejadiannya sebelum aku mendaki. Ketika tiba aku dikagetkan dengan banyaknya orang. Aku mencari tahu yang sebenarnya dan akhirnya aku ikut terjun membantu mencari para korban. Tidak sengaja aku melihat kamu tergeletak di antara semak-semak, ketika aku cek, kamu masih bernafas. Setelah itu aku segera membawa kamu ke rumah sakit, karena tim evakuasi lain sedang mencari korban yang banyak belum ketemu. Setelahnya kamu dinyatakan koma, setelah hampir satu bulan akhirnya kamu sadar, tapi dokter berkata bahwa kamu hilang ingatan. Itu semua terdiagnosa saat aku menanyakan nama dan identitas lain kepadamu tapi kamu tidak tau. Dan aku putuskan untuk merekrut kamu menjadi karyawan hingga sekarang menjadi sekretaris pribadiku, aku sengaja diam karena ketika aku menanyakan tentang masa lalu, kamu merasa kesakitan di kepalamu. Begitulah kebenarannya, aku harap kamu sedikit demi sedikit mulai bisa mengingat sesuatu."

__ADS_1


Setelah pak Rendy menyelesaikan pembicaraannya, Devan tidak langsung membalas perkataan, melainkan masih terdiam memaku dan membisu. Ia terlihat sangat terkejut dengan apa yang didengarnya.


__ADS_2