
Adam pergi mengendarai motornya dan berteriak kepada nabil,
‘’ambil aja tuh bekas gue!, brengsek!’’.
Zoya terduduk lalu menutup wajahnya dengan tangan. Zoya menangis tersedu-sedu, hatinya sakit sekali di tampar oleh lelaki yang dia sayangi dan di tinggalkan begitu saja. Zoya juga merasa sangat malu karena ada orang yang menghampirinya dan adam malah meneriakinya dengan kata-kata yang tidak mengenakkan. Nabil memandangi zoya yang sedang menangis. Setelah beberapa menit berlalu, nabil menyentuh pundak zoya dengan jari telunjuknya.
‘’ee, ayo gue antar pulang’’.
Zoya berdiri dan masih menutup wajah dengan telapak tangannya lalu berjalan lurus menuju tempat tinggalnya. Nabil memayungi zoya dari belakang, dia bahkan rela kehujanan karena dia berjalan menjaga jarak dengan zoya.
‘’udah jangan nangis, udah besar kok cengeng’’, zoya hanya diam sambil terus menutup wajahnya dan melirik sedikit untuk melihat jalan.
’’lo gak gerah tuh nutupin wajah pakai kedua telapak tangan, kasian hidung lo, udah hidung minimalis di tekan dengan benda berat lagi, oksigennya gak bisa masuk’’. Tambah nabil mencoba menghibur zoya.
Perlahan zoya membuka telapak tangannya, sembari mengelap-elap air mata di pipi dan ingus dari di hidungnya.
‘’aish, tuh ingus di lap pake tangan, jorok banget sih lo’’, dia memegang lengan baju zoya lalu menariknya perlahan.
Dia mengajaknya duduk di bangku taman, lalu memberikan tissu untuk mengelap air mata dan ingus zoya, karena kebetulan nabil membeli tissu dari toserba.
Bukannya membersihkan air matanya, zoya malah makin menangis, terus mengambil tissu untuk mengelap air matanya dan menutup wajahnya dengan telapak tangan.
‘’aku malu!, kenapa kamu mesti liat aku di tampar’’, zoya berbicara tak jelas, suaranya tersendat-sendat karna dia terus menangis.
‘’kalo lo malu apa gue pergi aja?’’, nabil berdiri hendak meninggalkan zoya, namun zoya memegang lengan bajunya, tak berbicara namun seolah mengatakan bahwa ia tak ingin sendiri.
Nabil kembali duduk,
‘’anggap aja gue gak ada, lo bisa nangis sepuasnya, gak usah malu, toh kita kan gak kenal. Gue bakal nungguin lo sampai lo selesai nangis’’, nabil kembali duduk di dekat zoya dan masih memayunginya. Nabil menatapnya dengan perasaan iba.
Zoya mengelap air matanya dan mengeluarkan ingusnya dengan tissu berkali-kali. Setelah duduk hampir sejam lamanya, zoya mulai berhenti menangis, menarik nafas panjang berkali-kali, menahan sebisa mungkin agar air matanya tak keluar lagi.
‘’antar aku pulang’’, zoya tak berani memandang wajah nabil.
Nabil tersenyum mengejek melihat zoya.
‘’apa?, kenapa ketawa?’’, zoya melihat dengan tatapan tajam.
‘’lo gak malu mau pulang dengan mata bengkak gitu?, nyamuk aja bakal ketawa kalo lihat mata lo yang bengkak’’.
‘’ya terus mau ngapain disini?, di taman malam-malam, hujan lagi, kayak kurang kerjaan aja’’, zoya memasang wajah kecut pada nabil.
‘’ya emang kurang kerjaan. Milih mana?, nangis di taman atau di pinggir jalan?, mana yang lebih bikin malu?’’.
‘’eisshh’’, zoya kesal, namun ia tak beranjak dari bangkunya, dia masih sedang menenangkan hati dan fikirannya.
__ADS_1
Nabil mengambil ponsel dari kantong celananya, my queen memanggil. Zoya melirik sedikit, hanya penasaran dan sekedar memastikan siapa gerangan yang menelfonnya malam-malam. Nabil tidak menjawab panggilannya, tak lama kemudian my queen kembali memanggil. My queen telah menelfon beberapa kali, akhirnya nabil pun mengangkat panggilannya.
‘’emm, ada apa ale?’’.
‘’lo dimana sih?, lo gak ke sini?’’.
‘’oh, gue diluar terjebak hujan, jadi gue gak bisa kesitu’’.
‘’diluar mana?, gue suruh brian jemput yah?’’.
‘’gak usah, bentar lagi gue pulang kok, tunggu aja sejam lagi, ok’’.
‘’baiklah!, awas ya kalau gak datang!’’, panggilan telfon berakhir.
Waktu saat ini menunjukkan pukul 20.20. Nabil menonaktifkan ponselnya, memasukannya kembali ke kantong celana.
Zoya berdiri,
‘’ayo pulang’’, zoya merasa tidak enak dengan nabil yang sedang di tunggu seseorang.
Nabil menarik tangan zoya dan memaksanya untuk duduk kembali, membuka kantongan yang ia bawa, lalu mengambil coklat yang ia beli di toserba.
‘’ini’’, nabil memberikan sebatang coklat untuk zoya.
‘’kenapa?, ini coklat!’’, zoya melihat ke arah nabil namun belum mengambil coklat yang di tawarkan.
Zoya mengambil coklatnya,
‘’untuk aku?’’.
‘’untuk nenek lo. Ya iya lah, untuk lo’’.
‘’kamu mana?, masa cuma aku yang makan’’.
‘’gak apa-apa, makan aja!’’.
‘’aku gak mau, aku gak bisa makan kalo hanya sendiri’’.
‘’gue gak suka coklat, jadi lo aja yang makan!’’.
‘’ya udah, gue juga gak usah makan!’’.
‘’uhh, baiklah, gue juga bakal makan coklat’’, nabil kembali mengambil coklat dalam kantongan, lalu membukanya dan memakannya.
‘’udah puas?’’. Nabil mulai kesal.
__ADS_1
Zoya tersenyum kecil mentertawakan nabil, diapun memakan coklat pemberian nabil.
Mereka berdua duduk berdekatan, menyandarkan punggung ke bangku, melihat hujan yang tak begitu deras.
‘’ini pertama kalinya gue makan coklat!’’, nabil menggigit coklat sedikit demi sedikit.
‘’benarkah?, padahal coklat itu makanan favorit semua orang’’, zoya mulai bisa meredakan kesedihannya.
‘’ternyata coklat itu enak’’.
‘’kalo lo gak pernah makan coklat, terus kenapa beli coklat?’’.
‘’ kebetulan sih tadi ada promo beli 2 gratis 1, terus gue keinget sama sepupu gue di rumah sama temen gue, jadi gue beli’’.
‘’kamu pasti orang baik, lihat coklat aja ingat sama yang ada di rumah!’’.
‘’bukan karna baik, ya hanya kebetulan aja’’.
Malam semakin larut, hujan masih turun rintik-rintik, angin pun mulai berhembus menjadi dingin, mereka duduk semakin berdekatan.
‘’ayo pulang sekarang’’, zoya berdiri lagi.
‘’nanti ajalah, nunggu matamu biar gak bengkak baru pulang’’, nabil masih tak mau beranjak dari bangkunya.
‘’ah, pokoknya aku mau pulang, ayo antar aku’’, zoya menyengirkan bibir kanannya ke atas sebagai tanda penolakan untuk berlama-lama di tempat itu.
‘’ya kalo mau nunggu mataku gak bengkak juga sampai besok masih akan tetap bengkak, memangnya mau disini semalaman?’’, tambahnya.
Nabil menyandarkan punggungnya ke bangku yang ia duduki, melipat kaki kirinya diatas paha kanannya seolah olah sedang menikmati waktu bersama zoya.
Zoya berdiri menatap nabil,
‘’baiklah kalo kamu masih mau berlama-lama disini silahkan, aku bisa pulang sendiri’’, zoya memalingkan tubuhnya dan berjalan menerjang hujan.
Nabil memakai payungnya dan berdiri meraih tangan zoya.
‘’apa dia bakal menganterin aku?, atau bakal nahan aku lebih lama disini?’’, ucap zoya dalam hati dengan perasaan was was.
‘’jangan-jangan dia orang jahat?, apa yang harus aku lakukan?, berlari?, berteriak?, atau berbalik dan memukulnya’’, zoya semakin terfikirkan oleh hal-hal yang buruk tentang nabil.
Zoya yang melihat kesekelilingnya dan tak ada siapapun membuatnya mulai merasa hidupnya terancam karena nabil menahan langkahnya dengan menggenggam tangannya mulai mencari ide menyelamatkan diri.
Duggg....
Zoya berbalik dan menyundul kepala nabil dengan kepalanya hingga nabil melepaskan tangannya, dia pun bergegas berjalan menuju jalan raya. Nabil yang terdiam mengelus kepalanya yang terasa sakit.
__ADS_1
‘’ahh, uhh dasar kepala batu. Makan apa sih itu cewek kenapa kelapanya keras banget, auuh’’, gumam nabil sambil memegangi kepalanya yang sakit.
BERSAMBUNG.....