
Alexa menyudahi curiganya, dia tak mengatakan apapun tentang teman nabil yang menginap di apartemennya, dia berpindah menuju meja mengambil sebotol anggur dari penyimpanan, lalu membawanya ke meja utama tempat brian dan nabil berada.
‘’nabil ambil gelas’’.
‘’Iya my queen’’, nabil bergegas mengambil 3 gelas dari rak.
‘’brian, ambil pembuka botol’’,
‘’baiklah tuan putri’’.
Setelah semuanya duduk di kursi masing-masing, alexa menuangkan anggur ke gelas mereka.
‘’ayo bersulang memperingati persahabatan kita yang ke lima tahun’’.
Alexa mengangkat gelasnya, brian dan nabil ikut mengangkatnya, mereka bersulang.
‘’bertiga untuk selamanya’’.
Pagi yang cerah, matahari masuk menyinari kamar zoya. Seseorang mengetuk pintu kamarnya, zoya terbangun dan membuka pintu.
‘’oh, maaf ya aku bangunnya kesiangan’’, zoya terlihat masih berantakan karena baru saja bangun.
‘’gak apa-apa, santai aja!. Ayo sarapan bareng, sama luna juga’’.
‘’iya, kamu duluan aja, aku mau cuci muka dulu’’, sembari mengucek-ucek matanya.
‘’iya, gue duluan’’, nabil berbalik dan berjalan menuju ruang makan.
Mereka sarapan bertiga, makan sambil cerita. Luna adalah orang yang ramah dan mudah akrab, seperti saat ini dia sedang berbincang dengan zoya.
‘’lo umur berapa sih?’’, luna mulai nampak akrab.
‘’21 tahun, kalo kamu?’’.
‘’kita seumuran. Lo lahir bulan berapa?’’.
‘’januari, kamu?’’.
‘’oktober, berarti gue lebih muda dong’’.
‘’tapi kok muka lo kelihatan yang lebih tua ya!’’, nabil mengejek luna.
‘’apaan sih?, makan aja deh lo. Dasar lelaki gak bertanggung jawab, ngajak teman nginap dan malah niggalin temannya, huh’’.
Nabil terdiam tak berani berkomentar, sebab yang di katakan luna benar.
‘’gak apa-apa kok, santai aja!’’, zoya mencoba membuat suasana tidak canggung.
__ADS_1
Ponsel nabil berdering berkali-kali namun ia tak mendengarnya karna ponselnya berada di kamar luna.
‘’kamu nginap di luar tadi malam?’’, zoya bertanya pada nabil, mencemaskannya karna semalaman nabil tak pulang ke apartemennya.
‘’oh, iya, gue nginap di rumah teman’’, nabil mengoleskan selai pada rotinya.
‘’kenapa?, apa karna kamu merasa aku bakal gak nyaman kalo kamu ada disini?’’, zoya menatapnya dengan perasaan tidak enak dan merasa bersalah.
’‘ah, enggak kok. Bukan gitu!. Gue emang sering nginap disana, sebelum kenal lo, gue udah sering nginap di rumahnya, jadi bukan karna elo’’.
Luna juga sementara mengoleskan selai pada rotinya, lalu menumpuknya lagi dengan sepasang roti di atasnya.
‘’dia emang gitu, sering ninggalin gue di rumah sendiri. Dia itu manusia berhati batu’’, luna membicarakan keburukan nabil.
‘’apaan sih lo, gue mana pernah ninggalin lo’’, nabil membantah ucapan luna, mencoba membela diri.
‘’nah lo emang gitu!. Lo sendiri tadi yang ngomong kalau lo sering nginap di rumah teman lo. Buktinya lo juga ninggalin temen lo disini sendiri, dan lo malah nginap di luar, harusnya kan lo nemenin dia disini biar dia nyaman’’, luna mulai geram karna nabil yang sering pergi semau-maunya.
‘’maaf, gue ada urusan penting tadi malam’’, nabil merasa bersalah kepada zoya karena meninggalkannya dan menginap di luar.
‘’ah, gak apa-apa kok!, gue nyaman kok, buktinya gue terlambat bangun saking nyenyaknya tidur’’.
‘’emang tuh, luna hobinya tukang nyinyir’’.
‘’ya emang teman lo aja yang terlalu baik, makanya lo di belain’’.
‘’gue pergi sekarang? atau nganter dia pulang?’’, nabil menjatuhkan pisau selai ke lantai, padahal saat itu zoya hendak memakainya untuk mengambil selai.
‘’elo apa-apaan sih, ambil pisau yang baru!, luna agak kesal.
Nabil diam, fikirannya berfokus pada janji berlibur bersama alexa dan brian, sehingga dia tidak mendengar luna dan tidak melakukan apapun.
‘’ayo gue anter pulang sekarang!’’, nabil berdiri dari tempat duduknya secara tiba-tiba, zoya tercengang melihat tingkah nabil, padahal saat itu mereka sedang sarapan, zoya bahkan belum mengolesi rotinya dengan selai dan nabil sudah mengajaknya pulang.
‘’ayo!’’, zoya meletakkan roti ke tempatnya dan terburu-buru mengambil pakaian basahnya di keranjang dapur.
Sementara itu, brian sudah berada di mobilnya, diantar supir dan pengawalnya menuju bandara.
‘’exa lo udah siap?, mau gue jemput?’’, brian berbicara dengan alexa di telfon.
‘’iya, jemput gue’’, alexa menuju ruang tamu di ikuti oleh pembantu pribadinya yang membawakan kopernya ke ruang tamu. Alexa terus menghubungi nabil namun tak ada respon.
‘’kemana lagi sih dia itu?, jangan-jangan dia belum bangun!’’. Brian datang, alexa keluar menemui brian.
‘’coba hubungi nabil, dia gak jawab panggilan gue’’, alexa masuk ke dalam mobil brian.
‘’eish, dia juga gak angkat telfon gue, jadi gimana?’’, brian memasangkan sabuk pengaman ke alexa.
__ADS_1
‘’kita duluan ajah, entar juga dia nyusul’’.
Nabil mengendarai mobilnya dengan sangat kencang, mencoba menyelesaikan 2 masalah dalam waktu bersamaan sekaligus, menepati untuk mengantar zoya pulang kerumahnya lalu pergi berlibur ke jepang dengan sahabatnya.
‘’stop!, tolong berhenti!’’, zoya memegang sabuk pengamannya dengan erat dan mencoba menghentikan mobil nabil.
‘’berhentiii!, turunin aku disini!’’, nabil menginjak rem menghentikan mobilnya. Tubuh zoya gemetar, menarik nafas dalam-dalam.
‘’aku turun aja disini’’, zoya melepaskan sabuk pengamannya dan hendak turun dari mobil, nabil menahan dan memegang tangannya.
‘’maaf!, jangan turun gue gak akan ngebut lagi!’’, zoya melepaskan genggaman nabil, menenangkan diri dan tetap duduk di tempatnya.
Mereka terdiam sejenak, nabil merasa bersalah.
‘’demi bertemu sahabat, gue sampai gak mikirin keselamatan orang lain’’, nabil memasangkan sabuk pengaman zoya tanpa menatapnya sedikitpun.
Setelah kembali dari mengantar zoya, nabil melihat jam tangannya sambil menyetir.
‘’sudah jam 9 lewat 20 menit, mereka pasti sudah pergi’’, nabil mengendarai mobilnya dengan pelan.
‘’sudah terlambat’’, dia menyandarkan kepalanya.
Dia baru sadar bahwa dia tidak membawa ponselnya sehingga dia menjadi sangat gelisah dan bersalah. Nabil memutar balik mobilnya menuju rumah brian.
‘’brian, brian, lo dirumah?’’, nabil memanggil-manggil brian sambil berjalan menuju kamar brian.
‘’tidak ada orang, mereka benar-benar sudah pergi’’, nabil kembali menuju apartemennya.
Nabil datang sambil memasang muka kusutnya, terus memikirkan zoya dan memikirkan betapa kecewanya alexa dan brian. Nabil mengetuk pintu kamar luna.
‘’lo di dalam?, gue mau masuk ambil ponsel’’.
Nabil masuk ke kamar dan mengambil ponselnya, melihat 40 panggilan tak terjawab, 10 dari brian dan 30 dari alexa. Nabil keluar kamar sambil menghubungi alexa.
‘’nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan’’.
Nabil mencoba menelfon alexa dan brian berkali-kali namun nomer mereka tetap tidak aktif, nabil mengirim pesan pada keduanya.
‘’gue minta maaf, lo sekarang dimana?, ayo kita ketemu?’’, nabil hanya mondar-mandi menunggu balasan pesan dari brian dan alexa.
‘’lo udah pergi?, gue susul yah?, kirim alamat lo di jepang’’, nabil terus mengirim pesan kepada mereka, berharap mereka tidak menjadi sangat marah.
‘’tolong maafin gue ya, gue tadi nganter teman gue pulang’’, nabil masih tak tenang, berjalan kesana kemari sambil terus melihat ponselnya.
‘’hubungi gue kalo lo baca pesan ini’’. Nabil berbaring di tempat tidurnya, menutup wajahnya dengan bantal dan berteriak,
‘’aaaaaaaaaaaaa’’, berkali-kali karena merasa kesal dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....