
Siang hari, nabil menjemput alexa, karena hari ini alexa di bolehkan untuk pulang. Alexa di temani nabil masuk ke ruangan mamanya, terdengar mama dan papanya sedang bertengkar.
‘’oh, jadi kirana sudah tau kalau dia itu anaknya. Ibu sama anaknya sama aja kerjaannya bikin masalah, dia terus aja keluar masuk dari rumah sakitku’’.
‘’dia anak kamu juga, perlakukan dia dengan baik. Bukan salahnya jika dia sakit’’.
‘’anakku, dia anakmu dengan kirana si wanita ****** selingkuhanmu itu’’.
Alexa yang berbalik hendak meninggalkan depan ruangan mamanya mendengar kenyataan bahwa dia bukan anak kandung mamanya, seketika itu dia langsung terjatuh di lantai, tubuhnya lemah dan tak mampu berkata-kata. Nabil yang telah mengetahui hal itu sebelumnya berusaha menenangkan alexa, dia membantu alexa berdiri dan segera membawanya masuk ke mobil. Di sepanjang jalan alexa menangis mengingat semua perlakuan buruk mamanya terhadapnya.
‘’jadi itu semua terjadi karena aku bukan akan kandung mama, aku anak selingkuhan papa’’
Nabil menyandarkan kepala alexa di pundaknya, terus mengelus kepalanya dan tak bisa kerkata apa-apa. Nabil membawa alexa ke apartemennya, zoya nampak tidak ada di dalam apartemen, dia pun mengajak alexa masuk di kamarnya dan menyuruhnya beristirahat. Nabil menghubungi zoya namun ponselnya tidak aktif, nabil terus menghubunginya.
Brian menememui amel yang sedang berada di apartemen baru zoya. Amel membantu zoya berbenah karena zoya kembali memutuskan untuk tidak tinggal lagi di apartemen nabil.
‘’lo yakin mau pindah?, apa nabil tau keputusan lo ini?’’, tanya brian.
‘’aku yakin, tapi nabil belum tau. Setelah dari sini aku akan mencoba bicara dengannya’’.
‘’baiklah, kalo lo mau kesana nanti sekalian gue anterin’’.
Brian, amel dan zoya menuju apartemen nabil, saat masuk di lihatnya nabil yang sedang mengeringkan rambut alexa yang duduk di sofa. Mereka semua terperangah kaget, mereka terdiam untuk beberapa saat.
‘’aku mau mengambil barang-barangku’’, zoya memulai pembicaraan mencoba menghindari kecanggungan.
‘’oh, oh iya. Silahkan!’’.
Zoya dengan wajah sedihnya berjalan masuk ke kamar, di ikuti amel yang menatap kesal pada nabil. Brian pun berjalan menuju sofa menghampiri nabil dan alexa.
‘’kenapa lo malah disini dan gak pulang kerumah?’’.
‘’mulai sekarang gue tinggal sama nabil, gue mau belajar berenang’’.
‘’kenapa gak tinggal aja dirumah gue dan minta ajar sama gue?’’.
‘’bisa juga. 3 hari kamu yang ajarin gue, 3 hari nabil yang ajarin gue. mau kan?’’.
‘’jadi 3 hari lo tinggal di rumah gue dong’’.
__ADS_1
‘’gue belum pikirin hal itu. Udah ah, gue mau ganti baju’’.
Brian duduk bersebelahan dengan nabil, brian menunjukkan wajah kesalnya.
‘’zoya mau pindah, lo bertengkar?’’.
‘’enggak tuh’’.
‘’ya terus kenapa lo biarin dia pindah?’’.
‘’ya karna itu pilihannya. Lagian alexa kan bakal tinggal disini’’.
‘’gue seneng lo baikan sama exa, tapi gue jadi jengkel karena lo mencampakkan zoya’’.
‘’gue gak mencampakkan dia, lagian itu juga bukan urusan lo’’.
‘’iya juga sih, bukan urusan gue’’.
Zoya keluar dari kamar membawa barang-barangnya di bantu oleh amel, brian berdiri dan hendak mengantar mereka, namun di hentikan oleh alexa yang sudah berdiri di depan kamar nabil.
‘’lo mau kemana brai?’’.
‘’cari angin?, jangan bilang lo punya pikiran buat ngantar mereka!’’.
Bian yang berat untuk menjawab jujur akhirnya hanya menatap zoya dengan wajah sayunya, dia pun kembali duduk melihat zoya dan amel keluar dari apartemen. Nabil yang tanpa wajah bersalah berdiri mengambil bir dan gelas lalu menuangkan bir untuk alexa dan brian. Nabil dan brian yang tak saling berbicara, terus menegak bir hingga mereka mabuk dan tak sadarkan diri. Melihat brian dan nabil yang tidur bersebelahan di sofa yang sama, diapun menutupi tubuh dua sahabatnya itu dengan selimut, dan alexa masuk ke kamarnya.
Di perjalanan menuju apartemen, zoya dan amel saling membelakangi, keduanya sama sama bersedih dengan kesedihan mereka masing-masing. Amel bersedih karena brian tidak berani menunjukkan sikap baiknya di depan alexa, dan zoya bersedih karena nabil tidak berkata sepatah atapun ketika tau bahwa zoya akan pindah, dan terlebih lagi, nabil malah membawa alexa tinggal di apartemennya.
Sesampainya di apartemen, ponsel zoya berdering, di lihatnya panggilan masuk dari nabil. Zoya tidak mengangkatnya karena masih tak sanggup menahan tangis ketika berbicara dengan nabil, zoya masih sedikit kesal. Nabil terus menghubungi zoya, dan hati zoya mulai ragu, memegang ponselnya dan hendak mengangkat panggian dari nabil, Namun panggilannya sudah berakhir.
Alexa, brian dan nabil duduk di sofa yang sama, namun tak ada yang berbicara seatah kata pun. Brian tampak memikirkan sesuatu, begitupun dengan nabil yang wajahnya nampak lesu. Alexa memandangi kedua sahabatanya dan mulai bertanya,
‘’kalian kenapa?, mikirin apa sih?’’.
Keduanya diam tak mendengar ucapan alexa, nabil yang sibuk menatap layar ponselnya sedang brian menyandarkan kepalanya di sofa.
‘’plis deh!, kalian gak mau cerita ada apa?. Cerita aja apapun, gue gak akan marah’’.
‘’gue rasa gue suka sama zoya’’.
__ADS_1
‘’what?’’.
Alexa dan nabil memalingkan pandangannya ke brian yang mengatakan bahwa dia menyukai zoya. Brian menjadi kikuk dan merasa malu,
‘’apa?, apa? Ngliatin!. Lo nyuruh gue cerita, kenapa ekspresi lo jadi begitu?. Gue tau gue salah, tapi gue juga gak bisa terus-terusan bohongi hati gue’’.
‘’gue gak marah kok!, aku mungkin pacaran dengan dia, tapi pikiranku ke orang lain. Aku mungkin jatuh cinta sama dia, tapi hatiku masih tertinggal untuk orang lain. Lo punya hak untuk mendekati dia’’.
‘’kenapa lo gak pernah cerita?, udah sejauh apa lo dekat sama dia?’’, tanya alexa.
‘’kapan waktu yang tepat buat gue bisa cerita, kita kan baru aja rujuk. Kemarin-kemarin bukannya hubungan pertemanan kita renggang yah, gara gara nabil sibuk sama dia’’.
‘’kok jadi nyalahin gue, lo mau cerita ya cerita aja, kenapa juga mesti nunggu gue gak sibuk’’.
‘’ya karna lo menjauh, jadinya alexa sedih dan gak ada waktu buat gue, jadi ya gue mana bisa cerita’’.
‘’udahlah, gak usah berdebat lagi!. Gue mendukung lo sama siapapun kok!’’.
‘’tumben lo setuju!’’, nabil melirik ke alexa.
‘’gue gak mau memaksakan apapun lagi, kalo lo suka lo bisa pacaran sama dia, yang penting kita juga tetap temenan!’’.
‘’gak adil banget sih lo, giliran brian suka sama zoya di bolehin, kemarin pas gue pacaran sama dia lo membenci gue’’.
‘’sekarang gue juga gak bakal marah kok kalo lo mau punya pacar, siapapun, asal gue sama brian adalah prioritas’’.
Nabil menatap aneh ke alexa, alexa tersenyum bahagia menatap nabil seolah-olah dia benar-benar sudah tidak mengharapkan apapun dari nabil. Brian pun masuk kekamar dan menghubungi amel dan zoya untuk meminta maaf atas sikapnya. Alexa yang hendak meninggalkan nabil, tiba-tiba nabil meraih tangannya.
‘’lo serius ngomong gitu?’’, tanya nabil dengan wajah datarnya.
‘’tentang apa?, setuju kalo elo punya pacar?’’.
‘’iya’’.
‘’gue serius bil. Lo dan brian punya hak untuk bahagia!’’.
‘’yang gue suka itu elo xa, bukan zoya. Gue gak akan pernah bilang gini seandainya brian gak bilang gitu tadi. Seandainya brian gak jujur sama perasaannya, mungkin sampai matipun gue bakal tetap mendam perasaan gue ini’’.
‘’bil, jangan lampiaskan sakit hati lo ke gue. gue siap ada di samping lo, tapi hanya sebagai sahabat’’.
__ADS_1
BERSAMBUNG....