
Alexa memukul belakang kepala brian,
‘’lepaskan brengsek!’’, brian mengakhiri memiting nabil.
‘’yak, gue itu udah belain lo, dan lo malah belain nabil. Exa lo tu sebenarnya ada di pihak siapa sih?’’.
Brian mengoceh karna alexa membela nabil yang jelas-jelas melakukan kesalahan dengan datang terlambat.
‘’gue?, kalo harus milih honey atau bee gue akan memilih honey, tapi kalo honey nggak ada gue bakal milih bee’’.
‘’aissh, dasar rubah licik. wanita bermuka dua. Jadi maksud lo gue pilihan kedua gitu?’’.
Brian menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap alexa dengan wajah kesalnya, alexa dan nabil hanya tersenyum menggoda brian yang terlihat lucu saat marah. Alexa tersenyum ramah sambil merangkul brian.
‘’enggak bee, lo bakal tetap jadi yang pertama. Udah dong jangan marah’’.
Brian membuka tangannya, dan menunjuk pipi kanannya.
‘’cium gue’’, brian tersenyum licik pada alexa.
‘’baiklah, tutup mata lo’’, brian menutup mata dan menyodorkan wajahnya, alexa menatap nabil dan memberi kode.
‘’cium dia’’, alexa mengayunkan jempolnya ke arah brian.
‘’gue?’’, nabil berbicara tanpa suara.
‘’kenapa gue?’’, tambahnya.
‘’cepatlah’’, alexa memberi tatapan tajam pada nabil.
‘’exa, cepat dong cium gue’’, brian masih menutup matanya.
Nabil mencium pipi brian dengan sekejap. Brian membuka mata,
‘’ciuman apa yang secepat kilat?’’, brian kembali menyilangkan kedua tangannya di dada, mencurigai alexa dan nabil.
‘’sepertinya nabil yang cium gue’’, brian menatap nabil dan alexa dengan sinis.
‘’bukan, ale yang cium lo’’, nabil membela alexa.
‘’ok, gue anggap itu bukan kebohongan’’, nabil dan alexa saling memandang, tersenyum penuh bahagia.
Sementara alexa dan brian berjalan menuju sofa, nabil berjalan menuju lemari es dan mengambil 3 botol soda lalu kembali menghampiri mereka.
‘’ini, minum biar hati lo adem’’, nabil menawarkan pada brian, brian memegang botol namun belum mengambilnya dari tangan nabil.
‘’bukain, sebagai tanda permintaan maaf karna telat datang’’, nabil membuka tutup botol minuman dan memberikannya kepada brian.
Nabil duduk di kursi bersebelahan dengan mereka berdua, namun ia lebih menempel ke alexa, menempelkan botol minuman ke pipi alexa.
__ADS_1
‘’ah, dingin bil!’’, alexa menjauhkan tangan nabil dari pipinya.
‘’nih udah gue bukain!’’, nabi menyodorkan minumannya.
Tiba-tiba nabil teringat zoya, wanita yang menginap di apartemennya, lalu dia berpindah ke sofa panjang favoritnya yang berada agak jauh dari brian dan alexa, dia mengambil ponselnya dan menelfon luna.
‘’halo’’.
‘’ya, ada apa?’’.
‘’temen gue udah tidur?’’.
‘’belum. Kita baru selesai makan, ada apa?’’.
‘’lo suruh dia tidur aja di kamar gue, lo tetep tidur di kamar lo, ok!’’.
‘’baiklah, gue tutup telfonnya’’. luna hendak mematikan telfonnya,
‘’tunggu!’’
‘’em, apa lagi?’’,
‘’bilang sama dia, besok gue anter dia pulang’’.
‘’ok!. Gue tutup telfonnya’’.
Brian dan alexa sudah memasang wajah curiganya,
‘’dia nginap?, cewek?’’, alexa menaruh rasa kesal pada nabil.
‘’oyy, hentikan!. Jangan pandang gue kayak gitu ah, kalian itu jadi kayak muka horor’’.
Nabil kebingungan tak tau harus menjawab apa atau beralasan apa. Nabil mengambil lagi kaleng soda di lemari es, alexa dan brian mengikutinya.
‘’yak, katakan!, siapa teman lo selain kita?’’, alexa merasa kesal.
‘’lo menghianati kita dan berteman dengan yang lain?’’, brian juga mulai kesal.
Alexa dan brian terus mengintrogasi nabil tentang teman yang menginap di apartemennya.
‘’lo punya pacar?’’, alexa menurunkan nada bicaranya, sekedar penasaran tentang hubungan nabil dengan orang yang menginap di apartemennya.
‘’ya kunyuk, cepat katakan, siapa nama teman lo?’’, brian menarik narik baju nabil.
Nabil menuju tempat bermain game, alexa dan brian masih mengikutinya.
‘’sudahlah brian, dia merahasiakan sesuatu dari kita!’’, alexa menghentikan brian, memegang tangannya dan mengajaknya duduk tanpa memperdulikan nabil.
Luna yang telah selesai memebersihkan meja makan, merapikan piring dan membuang sisa makanan di tempat sampah, menghampiri zoya di depan pintu kamar.
__ADS_1
‘’lo nanti tidur di kamar itu yah, sendirian gak apa-apa kan?’’.
‘’iya, gak apa-apa kok!’’. luna menunjukkan kamar nabil agar zoya tidur di kamarnya.
‘’dia gak pulang?’’.
‘’emmm, mungkin gak pulang, tapi tadi dia bilang dia besok mau anter lo pulang pagi-pagi’’.
‘’oh, gitu!. Baiklah, aku masuk dulu ya’’.
‘’ya, silahkan’’.
Luna pun berjalan masuk kekamarnya, berbaring lalu menelfon pacarnya, karna saat itu dia sedang bertengkar. Zoya menutup pintu dan meletakkan tas kecilnya di meja. Dia duduk di ujung tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya,
‘’Ohh, nyamannya’’.
Beberapa saat kemudian zoya bergegas bangun dan mengambil ponsel dalam tasnya, melihat panggilan tak terjawab dari amel dan adam beberapa kali.
‘’aku matikan saja ponselku supaya adam tidak bisa menghubungiku’’.
Zoya kembali membaringkan diri, menatap kesegala arah, mencemaskan banyak hal. Dia melihat banyak bingkai foto di rak tinggi di dalam kamar itu, lalu berdiri dan melihat satu persatu foto.
‘’pasti ini pacaranya’’, zoya melihat lagi foto di rak paling atas.
‘’bukannya itu orang yang ada di foto sama amel?, dia siapanya?’’.
Zoya kembali duduk di tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya. Tapi saat zoya hendak menutup mata, perlakuan adam selalu terbayang di fikirannya, tapi di sisi lain zoya juga merasa takut kalau adam akan salah paham tentang nabil. Apalagi mungkin adam akan tau kalo zoya tidak pulang ke asramanya dan tidak juga menginap di rumah amel.
‘’aku takut dia benar-benar mengira aku berselingkuh. Aku harus ngomong apa ke adam kalau ketemu besok?. Auh, entahlah, bodohnya aku. Di perlakukan kasar tapi masih tetap sayang’’.
Zoya tertidur, namun karena kecemasannya yang berlebihan dia pun beberapa kali terbangun.
Sementara itu, Alexa dan brian duduk berdekatan, brian menunjukkan beberapa pakaian model terbaru di Butik Grand Plaza, milik ayahnya kepada alexa.
‘’gue suka yang ini!’’, alexa memilihkan satu kemeja untuk brian.
‘’bagus sih modelnya, tapi mungkin lebih bagus kalo warna coklat, gimana?’’, brian masih mengobrol dengan alexa tanpa peduli nabil yang juga duduk disampingnya.
‘’menurut gue ungu lebih cocok’’.
‘'eisss, gak ada cowok pakai baju warna ungu. mentang-mentang warna favoritnya, semua jadi serba ungu’’.
Brian memegang rambut panjang alexa, menggulung-gulungnya dengan jari telunjuknya.
‘’kalian mengabaikan gue?, ayolah, dia cuma teman, gak sebanding sama kalian’’, nabil mulai membujuk teman-temannya yang sedang marah.
‘’ya makanya bilang dong dia itu siapa?’’, alexa menjawab ketus.
‘’gue bahkan gak tau namanya, gue cuma gak sengaja ketemu di depan toserba, dia di pukul pacarnya dan gak mau pulang ke asramanya, jadi gue suruh dia buat tinggal di apartemen gue, udah itu aja. Buktinya gue disini, gue lebih milih kalian, jadi udah dong jangan di permasalahkan lagi. Jangan marah lagi ya?, emm?’’, nabil meletakkan tangannya di pundak brian dan ikut menggulung-gulung rambut alexa dengan jarinya.
__ADS_1
‘’baiklah, kita gak marah. Kita itu cuma gak mau ada rahasia sekecil apapun diantara kita, kalo emang gak penting kenapa mesti di sembunyikan, iyakan exa?’’, brian menyandarkan kepalanya di pundak alexa.
BERSAMBUNG.....