CINTA PERTAMA 2

CINTA PERTAMA 2
BAB 11


__ADS_3

"Mulai Berulah"


Jangan membuat keputusan sendiri,tanpa bertanya kepada Nina.


Jangan-jangan ini akal-akalan putra kita untuk membuat ia terpaksa menerima semua keputusan Fahris, ucap mama Tarti lugas walaupun dalam hatinya ingin tertawa.


Iya.


Mama benar juga,Yuni sangat sependapat dengan mama. Masalahnya dari tadi Nina diam saja, seperti diancam sama Fahris.


Sahut Yuni untuk mendukung pendapat sang mama, walaupun ia juga ketar ketir kalau Fahris akan marah nantinya.


Nak, apa dirimu setuju dengan keputusan Fahris?",papa tidak mau melihatmu menderita nantinya karena mengambil keputusan yang gegabah tanpa dipikirkan terlebih dahulu, ujar papa Joko dengan mengelus rambut Nina dengan kode kedipan mata.


Nina paham semua keluarga sedang mengerjai mas Fahris.


"Apakah dia memaksamu atau mengancammu?",tanya papa Joko.


Maksud papa, mama dan mbak Yuni,"apa bertanya seperti itu sama Nina?",tanya Fahris.


Fahris tidak pernah memaksa Nina,hanya minta persetujuannya saja.


Papa hanya bertanya kepada Nina untuk meminta kejujurannya.


"Apakah itu salah?", dan papa tidak mau anak ini merasa tertekan, karena ulah mu.


"Pa...?"sabar, ucap mama Tarti untuk menenangkan emosi suaminya dan mengerti kalau suaminya juga sedang mengerjainya anaknya.


Papa ingin mendengar jawabanmu yang sejujurnya,nak. Agar nantinya kamu bisa bahagia dan tidak tertekan hidup bersamanya, karena pernikahan itu,sekali seumur hidup.


"Paaa... ?",Fahris tidak memaksa Nina, pa. Ucap Fahris yang sudah gusar, apa lagi melihat Nina hanya tertunduk diam.


"Paa...?", Fahris mohon untuk sekali ini restu hubungan Nina dan Fahris.


Fahris merasa sudah putus asa untuk bahagia. Fahris rela mengembalikan apa yang papa berikan pada Fahris, tapi jangan tolak Nina lagi.


Pinta Fahris dengan mata berkaca-kaca karena relung hatinya kembali kosong.


"Papa tahu...?",papa hanya ingin mendengar jawaban dari Nina.


Nina sebenarnya tidak tega melihat Fahris hampir menangis, tapi melancarkan sandiwara ini ia harus tega.


"Duduk disini, didekat papa,nak?",perintah papaJoko menunjuk sofa yang kosong disampingnya.

__ADS_1


Fahris sangat tahu sifat Nina, dia tidak bisa berbohong apa lagi terhadap orangtua.


Fahris hanya bisa menahan amarah dengan mengepal-ngepal jari-jari tangannya.


Nina melangkah dan duduk disamping papa Joko sang calon mertua.


Fahris sangat gusar dan gelisah,ekspresi wajahnya menjadi pusat perhatian kedua keponakannya.


"Om Fahris sangat menakutkan,kita berdua harus berjaga-jaga,kalau tiba-tiba om Fahris menyerang mbah kakung.


Kalian lihat apa?,tanya Fahris kepada kedua keponakannya, yang mengawasinya sejak tadi.


"Mas...?".


Pelankan suaranya,mereka masih anak-anak,tiba-tiba suara Nina meninggi membuat semua orang kaget.


Cukup Nina saja,jangan mereka yang kamu ancam,kebiasaan.


"Nina..?".


Fahris mengatupkan kedua rahangnya dan membesarkan matanya, yang membuat Nina menundukan pandangannya.


"Nina..?",lihat kearah papa dan ceritakan beban dihatimu.


"Apakah dirimu merasa tertekan dalam beberapa hari ini?".


"Apakah Fahris menyiksamu,nak?",papa berjanji akan membantumu,jika anak nakal itu berbuat macam-macam.


"Apakah papa benar-benaran mau membantu Nina dari pria itu?",tanya Nina.


"Iya", papa pasti membantuku, ucap papa Joko.


Yes.


Nina bahagia ada yang membantu Nina.


Bisakah papa menjauhkan sedikit,Nina dari pria ini?, tanya Nina.


"Bisa?".


Sangat bisa, jangankan sedikit banyak pun papa bantu.


Nina mulai mengeluarkan sifat manjanya.

__ADS_1


"Pa..!",


Pria itu selalu mengancam Nina, dengan cara melototkan matanya dan Nina mencontohkan semua ekspresi wajah Fahris kepada papa mertuanya.


Semua menahan senyum mendengar Nina bercerita.


Ya, Allah begitu polosnya calon menantuku ini,gumam mama Tarti dalam hati.


Baiklah,papa akan sedikit menjauhkan dirimu dari pria itu.


Semua ingin tertawa melihat tingkah kekanak-kanakan,Nina.


Sekarang,papa mau jawaban Nina yang sejujur-jujurnya.


"Apakah pria itu memaksamu untuk menyetujui pernikahan ini.


Tidak.


Nina menyerahkan semuanya kepada mas Fahris,Nina mau duduk manis saja.Karena mengurus pernikahan tuh capek,banget pa.


Biarkan saja pria itu yang repot sendiri,Nina menunjuk kearah Fahris. Dia yang mau menikahi Nina,jadi dia yang harus mengurus semuanya.


Turunkan jarimu, nanti mas gigit,ucap Fahris dengan membulatkan matanya.


"Pa.....?",pria itu mulai lagi.


"Fahris..!"


Diam, turunkan matamu perintah papa.


Papa bertanya seperti itu kepada Nina,hanya ingin tahu.


Apakah Nina punya keinginan yang lain?,maksudnya papa seperti itu Fahris.


Dari "A sampai "Z, semuanya kamu yang membuat keputusan.


"Nina suka,pa?"j,awab Nina dengan santainya, membuat semua orang hanya tersenyum melihat ekspresi wajahnya.


Mama dan papa duduk manis saja dan kalian berdua kemari,jangan terlalu dekat dengannya.


Mama dan papa jangan stress,biarkan mas Fahris mengurus sendiri.


Semua sudah tidak bisa menahan tawa, baru Kali ini mereka melihat Fahris tidak berdaya dihadapan seorang perempuan.

__ADS_1


Pak Joko tidak percaya kalau putranya bisa berubah seratus delapan puluh derajat, saat bersama Nina.Rumah ini terasa terisi dengan kebahagiaan lagi.


__ADS_2