
Nina, melihat wajah suaminya yang tertidur dengan nyenyak,disertai dengkuran kecil.
Terima kasih,Engkau jodohkan aku dengannya kembali.
Sudah berkali-kali melakukannya.
"Mengapa masih terasa nyeri?".
"Apakah karena penyakit ini penyebabnya?",aku tidak meminta banyak, berikan aku kesempatan bersamanya, memberikan sesuatu yang berharga sebagai kenangan dariku.
Bagian dirinya dan diriku, cepatlah hadir sayang, ibu menantumu dan juga ayah, Nina mengelus perutnya yang masih rata.
Sebaiknya aku mandi,kalau terus menatap wajahnya,aku bisa berpikiran mesum lagi.
Kenapa wajahnya begitu tampan,hidungnya mancung kayak orang-orang bule.
Nina membiarkan air shower menyirami tubuhnya yang terasa lengket setelah bergulat dengan Fahris.
Aaaakkkk.....
Nina berteriak dari dalam kamar mandi, membuat Fahris panik
Nina....
"Ada apa sayang?",tanya Fahris kaget mendengar suara Nina dikamar mandi.
Handuknya,Nina jatuh mas?,Nina memperlihatkan handuknya yang sudah basah .
Nina membuat mas kaget, yah.
Iya,mas ambilkan yang baru.
"Mengapa ngak mandi barengan aja,kena,lo?",batin Fahris melihat keadaan Nina saat ini.
"Nina... ?",buka pintunya
ini mas bawa handuknya.
Saking polosnya Nina membuka pintu kamar mandi dan Fahris dengan cepat ikut masuk.
Akhirnya Nina hanya bisa menunduk,terjebak dengan kesalahannya sendiri.
Mandinya pasti sangat lama,kalau sudah sama mas Fahris.
"Aku pasrah saja,deh?", setelah hampir dua jam, baru mereka keluar dari kamar mandi.
Mas, Nina kedindingan.
Iya,kemari mas keringin rambutnya.
__ADS_1
Tapi,janji ngak usah diutik-utik lagi, Nina udah kedindingan,masak diminta mandi lagi, protes Nina.
"Mas,laper ngak?",Nina mau buat nasi goreng.
Mau jangan lupa,kopinya?,ucap Fahris.
Rambut Nina udah kering,mas. Nina membuka kopernya dan mengambil pakaian.
Fahris hanya memperhatikan gerak-gerik Nina yang membuatnya sangat imut dari dulu sampai sekarang.
Cepat berpakaiannya, ucap Nina kepada Fahris yang masih bertelanjang dada.
*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*
"Apakah sudah ada pergerakan?",tanya orang yang ada diseberang sana.
"Belum, Pak?",ucap keduanya.
Awasi terus.
Baiklah!
Fahris berdiri dibalkon kamarnya dan melihat pohon yang diseberang sana,yang pernah hadir dalam mimipinya.
Ia merasa sangat terganggu dan gelisah apabila melihatnya. Fahris menatap sangat lama kearah seberang.
Mas....
Mengapa ngak turun,nasi gorengnya udah jadi?,ucap Nina.
Iya,aku sangat lapar habis guyuran. Itu mas yang ngerjain Nina,ucap Nina.
Nina kapok kalau mandi barengan sama mas. Tapi Nina sukakan,tanya Fahris.
"Ngak suka?",jawab Nina.
Benaran ngak suka,bohong,ujar Fahris.
Ku tatap Nina, si gadis mungilku.
"Mengapa mas,menatap Nina?",tanya Nina.
Mas mengingat masa-masa dulu, awal pertama kenalan.
Dulu Nina bertubuh kecil,tangan memerah setelah mencuci pakaian.
Sekarang tangan ini,hanya boleh mengurus keperluan,mas.
"Mas,dulu bukanlah lelaki baik-baik?",mas terkenal sebagai laki-laki pengembar perempuan.
__ADS_1
Mama sibuk dengan bisnisnya dan papa sibuk dengan usahanya.
Mas memiliki segalanya,tetapi terasa hampa.Sebenarnya mas ngak sengaja masuk dunia kepolisian.
Mas melakukannya hanya untuk mencari perhatian orangtua. Sampai akhirnya mas bertemu Nina,yang mengubah kehidupan mas.
Bagaimana pun caranya,Nina harus menjadi miliki,mas.
Hati Nina memang susah untuk ditaluki, mas hampir kesal dengan sikap dinginnya, Nina.
Nina tuh cuek,mas jadi kesel,cerita Fahris. Bukannya Nina menolak,mas.
Nina hanya takut kalau kebabalasan.Mas, terkenal sebagai perayu perempuan.
Sampai-sampai teman Nina ngomong kayak gini,Nina ternyata ciuman sama orang lebih dewasa,enak rasanya.
"Apa benar tuh, Mas?",tanya Nina polos.Mas ngak pernah tahu, kalau orang dewasa cium anak kecil enak rasanya.
Waktu mas, memberi ciuman pertama kepada Nina, rasanya kayak apa,tanya Fahris kepada Nina.
Ngak tahu,mas bilang hanya nitip, nanti kalau pulang, mas mau ambil lagi.
Fahris menepuk dahinya, astaga. Sampai sekarang Nina masih ngak mengerti,tanya Fahris lagi.
Sudah mengerti, saat pertama kali kita bertemu ditepi pantai.Rasanya hangat,mas kasih apa bibirnya, tanya Nina.
Karena saat itu,mas habis minum bir, makanya rasanya agak hangat.
"Iiihh,gitu yah rasanya."
Fahris ingin tertawa hanya ditahan agar Nina tidak kecewa.
Mas.....
Nina boleh tanya lagi ngak?,tanya Nina.
Boleh jawab Fahris,ucap Fahris. Ditubuh, mas mengapa banyak terdapat goresan,tanya Nina.
Itu bukan goresan Nina, tetapi luka karena sabetan senjata tajam.
Ternyata penjahatnya kejam juga, ya mas.Waktu terluka pasti mas sakit,banget.
Ngak, tetapi lebih sakit saat mas meninggalkan Nina.
Nina itu seperti apa dimata mas Fahris,tanya Nina dengan menempelkan pipinya ditelapak tangan Fahris.
Nafas kehidupan,jika tiada kelam, Nin.Fahris menjatuhkan airmata yang menunjukkan kelemahannya.
"Ya, Allah jika aku tiada, apa yang terjadi pada dirinya, gumam Nina dalam hati".
__ADS_1