
Nina dan Fahris sudah ada dibandara menunggu kedatangan orangtuanya.Sudah mendarat, tinggal menunggu mereka keluar.
Mas, itu mereka?,tunjuk Nina saat melihat kedua orangtua, adik dan juga sahabatnya. Rasa bahagia meliputi hatinya saat ini,setelah berpisah lebih dari satu minggu.
Kak Nina...mas Fahris, itu mereka berdua menunggu kita,ucap Kia melihat kedatangan kakaknya didepan pintu kedatangan.Setelah bawaan mereka diletakkan diatas troli,mereka mendorongnya keluar menemui Fahris dan Nina.
Bapak dan ibu,apa kabarnya?,tanya karena bahagia melihat kedatangan mertuanya.
Alhamdulillah,sehat anak. Apakah dia berbuat tidak sopan padamu?,tanya ibu padaku. Tidak,bu?,dia yang terbaik untukku,terima kasih telah menjaganya. Fahris merangkul pundak Nina setelah berbicara dengan ibu mertuanya.
Terima kasih Tuhan,Engkau memberikan jodoh yang terbaik untuk anakku. Sudah banyak keluarga yang menolak putriku untuk menjadi menantu mereka,karena kekurangan putriku,gumam ibu Nina dalam hati.
Apakabarnya dengan orang tua,nak Fahris?, tanya ibu Nina kepada sang menantu.
Alhamdulillah mereka sehat,bu.
Selamat datang Rafi,maaf sedikit melupakanmu,ucap Fahris dengan memeluk Rafi ala-ala pria. Terima kasih, kota tempat tinggalmu cukup asri,aku rasa ia tidak akan mau jauh tinggal denganmu,melihat betapa indahnya kota ini, ungkap Rafi jujur.
Baiklah,kita langsung kehotel,dimana tempat resepsi akan dilaksanakan, dua buah mobil telah terparkir didepan lobby untuk menjemput mereka.
Nak, Fahris?,panggil ibu nina.
Iya,bu. Fahris menoleh sedikit kebelakang tepat dikursi penumpang
"Apakah Nina merepotkanmu?",tanya ibunya Nina kepadaku.
"Tidak, bu?,Nina anak baik, dengan mengusap-usap kepala sang istri.
"Hati-hati,mas?",tegur Nina mengingatkan karena Fahris sedang menyetir. Dalam waktu setengah jam, mereka sudah sampai dihotel.
Ya, Allah mas Fahris,hotelnya besar dan Strategis, Kia kagum dengan bangunan megah hotel milik kakak iparnya.
"Dulu sebelum Mas yang pegang kendali,sepi ngak ada pengunjungnya, setelah tiga tahun baru berjalan sempurna.
Assalamu'alaikum, mbak Selly?,sapa Nina saat melihat Selly
Walaikumsalam,mbak Nina.
Mbak Selly, kenalin ini orangtuanya Nina.
Selamat datang bapak dan ibu.
Terima kasih,nak.
"Mbak Selly hamil, yah?",udah berapa bulan mbak,tanya Kia kepada Selly.
Iya,sudah masuk sembilan bulan,rencananya habis acara mereka berdua,mbak akan izin cuti.
Kak Nina seharusnya belajar sama mbak Selly,bagaimana cara memberikan keponakkan untuk Kia.
Tenang saja mas akan membuatnya setiap hari.Iyakan,sayang?,tanya Fahris dengan menaik-turunkan alisnya kepada Nina.
Nina merinding mendengarnya,kalau mengingat bagaimana kelakukan Fahris kalau udah soal begituan,bisa-bisa remuk nih badan.
__ADS_1
Semuanya hanya tersenyum melihat ekspresi wajah tegang Nina yang baru merasa menjadi pengantin baru.
Mas Fahris,Kia kamarnya barengan sama ibu dan bapak.Kia masih takut sendirian.
Iya, terserah.
Rafi, ini kunci kamar untuk kamu.
kita mau makan apa istirahat dulu,tanya Fahris.Kita simpan barang dulu, setelah itu makan, ucap Kia
Barang bawaan bapak sama ibu,pelayan saja yang membawanya kekamar.
Mas, Nina mau lihatin sama Kia sesuatu. Nina meminta kunci kamar mereka yang berada didalam hotel, Fahris menyerahkan kunci kamar kepada Nina,membiarkan keduanya saling melepas rindu. Kia tertegun melihat interior kamar sang kakak.
Wah, interiornya bagus,ucap Kia menganggumi. Mas Fahris seleranya tinggi, jadi ngak usah diheranin,ujar Nina.
Kamu bawa ngak obat kakak,tanya Nina kepada Kia. Mas udah tahu tentang ginjal kakak,tanya Kia.
Belum,Ki. Kaka belum berani menceritakan sakit kakak kepada mas Fahris,jawab Nina.
Kakak, mas Fahris harus tahu,nasehat Kia pada sang kakak.
Ngak boleh,Kia.kalau masuk Fahris tahu, ia tidak akan mengizikan kakak punya anak. Kakak tahu sifat mas Fahris seperti apa.
Mas Fahris itu orangnya nekat, Kia. Kakak kadang-kadang kelelahan,melayani hasrat mas Fahris,kalau dia tahu ada masalah dengan ginjal kakak, dia pasti tidak mau mengauli, kakak dan lebih memilih tidak mempunyai anak dari pada melihat kak Nina menderita.
Kalau ada obat ini, kakak bisa bertahan.Jadi, sekarang kakak sangat memohon padamu untuk tidak menceritakannya.Kakak, belum siap melihat mas Fahris kecewa.
***Flahsback***
Kak Nina, bapak masuk rumah sakit. Pesan Kia lewat sms.
Hendra.
Iya, ada apa?,tanya Hendra yang melihat wajah tegang Nina.
Bapak masuk rumah sakit,Dra. Aku harus kesana,Kia sama ibu kebingungan,ucap Nina.
Baiklah,gue antar, lo.Rumah sakit mana?,tanya Hendra.
Rumah sakit Husada.
Kia...
Kak Nina,dokter mau bertemu dengan kakak. Jangan menangis,ibu dimana?,tanya Nina.
Tungguin bapak diruang ICU.Nina dan Hendra melangkah cepat menuju ruang ICU.
Nina hanya mampu memejamkan mata melihat kondisi sang bapak. Nin,saudaramu yang lain tidak mau mendonorkan ginjalnya untuk bapak,kalau kita menunggu orang lain mendonorkan ginjalnya, memakan waktu cukup lama dan biayanya sangat besar,ujar sang ibu berlinangan airmata.
Nina tahu bapak adalah kehidupan ibu,belahan jiwanya.Begitu juga dengan bapak lahir dari anak orangtua yang tidak punya apa-apa,mencintai ibu yang boleh dikatakan hidup berkecukupan,menerima cinta bapak sehingga tidak berhak atas harta keluarga. Tidak dibuang, tapi dihina setiap saat.
Ibu tenang saja.Jaga bapak, serahkan semuanya kepada Nina. Setelah itu Nina pergi menemui dokter tenang masalah ginjal bapak. Hendra temanin aku ketemu sama dokter.
__ADS_1
Tok.... tok.... tok.....
Masuk.
Siang dokter Budi. Saya anaknya pak Haris. Ada apa dengan bapak saya, dokter?,tanya Nina
Bukankah saya sudah memperingatkan, kalau pak Haris,tidak boleh lagi kerja berat.
Mengapa kalian tidak mengindahkan nasehat saya?,ucap dokter Budi
"Maaf,dok?".saya benar-benar tidak tahu masalah ini, karena sibuk bekerja.
Kedua ginjal,pak Haris tidak bekerja lagi,kita harus mengangkat keduanya dan mengantinya dengan ginjal yang baru.Butuh waktu setahun mencari donor ginjal. Tetapi yang saya khawatirkan,apakah Pak Haris sanggup bertahan?,ucap dokter Budi.
Jadi, solusinya harus bagaimana,dok?,tanya Nina khawatir.
Donor ginjal dari kalian sebagai anaknya.
Siapa tahu salah satu diantara kalian ada yang cocok,untuk mendonorkan ginjalnya.
Dokter Budi, periksa saya dulu, kalau cocok langsung operasi.
"Nina,apa lo yakin?",tanya Hendra.Tentu saja,Hendra. Nina tahu setelah ini akan timbul masalah hubungannya dengan Hendra nanti. Tidak masalah kehilangan cinta dari pada kehilangan orangtua,dulu aku pernah mengalaminya.
Mbak Nina,ikuti kami ucap salah satu perawat. Setelah satu jam,Nina keluar dari ruangan pemeriksaan.
Mbak Nina silahkan masuk.
Duduk, Nina.
Apakah kamu yakin,tidak menunggu anggota keluarga yang lain,tanya sang dokter.
Emangnya ada masalah, dok?,tanya Nina karena khawatir.
Ginjalmu cocok untuk didonorkan, tetapi resikonya,kamu harus ikhlas bila suatu saat nanti ada masalah dengan kesehatanmu, karena ginjalmu,yang lain ada masalah.Tetapi,ada obatnya asalkan dirimu rutin meminumnya sesuai resep yang saya berikan.
Dokter Budi, nakutin Nina saja,ngak masalah yang penting bapak Selamat.
Biayanya bagaimana,dok?,tanya Nina.
Uruslah kebagian administrasi. Hendra, paman ingin bicara padamu. Nina mengerti dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua,menuju bagian administrasi mengenai biaya operasi dan perawatan bapak.
"Ada apa,paman?",tanya Hendra bingung. Apakah dirimu benar-benar mencintai Nina?,tanya dokter Budi pada Hendra.
Iya, Hendra mencintainya, saat masih duduk dibangku SMP,jawab Hendra tegas.
"Akhiri saja, nak?",ini demi kebahagiaanmu,tolong dengarin paman.
Hendra,hanya terdiam tidak berani membantah.
Nina,sabar dan tabahlah. Nina tahu dokter Budi adalah pamannya Hendra,sehingga mendapatkan kemudahan dalam mengobati bapak.
Ia rela dan ikhlas melepaskan Hendra demi kebahagiannya sama seperti yang ia lakukan dulu dengan Fahris. Mungkin belum waktunya aku bahagia,ucap Nina mengikhlaskan semuanya.
__ADS_1