CINTA PERTAMA 2

CINTA PERTAMA 2
BAB 15


__ADS_3

"Pulang Dan Lamaran"


Pukul berapa pesawatnya take-off,nak?,mama Tarti bertanya kepada putra kesayangannya.


Pukul,15:30,ma?,nanti kalau sudah sampai,Fahris akan menghubungi mama, ucap Fahris dengan mengecup pipi mama Tarti yang sudah lama tidak pernah ia lakukan.


Disana Fahris langsung melakukan porses lamaran, ucap Fahris.


Mama Tarti sangat terkejut dengan perbuatan spontan Fahris yang mengecup pipinya.


Ia menatap lekat kepada sang putra dan ikut membantu menata pakaian Fahris kedalam koper.


Fahris melihat Vito berdiri diambang pintu. Selama om disana kamu harus disini.


Om akan menghubungimu, saat pernikahan berlangsung, ucap Fahris kepada Vito.


Siapa, om?,jawab Vito.


Terima kasih,ganteng ucap Nina dari arah belakang dan memeluk keponakannya.


Fahris membulatkan matanya,tidak terima karena Vito telah mengambil jatah paginya.


"Maaf,om Fahris?",Vito ngak mau ikutan. "Maaf,tante?",seleaikan masalahnya,karena Vito tidak mau terlibat dalam perang dunia kedua, ucap Vito langsung pergi menghindar.


"Sudah siap,mau pulang?",tanya Fahris dengan menarik pinggang Nina merapat ketubuhnya.


"Iya?".


"Mau kemana?",tanya Fahris yang mendekatkan wajahnya sehingga ia bisa merasakan hembusan nafas Nina menerpa wajahnya.


Kaki Nina tak mampu menompang tubuhnya,saat Fahris menatapnya dalam.


Mau kekamar, mengambil koper yang ketinggalan, jawab Nina gelagapan ingin menghindar.


Itu, yang dibawa apa. Nina melihat arah mata Fahris yang mengarah didepan pintu.


"Oh...?".


Nina mendudukkan kepalanya,karena melihat Fahris masih kelihatan marah padanya.


"Mas,jangan marah?",Nina takut, maaf karena telah menyakiti hati mas Fahris.


Suara Nina parau karena buliran kecil telah jatuh dipipinya.


"Hai, sayang?".


Kamu kenapa?,tanya Fahris melihat beningan air dipipi Nina.


Fahris memeluk tubuh mungil Nina.Mas tidak marah hanya ingin Nina, ucap Fahris menghapus bulir bening dipipi Nina.


"Jangan, menangis?",ucap Fahris.Nina memendamkan wajahnya didada bidang Fahris.


Hati Nina mudah sekali tersentuh dengan hal-hal kecil.


Fahris menyesal,telah membuat wanita yang sangat dicintainya menangis.


Fahris mencium pucuk kepala Nina berkali-kali,untuk menghilangkan rasa bersalahnya.


Vito melihat mata om Fahris berkaca-kaca.Baru kali ini, Vito melihat sisi lemah dari lelaki yang bernama Fahris.

__ADS_1


"Sudah?",tanya Fahris.


"Ehm?",jawab Nina dengan anggukkan kepala.Fahris mengambil tissue dan membersihkan sisa airmata dipipi, Nina.


Fahris menganggumi wajah ini,dari dulu sampai sekarang tidak ada yang berubah masih sama.


"Kaget, yah?",dipelototin sama mas,tanya Fahris.


"Iya, jawab Nina dengan suara yang lirik hampir tidak kedengaran.


Fahris mencium bibir, Nina dengan lembut,Nina kaget karena mendapat serangan fajar.


Yuni dan suaminya yang baru datang,agak sedikit kaget melihat perbuatan nakal adiknya.


"Plak..?",Yuni memukul kepala Fahris.


Aduh!.


Kak Yuni, apa-apaan sih, sakit ucap Fahris dengan mengusap kepalanya karena pukulan sang kakak.


Kak Yuni dan mas Kus kapan datang?,tanya Fahris yang masih mengusap kepalanya.


"Sudah dari tadi,jawab Yuni". Kamu itu tidak bisa menunggu sampai Nina kamu sosor terus.


Nina hanya tertunduk malu mendengarnya, tapi sikap Fahris cuek saja.


Tanggung,kak. Sekalian saja dipepet, biar dia tahu kalau dia adalah milikku, ucap Fahris dengan menyentil dahi Nina.


Yuni hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fahris yang mulai over protektif.


Kapan kalian take-off?",tanya mas Kus untuk menengahi kakak dan adik ini.


Aden mobilnya sudah siap


untuk berangkat,ucap mang Ujang.


"Iya?


Mama, papa,do'akan Fahris Semoga urusannya lancar.


Tentu saja, nak. Jaga diri kalian baik-baik?,pesan dari mama, papa dan juga Kak Yuni.


Baik, mbak. Ucapku.


*/*/*/*/*/*/*/


Kita kesana kapan,ma?"tanya Yuni kepada mama Tarti.


Mendekati hari pernikahan.


Berarti kita harus pesan tiket dari sekarang,dong,ma.


Telat,adikmu sudah mempersiapkan semuanya.


"Apakah dirimu tidak melihat,betapa bahagianya adikmu?",ucap mama Tarti.


Sepuluh tahun,mama merenggut senyumnya.Ia, menyiksa dirinya lahir dan batin selama bertahun-tahun.


Semuanya gara-gara,mama.

__ADS_1


Lihatlah hari ini,ia berubah menjadi pria yang penyayang,lemah-lembut dan murah senyum.


Diam-diam, mama Tarti memvideo,sikap putranya setelah bertemu dengan Nina.


Rumah ini penuh dengan candaan mereka berdua. Mama tidak mau kehilangan kebahagian ini lagi,ungkap mama Tarti.


Tentu saja, mama. Yuni mengerti apa maksud mama, ucap Yuni.


*/*/*/*/*/*/*


Sayang kita masuk kepesawat. Mas,Nina ngak mau duduknya Jauh-jauh.


"Iya, kemari tangannya".


Fahris dan Nina saling berpegangan tangan, Nina sangat takut terpisah dari Fahris lagi.


Kalau terasa mengantuk tidurlah.Mas, yang akan menjagamu perjalanan kita sangat lama.


Fahris akhirnya juga ikut tertidur,karena tadi malam ia masih ikut patroli, memantau tempat yang telah mereka selidik selama enam bulan terakhir.


Rembulan malam ini, sangat terang. Iya, seperti wajahmu, yang tidak bosan untuk dilihat.


Masuklah cuacanya sangat dingin,sayang?,ucap Fahris.


Tunggu,sebentar lagi mas.


Fahris, memeluk Nina dari arah belakang dan mengelus-elus perut sang istri yang sudah membesar.


Nina membalikan tubuhnya dan mencium bibir suaminya dengan lembut dibawah sinar rembulan dibalkon teras rumah.


"Dor..!".


Terdengar suara tembakan Senapi(senjata Api) yang membuat Fahris sangat kaget. Karena ia melihat percikan api dari balik pohon diseberang jalan yang langsung berhadapan dengan balkon atas.


Fahris melihat tangannya penuh dengan darah.


"Mas, anak kita?".


Selamatkan anak kita,mas.


Fahris mendengar suara Nina yang lemah menahan sakit.


Fahris melihat darah segar keluar dari punggung Nina.


"Nina.... jangan pergi..


"Nin.... Ninaaaaa, teriak Fahris yang Semua penumpang kaget mendengar teriakkan Fahris.


"Mas..?".


Mas ada apa?,tanya Nina.


Nina jadi kaget,mas mimpi buruk, yah. Tanya Nina menghapus keringat diwajahnya Fahris.


"Iya!.


Ini pasti gara-gara,mas kurang tidur,tanya Nina.


"Ya, Allah.

__ADS_1


Semoga ini tidak menjadi kenyataan,gumam Fahris dalam hati.


__ADS_2