
"Akhir Sebuah Penantian"
Setelah selesai makan malam. Mereka melanjutkan pembicaraan masalah resepsi yang diadakan ditempat Fahris.
Nanti,ibu dan bapak pergi bersama keempat manusia ini, Fahris menunjuk kearah Rafi, Kia, Hendra dan Jeslyn.
Mas,mereka itu adik dan sahabat Nina?,ucap Nina,dengan membulatkan matanya.
Nina..?,tidak boleh,turunkan matamu perintah sang ibu melihat putrinya bersikap tidak sopan terhadap suaminya.
Iya,bu.Jawab Nina lirih.
Ibu,tidak suka melihatnya,sekarang Fahris adalah suamimu,jangan samakan seperti Kia. Ucap ibu menasehati Nina.
Nina,menyembunyikan wajahnya dengan begelayut dipundak Fahris.
Fahris,baru mengetahui kalau ibu mertuanya sangat tegas.Nina menuruni sikap ibunya tegas,tetapi lembut dan perasa.Fahris tersenyum melihat Nina, yang masih menundukkan pandangannya tidak ada keberanian menatap ibu yang masih menasehatinya.
Semua itu tidak luput dari pandangan mama Tarti. Akhirnya ia memahami mengapa Nina memiliki sikap yang sopan, dan bertutur kata yang lembut,karena didikkan sang ibu.
Rencananya berapa lama ibu dan bapak tinggal disini?,tanya ibu Nina kepada besannya.
Besok kami sudah harus pulang,bu. Kami juga harus mempersiapankan untuk acara disana,ujar mama Tarti.
Kami kira kalian akan lama berada disini. Ada rencana mau mengajak ibu dan bapak beserta yang lainnya jalan-jalan menikmati wisata disini,ujar ibu Nina.
Jangan merasa kecil hati,lain waktu kita kami akan datang lagi kesini dan liburan untuk menikmati wisata yang terkenal dikota ini,ucap mama Tarti kepada ibunya Nina.
Kami akan menunggu kedatangan ibu dan bapak,kalian juga berempat,ucap mama Tarti.
Tentu saja kami akan datang,jawab Jeslyn.
Baiklah,kalau begitu kami pamit pulang,ucap orangtua Nina.
__ADS_1
"Ngak nginap disini?,giliran orangtua Fahris yang bertanya.
Tidak pak,rumah kami dekat dari sini,hanya butuh waktu setengah jam kami bisa sampai kerumah.
Kak.
Kia pulang dulu,yah.Besok kami tunggu beritanya,ucap Kia langsung berlari sebelum Nina memarahinya.
Rafi,hati-hati.
Jaga ibu dan bapak, jangan lupa Kia juga.Pesan Nina kepada Rafi
Siap, kakak ipar.Ucap Rafi memberi hormat.
Kita juga ikutan pamit pulang,ucap Jeslyn dan Hendra kepada keduanya.
"Mengapa kalian juga ikut pulang?",tanya Fahris.
Jadi, kami harus pulang dan selamat bersenang-senang,ucap Jeslyn menjahili Nina.
Om dan tante, kami pulang pamit keduanya.
Hati-hati,dijalan.
Selamat tidak tidur semalaman,bisik Jeslyn ketelinga Nina.
*/*/*/*/*/*/*/
"Mas,ini kamar siapa?",tanya Nina karena seingatnya ini bukan kamarnya Fahris.
Diam ikut saja jangan banyak tanya,ucap Fahris. Sebenarnya perasaan Fahris sangat tidak menentu,walaupun ia berpengalaman tidur dengan beberapa wanita,tetapi menghadapi,Nina agak sedikit canggung.
Saat masuk kekamar Nina membulatkan matanya.Ditempat tidur sudah ditaburi bunga-bunga,Nina jadi bingung harus berbuat apa?,Nina mematung,ia bingung harus berbicara apa kepada Fahris.
__ADS_1
Ia, melihat kearah kaca yang memantulkan bayangan dirinya.Sekarang aku sudah menjadi milik seseorang.Nina memperhatikan Fahris,yang sibuk dengan ponselnya.
Pria gagah ini adalah orang yang ku nanti selama bertahun-tahun.Nina melangkah mendekati Fahris dan memeluk erat tubuhnya.
Terima kasih telah menjadikan aku milikmu,mas. Maafkan aku bila pernah menyakiti perasaanmu dulu dan sekarang. Maafkan Nina,membuat mas menderita, membuat hidup mas penuh dengan luka.
Fahris,merasa dihargai sebagai suami.Jangan selalu menyalahkan dirimu,sayang.
Mas,yang terlalu lama membuatmu menunggu.Membiarkanmu menunggu didalam penantian..
Terima kasih,mau menunggu diriku, dalam waktu yang sangat lama.Maafkan mas,telah meninggalkan luka dihatimu.
Masih sakitkah?,tanya Fahris kepada Nina.
Tidak ada luka maupun kepahitan yang mas tinggalkan,untuk Nina.
Fahris merengkuh tubuh mungil Nina, kedalam pelukkannya. Fahris mengangkat dagu Nina dan mengecup lembut bibir yang masih ranum. Nina, menikmati sentuhan demi sentuhan yang dilakukan Fahris.
Fahris mengendong tubuh Nina menuju tempat tidur dan meletakannya dengan sangat hati-hati. Ia, menelusuri setiap inci wajah Nina.Fahris mendekatkan wajahnya mengulangi hal yang sama.
Sekarang Nina menutup matanya untuk bisa merasakan,bagaimana ia telah ikhlas menyerahkan sesuatu yang berharga dalam hidupnya.
Nina, berteriak kecil saat ia merasakan, ada benda tajam yang membuat luka kecil dikulitnya. Sekarang ia sudah utuh menjadi seorang istri,saat Fahris telah mengambil haknya sebagai suami. ******* keduanya memenuhi isi kamar.
Fahris dapat melihat wajah lelah Nina,yang habis melayani dirinya yang belum mencapai titik dasar dalam berhubungan. Saat ini tubuhnya dan Fahris tidak ditutupi dengan sehelai pakaian, hanya badcover yang menutupi tubuh keduanya.
Kita sudah sah ,jadi jangan malu-malu lagi,ucap Fahris.
Iya.Ucp Nina
Nanti, Nina juga boleh minta duluan, Mata Nina membulat,mendengar perkataan yang diucapkan suaminya.
Fahris tersenyum melihat sikap lucu Nina.Menggemaskan, ucap Fahris dalam hati.
__ADS_1