
"Tidak Percaya"
Fahris,menatap wajah manis Nina,yang tertidur didalam pelukkannya.Karena ulah nakalnya,Nina akhirnya kelelahan.Aku sangat bahagia melihatmu berada disisiku, aku bagaimanakan anak kecil,yang berhasil mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Nina,yang saat ini tidak mengenakan sehelai benangan pun ditubuhnya.
Fahris memungut pakaian yang tersebar dilantai. Fahris kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tubuhnya terasa lengket, setelah fitness ditempat tidur. Ia,tersenyum sangat bahagia saat ini.
Mata Nina masih terpejam, tangannya meraba-raba mencari keberadaan Fahris.
Mas.
Panggil Nina yang tidak mendapatkan jawaban.
Mas Fahris ada dimana?,hatinya bertanya karena kantung kemihnya terasa penuh ingin seger kekamar mandi.
Saat ingin bangun dari tempat tidur,dibawah sana terasa ngilu dan nyeri.
Auk.
Rintih Nina yang tidak jadi bergerak karena terasa nyeri. Ternyata begini rasanya membuat singa jantan bangun rasanya tubuhku terasa mau remuk dan ini rasanya nyeri.
Fahris keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang dililitkan dipinggangnya,memperlihatkan bentuk kotak-kotak yang berjumlah delapan.
Nina melonggo melihatnya sampai ia melupakan rasa sakitnya. Tambah lagi air yang menetes dari rambutnya yang jatuh diatas bentuk kotak-kotak,membuat matanya tidak mau berkedip.
Mas Fahris mengapa bisa seperti ini?,sewaktu ia tinggal dirumahnya tidak pernah melihatnya bertelenjang dada,gumamnya dalam hati.
Fahris mendekati Nina yang masih melihatnya tanpa berkedip dan menyambar bibir Nina memberikan lumutan kecil yang membuat Nina kaget.
Mas.
Nanti bibir Nina nyonyor kalau mas comot terus,ucap menutupi rasa kagum dan nyeri diarea bawahnya.
Mas.
Nina mau kekamar mandi,tapi ini nyeri. Ucap Nina dengan menggerakan dagunya menunjuk bagian bawah.
Fahris paham,ia mengambil bathrobe yang ada didalam lemari untuk menutupi tubuh Nina yang tidak memakai apapun.
Fahris mengangkat tubuh Nina dan membawanya toilet lalu mendudukinya diatas colset.
Fahris tidak keluar malah menunggu Nina melepaskan hajatnya.
Aak.
Nina merintih merasakan perih saat buang air kecil. Fahris merasa bersalah melihat Nina merasakan perih dibawah sana.
Entah mengapa ia tidak bisa mengontrol keinginannya, kalau dengan yang lain ia hanya bermain satu kali karena males dengan Nina ia tidak bisa cukup satu kali.
__ADS_1
Maafin mas,sayang. Mas tidak bisa mengontrol keinginannya,ucap Fahris mengusap lembut kepala Nina.
Mengapa mas harus minta maaf?,Nina sudah halal untuk mas miliki dari ujung rambut sampai ujung kaki, ucap Nina dengan mengecup bibir Fahris.
Awalnya Fahris tidak ingin meminta lagi,karena ia sudah cukup menahan untuk tidak lagi menyakiti Nina melihat ia meringis menahan perih saat buang air kecil, membuat Fahris merasa kasihan.
Tapi karena ulah Nina mengecup bibirnya,ia menggendong Nina membawanya kekamar mandi dan meletakan tubuhnya kedalam bathtub yang berisi air hangat.
Fahris harus mandi dua kali sekaligus menghukum Nina yang sudah memancing yang sudah ia tidurkan, kembali terbangun karena kecupan yang Nina berikan.
Besok-besok, Nina tobat mandi barengan sama mas Fahris,hampir dua jam baru selesai.
Jangan lagi ngajak Nina mandi barengan. Nina marah dan kesel, setelah keluar dari kamar mandi. Jari tangan dan kakinya sudah mengisut karena kelamaan mandi.
Maaf,sini mas keringkan rambutnya ucap Fahris yang mengambil alih handuk ditangan Nina untuk mengerikan rambutnya. Mengapa ngak pakai hairdryer?,tanya Fahris.
Trauma,mas.
Nina hampir menangis melihat rambut dikepala Nina mengeluarkan asap,jelas Nina kepada Fahris.
Mas ini Nina nyeri,apa obatnya?,tanya Nina dengan polosnya membuat Fahris harus menahan tawa.
Nina menunjukkan,bagian yang membuat Fahris harus menggarukkan kepalanya yang tidak gatal. Pikiran kotornya bekerja.
Nina mau tahu obatnya,apa?,tanya Fahris berusaha nahan tawanya agar tidak keluar.
Iya,mas.
Kita harus sering-sering melakukannya,ucap Fahris yang langsung mendapatkan pelototan dari Nina.Fahris tertawa saat melihat Nina mempelototin dirinya.
Itu maunya,mas. Kalau nyerinya tidak hilang,Nina ngak bisa keluar,mas.
Sayang,kalau tidak bawa berjalan akan makin bertambah sakit,ucap Fahris.
Sekarang,Nina harus berlatih berjalan mas yang bantu.
Nina mulai berjalan, kearah Fahris secara berulang-ulang.
Walaupun masih terasa sedikit nyeri lebih mendingan dari pada tadi.
Nina laper banget,ucap Nina. Mendengar itu Fahris mengengam tangan Nina keluar dari kamar untuk sarapan bersama keluarganya,sebelum papa dan mama serta mbak Yuni beserta keluarga akan pulang sore ini.
Akhirnya keluar kamar juga,udah berapa kali?,tanya Yuni kepada keduanya.Hati-hati Nin,jangan membuat singa jantan bangun,sangat bahaya.Terkamannya bisa mematikan,ujar Yuni.
Nina yang baru saja meneguk air putih,reflek terbatuk mendengar ucapn mbak Yuni. Untung saja airnya udah masuk,kalau ngak mau taruh dimana wajahnya jika airnya muncrat.
Pancingan Yuni tepat sasaran,kalau Nina telah membuat kesalahan itu bisa terlihat dari cara jalannya yang sedikit aneh menurutnya.
Emangnya tante Nina pelihara singa,tanya Vito. Mengapa tante Nina mau pelihara hewan buas?,tanya Riska.
Hati-hati tante,pelihara hewan buas kita bisa diterkam,ujar Vito yang melirik kearah Fahris.
__ADS_1
Fahris memicingkan matanya kepada kedua keponakannya yang tidak terima kalau dirinya disamakan dengan hewan buas. Nina hanya senyum-senyum, mengingat siapa si singa jantannya.
Tidak lama handphone Fahris bergetar diatas meja, ia membukanya untuk melihat panggilan masuk.
Ini telpon dari Jeslyn,sayang.Fahris memberikan ponselnya kepada Nina.
"Halo....?".
Selamat pagi pengantin baru,sapa Jeslyn.
Ididih, Ibamnya tante udah bangun,masih pusing,sayang?,tanya Nina yang lansung jawab Jeslyn.
Sedikit tante, karena Ibam anak kuat.
Mama mau ngomong sebentar,sama tante Nina, anak mama main dulu sama babysisternya.
Hai, cantik.
Hai, bisakah menjauh sedikit dari suamimu, pinta Jeslyn yang membuat Nina sedikit bingung.
Memangnya ada apa,sih?,tanya Nina agak sedikit bingung,tetapi ia tetap menurutinya. Setelah agak menjauh dari Fahris,Nina kembali bertanya.
"Ada apa Jeslyn?",tanyaku lagi.
"Apakah saat bangun dari tidur, dirimu merasa nyeri dibagian bawah?",tanya Jeslyn.
Kok, lo bisa tahu, sih?,tanya Nina.
Ya,Tuhan.
"Mengapa dia begitu polos,batin Jeslyn biarin saja Nina sangat imut kalau polos seperti itu,jadinya ngemesin ujar Jeslyn".
Jeslyn,mengapa Lo bisa tahu?,tanya Nina lagi karena ingin tahu.
Berapa kali Fahris meminta itu sama kamu?,tanya Nina.
"Ngak tahu,jadi penyebabnya itu?",tanya Nina lagi.
Iya,otak udang, jawab Jeslyn,enak, Lo dikerjain.
Sudah, yah?,aku hanya menanyakan itu, ucap Jeslyn mengakhiri panggilan.
Ini ponselnya,ucap Nina yang menyerahkan ponselnya Fahris.
"Ada apa?".
Apakah Ibam masih sakit?,tanya Fahris yang sudah tahu pasti Jeslyn menceritakan sesuatu yang membuat Nina menekuk wajahnya.
Ahh, beginilah kalau menikahi anak usia dini,ucap Fahris yang membuat semua hanya bisa menahan senyum.
Mama membayangkannya betapa ramainya rumah dengan kehadiranmu,yang selalu membawa keceriaan. Inilah keluarga yang ia impikan penuh dengan canda dan gelak tawa,gumam mama Tarti saat melihat wajah Fahris yang ceria dan seenyum yang tak lepas dari bibirnya.
__ADS_1