
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Ustadz Azmi membelikan bakso untuk Dea. Ia tak ingin Dea keluar rumah, apalagi Dea selalu melawannya tidak mau memakai jilbab.
Malam hari, usai solat isya Dea duduk sambil mengetik sesuatu pada laptopnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Satu pesan masuk.
Kemana aja? Udah lama gak pernah mengunjungi tempatku. Jadi kangen kalian berdua, kapan-kapan datang ke klub dong! —Dion
Dea mengetik sesuatu di ponselnya.
Aku ada di rumah paman, maaf aku sudah gak di bolehin lagi ke tempat kamu. —Adea
Dea menaruh kembali ponselnya ke atas nakas. Lalu ia menatap sang suami yang masuk ke dalam kamar.
“Mas pinjam ponsel boleh?” tanya Dea.
“Boleh,” ustadz Azmi menyerahkan ponsel.
Dea mengambil ponsel ustadz Azmi, yang pertama di buka adalah whatsApp. Semua chat hanya dari sesama guru saja, lalu ia membuka galeri. Matanya membulat lebar ada banyak foto mereka berdua saat menikah. Dan ada beberapa foto dirinya, yang di foto diam-diam.
“Ternyata mas suka fotoin aku diam-diam ya,” Dea melempar ponsel ke arah ustadz Azmi.
__ADS_1
Untung saja ustadz Azmi dengan sigap menangkap ponsel yang di lempar Dea. Kalau tidak ponsel itu sudah jatuh ke lantai.
“Hahaha, lucu banget. Nggak usah lebay deh,” Dea tertawa lepas melihat gaya suaminya. Sedangkan ustadz Azmi mengelus dadanya. Ia khawatir dengan ponsel.
“Dek jangan kasar gitu sama suami, kebutuhan kita masih banyak Dek. Kalau ponselnya rusak, mas belum bisa membeli ponsel lagi.”
Dea memutar bola mata malas, lalu ia menaruh laptopnya di atas nakas.
Ustadz Azmi menghampiri Dea, dan ikut merebahkan tubuhnha di samping sang istri.
“Adek marah sama mas?” ustadz Azmi memeluk tubuh Dea dari belakan.
“Gak, kenapa harus marah.” Jawab Dea mengelus punggung tangan ustadz Azmi, yang melingkar di pinggangnya.
“Hm,” Dea berdehem.
“Adek harus menutup aurat jika di muka orang lain. Kecuali di muka mas, dan sesama perempuan.”
Dea hanya diam, ia tak berkutik. Walau berat yang pasti ia akan melakukannya di suatu saat. Karena hal yang mustahil istri seorang yang ahli agama berpakaian minim.
“Adek dengar yang baru saja mas omongin kan?” ustadz Azmi mendekatkan wajahnya ke leher Dea.
“Iya-iya, mas jangan ke gini geli.”
__ADS_1
“Adek mas ingin,” ucap ustadz Azmi di telinga Dea.
Dea mengerti maksud sang suami, dengan cepat ia membalikan badannya menghadap suaminya.
“Aku lagi malas, nanti jika aku ingin baru itu kita melakukannya.” Tolak Dea.
Ustadz Azmi menarik napas dan membuangnya perlahan. Ia menatap wajah sang istri dengan jarak yang sangat dekat.
“Dosa menolak suami,” ucap ustadz Azmi.
Dea berdecak, “Cih, mas mengancam aku?”
Ustadz Azmi menggeleng cepat. “Gak, yang mas katakan itu benar. Dosa jika seorang istri menolak suami.”
Helaan napas Dea terdengar, bahkan napasnya menerpa kulit wajah ustadz Azmi. Dua malam berturut-turut ia yang selalu meminta pada ustadz Azmi. Dan ustadz Azmi pun memenuhi keinginannya. Tapi sekarang ia menolak keinginan ustadz Azmi.
“Sebentar aku mau minum air dulu,” Dea turun dari ranjang.
“Iya, mas tunggu di kamar aja ya.”
Dea mengangguk, dan terus melangkah menuju dapur.
Tak beberapa lama kemudian, Dea kembali ke kamar. Lalu ia naik ke atas ranjang. Hingga terjadilah hal yang wajar di lakukan, layaknya suami istri.
__ADS_1