
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Kini genap dua bulan, pernikahan Dea dan ustadz Azmi. Dea juga sudah mulai berubah, walau sesekali ia bersikap kasar pada suaminya.
Dea sudah mulai terbiasa menggunakan jilbab. Dan ustadz Azmi dengan teladan mengajarinya mengaji.
Selain ustadz Azmi yang membimbing Dea. Yuli sang adik dari suaminya selalu mengajarkan Dea. Begitu pun dengan umma Sila, hampir setiap hari beliau menasehati Dea.
Paman dan bibinya sangat bersyukur, akhirnya Dea mendapat suami yang begitu baik. Dan juga penyabar, keluarganya pun sangat menyayangi Dea.
Hari ini, hari libur ustadz Azmi membantu Dea membersihkan rumah. Setelah pekerjaan rumah usai, ustadz Azmi menghampiri Dea yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
“Dek, apa Adek bulan ini sudah ada tamu bulanan?” tanya ustadz Azmi.
Dea mengangkat satu alisnya, ia heran. Tiba-tiba saja suaminya menanyakan hal itu. Sejak kapan ia peduli mengenai hal itu?
“Udah, kemarin aku udah mandi wajib. Kenapa emang?” Dea menaik turunkan alisnya, menatap ustadz Azmi.
“Gak apa-apa, mas ke kamar dulu.” Pamit ustadz Azmi.
__ADS_1
Dea mengangguk, ia memperhatikan suaminya berjalan menuju kamar.
“Ada apa denganya?” gumam Dea heran.
Ustadz Azmi masuk ke dalam kamar, ia menghampiri lemari. Lalu ia membuka lemari itu, mengangkat satu persatu baju.
“Dimana Adek menaruh seragam untuk besok?” guman ustadz Azmi.
Ustadz Azmi mengambil seragam, untuk di setrika. Namun, sebelum ia menutup lemari ada sesuatu yang jatuh dari lemari tersebut.
Ustadz Azmi melihat ke arah bawah, ia langsung terkejut. Ternyata yang jatuh tadi, adalah pil kb.
Ustadz Azmi mengambil pil kb yang terletak di lantai. Ia benar-benar kecewa, ternyata selama ini Dea mengonsumsi pil kb. Pedahal ia sangat berharap Dea mengandung.
“Kenapa mas?” tanya Dea, yang melihat ustadz Azmi berdiri di depannya.
“Kenapa Adek melakukan ini sama mas? Mas benar-benar kecewe dengan semua ini, ” ucap ustadz Azmi, ia meletakan pil kb itu di atas meja. Tepat di hadapan Dea.
Dea terkejut, dengan apa yang ia lihat. Lalu ia berbalik menatap ustadz Azmi.
“Mas maafin aku, aku gak mau hamil.” Dea meremas jari-jarinya, ia takut ustadz Azmi akan marah dan malah menamparnya.
__ADS_1
Mata ustadz Azmi sudah memerah, tapi dengan sekuat tenaga ia menahannya. Agar air mata tak jatuh di hadapan sang istri, bukan ia lemah. Hanya saja ia benar-benar kecewa. Apalagi mendengar alasan Dea, kalau sebenarnya Dea tak ingin hamil.
“Dek mas tau, mas sama sekali tak berarti bagi Adek. Hingga Adek tak mau mengandung anak dari mas. Mas bisa menerima ini Dek, tapi tidak dengan umma dan Abah.” Ucap ustadz Azmi lembut tanpa menatap wajah Dea.
Dea terdiam, ia berpikir suaminya akan marah besar. Seperti yang pernah ia baca di novel. Tapi ini sangat berbeda, ustadz Azmi sama sekali tak marah. Masih bersuara lembut, walau raut wajah penuh dengan kekecewaan.
"Mas, maafkan aku." Ucap Dea lirih.
Ustadz Azmi menghampiri Dea, lalu ia mencubit kedua pipi Dea hingga memerah.
“Mas sakit tau,” Dea menepis tangan ustadz Azmi.
“Maaf ya, mas mau siap-siap dulu.” Ustadz Azmi beranjak dari duduknya.
“Mas mau kemana?”
“Mas mau nginap di pesantren, soanya ada banyak murid yang perlu di perbaiki cara membaca mereka.”
“Terus aku gimana?”
“Adek tidur di temani sama Yuli aja, nanti mas bilangin ke Yuli.”
__ADS_1
Dea hanya mengangguk.