
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Umma Sila dan Abah Rahman menghampiri ranjang tempat Dea berbaring, dengan perasaan haru. Dari awal mereka sudah tau, Dea tidak mau hamil karena takut melahirkan. Dan sekarang Dea hamil, ia sudah memberanikan dari.
"Terima kasih banyak Nak," ucap Abah Rahman. Dea hanya menganggukkan kepala di iringi dengan senyum tulus yang terukir di wajahnya.
"Adea, terima kasih Nak. Umma sangat bersyukur kamu hamil," ucap Umma Sila seraya mengelus puncak kepala Dea. "Kamu tak perlu takut Nak, ada Azmi yang akan selalu menemanimu." Lanjut Umma Sila.
"Iya Umma, Dea sudah gak takut kok. Mas Azmi selalu meyakinkan Dea, jadi Umma tidak perlu khawatir." Balas Dea tersenyum kaku, jujur saja ia masih takut. Tapi ia tak mau Umma Sila menjadi kepikiran hal ini.
"Umma dan Abah tenang saja, Adek sudah yakin kok." Ustadz Azmi menatap wajah Umma dan Abahnya, meyakinkan kedua orangtuanya yang begitu khawatir dengan ketakutan Dea.
"Aku ingin pulang mas," Dea menarik lengan baju yang di kenakan ustadz Azmi.
"Iya-iya Dek," ustadz Azmi menahan tangan Dea, untuk menghentikan tangan istrinya menarik lengan baju yang sudah mulai terlihat kusut.
__ADS_1
Umma Sila dan Abah Rahman tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala.
▪︎▪︎▪︎
Pulang dari pesantren Yuli segera menemui Dea. Umma Sila memberitahunya bahwa Dea sudah hamil. Hal itu membuat Yuli sangat senang, ia mengucapkan syukur terhadap sang pencipta. Sudah memberikan kebahagian pada keluarganya, apalagi sang kakak yang selalu mendambakan keluarga kecil yang lengkap.
"Adea, terima kasih banyak. Kau membuat keluarga bahagia, terutama kakak. Aku juga sangat bersyukur bisa punya keponakan yang lucu di suatu saat nanti." Yuli mengelus perut Dea yang masih datar. Lalu ia menaruh kepalanya di paha Dea dengan sedikit manja.
"Isya'allah," balas ustadz Azmi tersenyum lebar. Sedangkan Dea menahan tawanya, ini pertama kali baginya melihat Yuli bermanja. Sebelum-sebelumnya, Yuli terlihat dewasa. Walau umurnya setara dengan Dea. Tapi kali ini ia bermanja pada Dea yang merupakan kakak iparnya.
"Tumben bermanja, biasanya juga selalu bersifat dewasa." Dea mengelus lembut kepala Yuli yang ada di pahanya.
"Yaelah aku gak mau di panggil mama muda," tolak Dea cemberut.
"Haha, kan emang benar." Yuli terkekeh geli, melihat wajah Dea yang menurutnya lucu sekaligus menggemaskan.
"Ihh, kamu tuh yah buat aku kesal saja." Gerutu Dea kesal.
__ADS_1
"Yuli, sana bantuin Umma siram tanaman di samping." Pinta ustadz Azmi, yang tak mau melihat istrinya kesal karena keusilan Yuli. Yuli memang usil terhadap kakak iparnya, tapi sifat usilnya jarang terlihat.
Yuli mengangguk, "Iya kak." lalu melangkah pergi.
"Dek? Mau makan apa? biar mas yang masak," ustadz Azmi beranjak dari duduknya. "Tapi jangan makan bakso ya sayang, soanya warung di depan tutup." Lanjut ustadz Azmi.
Dea wajah menatap ustadz Azmi, tiba-tiba ia ingin mengerjai suaminya. "Tapi aku ingin bakso," ucap Dea, sebenarnya ia tak ingin makan bakso.
"Adek di temani sama Yuli dulu di rumah ya, mas akan membeli di desa seberang." Tutur ustadz Azmi dengan nada yang begitu lembut. Suaranya yang biasa terdengar lembut, tapi kali ini lebih lembut lagi.
"Ok, makasih." Dea berdiri dari duduknya, dan langsung berhambur kepelukan sang suami.
"Iya, sama-sama sayang. Adek duduk saja mas akan menyuruh Yuli menemani Adek."
Dea mengangguk, lalu ia melepaskan pelukannya. Ustadz Azmi meraih kunci motor di atas meja.
"Mas pergi dulu ya," ucap ustadz Azmi seraya mengecup sekilas pipi istrinya. "Assalam'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikum salam," balas Dea.