
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Malam hari Yuli menemani Dea di rumah. Ia menatap wajah Dea. Tak biasanya ustadz Azmi meninggalkan Dea di rumah, meski pun banyak para ustadz mengajaknya menginap di asrama selalu di tolak. Dengan alasan istrinya sendiri di rumah.
“Adea?” panggil Yuli.
“Tumben manggil Adea, kesambet apa kamu?” tanya Dea menahan tawanya. Karena Yuli terlihat kaku memanggilnya Adea.
“Gak, hanya suka aja.” jawab Yuli.
Dea mengangguk, “oh!”
“Apa kamu sama kak Azmi ada masalah?”
Dea terdiam, ia tak mungkin mengatakan perihal itu. Ia takut jika Yuli akan mengetahui hal itu, pasti ia akan memberitahu pada umma dan abah.
“Dea, kok kamu diam?” Yuli membuyarkan lamunan Dea.
“Gak ada apa-apa kok,” ucap Dea gugup.
__ADS_1
Yuli semakin curiga, ia tau pasti ada sesutu yang di sembunyikan Dea. Apalagi melihat wajah Dea yang begitu gugup, saat menjawab pertanyaannya.
“Dea, gak biasanya kak Azmi menginap di asrama. Memang betul ia pernah menginap, tapi itu sebelum kalian berdua menikah. Dan aku tau jelas kak Azmi tidak mau meninggalkan kamu di rumah.”
“Aku ngantuk mau tidur,” Dea beranjak dari duduknya menuju kamar.
“Tuh kan, mereka pasti lagi bertengkar.” guman Yuli, menyusul Dea ke kamar.
Dea memenjamkan mata, ketika melihat Yuli masuk ke dalam kamar. Dea pura-pura tidur saat Yuli memanggil namanya.
“Cepat banget ia tidur, pasti capek.” Ucap Yuli, ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, Dea belum juga ngantuk. Tak biasanya ia seperti ini, ia melihat Yuli yang tertidur dengan lelap.
Dea menghembuskan napas kasar. Ia merasa ada yang berbeda ketika tempat tidur ustadz Azmi di gantikan Yuli.
Dea kembali memenjamkan matanya, berharap rasa kantuk akan menghampirinya. Ia merindukan sang suami yang selalu memberinya ke hangatan. Tapi Dea selalu menepis rasa rindunya.
Di sisi lain, ustadz Azmi menunaikan solat tahajut. Setelah solat ia kembali ke asrama. Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggil namanya.
“Ustadz Azmi?”
__ADS_1
Ustadz Azmi membalikan badan, ia melihat dua anak perempuan yang memegang mukenah.
Ustadz Azmi tersenyum, “Mau solat tahajut?”
“Iya, ustadz.” Jawab ke duanya.
“Kalian solat saja, saya mau balik ke asrama.”
“Loh tumben ustadz menginap di asrama. Bukannya ustadz khawatir ninggalin istri ustadz sendiri?” tanya seorang perempuan, sambil menatap ustadz Azmi.
Dengan cepat ustadz Azmi membuang pandangannya. Ia tak menatap perempuan itu.
“Ada Yuli yang menemaninya, saya permisi. Assalamu'alaikum.”
“Walaikum'salam,” balas dua perempuan tersebut.
Dua perempuan tersebut adalah muridnya, yang selalu mencari perhatian pada ustadz Azmi. Tapi ustadz Azmi tak menghiraukan mereka, ia selalu menghindari.
Tiba di asrama ustadz Azmi merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia memikirkan istrinya.
Ustadz Azmi memilih menginap di asrama, bukan menghindar dari masalah. Tapi ia akan menenangkan hati dan pikirannya, ucapan Dea yang tak ingin hamil selalu berputar di kepalanya. Jika ia tetap di rumah tentu saja akan semakin sakit hati, ia hanya manusia biasa. Yang tentunya bisa merasakan sakit hati, dan kecewa yang teramat sangat.
__ADS_1
Sebenarnya ia juga tak rela meninggalkan Dea. Tapi ia berpikir ini yang terbaik untuk dirinya dan juga Dea. Ia memberi Dea waktu, untuk berpikir. Ia pun juga butuh waktu, untuk menenangkan diri.