
••
Yuli yang mendengar hal itu terdiam sejenak, toh logikanya juga demikian, abi itu panggilan buat ayah (bapak) bukan tuk suami. Akan tetapi secara garis besar panggilan abi untuk suami wajar, contoh buat anak juga.
"Bilang aja kamu yang panggilannya abi, umi!" Dea menatap Yuli penuh selidik.
"Gak kok!"
"Hayo ngaku..."
"Gapapa itu mah, wajar-wajar saja penting sudah halal." Timpal ustadz Azmi.
"Ada juga yang belum nikah udah umi abi." Dea memutar bola mata malas, ntah mengapa moodnya tiba-tiba berubah.
"Umbi-umbian kali itu, bee." Ustadz Azmi menatap wajah Dea dengan tatapan meledek, tapi terpancar jelas ketulasan dari sorot mata itu.
"Makan aja sekalian." Dea melototi sang suami, seakan menyuruhnya diam.
Hal itu malah membuat ustadz Azmi terkekeh geli, bagaimana tidak dengan tampang sok galak Dea melototi ustadz Azmi. Pedahal wajahnya tidak bisa berbohong, sudah merah merona karena tatapan mematikan itu.
Dasar tatapan maut! Batin Dea sembari meremas jari-jarinya.
__ADS_1
Sederhana, namum bahagia. Dan sangat berarti!
Yuli melihat adegan itu langsung paham, ia berpamitan ke kamar melihat anak kakaknya. Jarang sekali ia melihat keduanya bisa saling lempar pesona satu sama lain. Sebenarnya bukan jarang, tapi pertama kalinya. Yang biasa di lihat itu hanya kekonyolan. Dea yang suka melawan jika di bilangin, dan ustadz Azmi penurut. Selalu mengikuti mau sang istri.
"Bee!" panggil Dea tanpa menatap wajah ustadz Azmi.
"Ya, sayang?"
Apa sayang? Rasanya Dea ingin jungkil balik, saking senangnya. Siapa yang gak senang, sejak mereka menikah baru kali ini ia di panggil sayang. Tanpa di suruh lagi, udah di panggil sayang dengan sendirinya.
"Nah gitu dong, aku kan juga pingin romantis kayak orang-orang!" gumam Dea pelan.
"Mau mimum apa? Nanti di buatin." Dea membalik pertanyaan. Maksudnya mau lagi di panggil sayang!
"Gak usah sayang, aku minum air putih saja." Ustadz Azmi seakan mengerti apa yang ada di dalam hati Dea. Lalu ia menggenggam tangan Dea. Memintanya agar tidak beranjak dari tempat duduk.
"Huum...." Dea mengangkat tangannya bersamaan dengan ustadz Azmi untuk menutupi wajahnya. Karena posisinya saat ini ustadz Azmi sedang menggenggam tangannya.
"Kenapa?" Ustadz Azmi mengelus lembut pipi Dea yang terlihat merah merona.
Bisa bet dah bikin aku melayan, apa ini pembalasan aku sering menggoda dia.
__ADS_1
Bahagia? jelas, senang? iya! tapi juga ada rasa malu. Entah kenapa Dea malu, pedahal hal itu yang sangat ia butuhkan. Romantis bersama pasangan halal.
"Bee, aku mau nanya boleh?" tanya Dea basa basi, mayan buat nutupin rasa malunya.
"Boleh, tanya aja bee."
"Dulu kamu melamar aku tiba-tiba emang belum ada rasa cinta kan?" Mode bucin Dea sudah tumbuh, ia pingin memastikan rasa cinta suaminya. Setidaknya jangan ia sendri yang sudah masuk ke zona bucin persi halal. Karena berumah tangga banyak cobaan, mau sebucin apapun kita tetap saja ada cobaan.
"Awalnya emang belum ada bee, tapi setelah menikah rasa itu sedikit demi sedikit mulai tumbuh. Hingga berkembang menjadi besar seperti sekarang."
"Gak cinta kenapa kamu, mau menikah?" Dea membuang napas seraya memutar bola matanya.
"Aku menikah karna mengikuti sunnah nabi, dan juga menikah itu sebagian dari ibadah. Tak perlu cinta di awal, karena cinta bisa tumbuh setelah kita menjadi pasangan halal. Dan isya'allah cinta yang tumbuh setelah pernikahan akan abadi, itulah yang namanya pacaran setelah menikah." Terang ustadz Azmi panjang lebar.
"Tapi kamu gak pernah cinta sama perempuan lain, selain aku kan bee?" Seketika raut wajah Dea berubah jadi kurang senang. Dia mau jadi perempuan pertama dan terakhir menempati hati ustadz Azmi.
"Pernah! Sekarang pun masih cinta."
••
Mau up dua part tapi gak jadi. Tungguin aja ya reader's. Soalnya 'ana pake hp ngetik, abis ngetik harus di cek dulu detailnya. Ada typo apa gak. Tapi masih saja ada typonya. Walau udah berulang kali di cek! Yah, begitulah manusia pasti tak pernah lubuk dari namanya salah.
__ADS_1