
Yuli menatap hasil benda yang ada di tangannya, hasilnya nampak jelas yaitu positif. Bagaimana cara memberitahu kedua orangtua dan suaminya? Di tengah-tengah kebingungannya Dea datang, dan langsung heboh dengan ucapan syukur. Sehingga yang lain menghampiri mereka.
Detik berikutnya semua penghuni rumah, sudah tau kalau Yuli positif hamil. Ucapan syukur tak lupa mereka panjatkan pada sang pencipta.
"Ya'allah tuh kan apa aku bilang, kamu terlalu malu tau." Ucap Dea sembari menggandeng tangan ustadz Azmi.
"Siapa yang malu?" tanya Yuli dengan wajah yang bersemu merah, pasalnya saat Dea menyuruhnya mengecek ia merasa malu sendiri.
"Kaulah, emang siapa lagi."
"Ayo ke rumah Dek, ini masih pagi lo." Ajak ustadz Azmi membawa Dea keluar kamar tersebut.
▪︎▪︎▪︎
Sore harinya Dea mengajak ustadz Azmi bersantai di depan rumah. Di sana juga ada Yuli dan Andre, yang sedang duduk sembari berbincang-bincang.
Dea dan ustadz Azmi ikut bergabung, tujuan utama Dea meminta izin pada ustadz Azmi. Begitu pun dengan Yuli, mereka berdua sudah sepakat meminta izin bersamaan.
"Bagini mas, bang Andre, kami berdua ingin meminta izin." Dea mengutarakan maksudnya.
"Minta izin kemana?" tanya ustadz Azmi dan Andre serempak.
"Mau berliburan," timpal Yuli yang akhirnya buka suara.
"Enggak bisa Dek, liburan nanti saja ya." Ustadz Azmi menatap Dea sembari menggeleng.
"Tapi—"
__ADS_1
"Itu benar Adea, kalian berdua belum boleh berliburan." Potong Andre.
"Kami berdua pergi sama kak Aleyna." Yuli menatap Dea.
"Sama saja Yuli, kalian berdua belum boleh berliburan dulu." Andre menarik napas, lalu menghempaskan perlahan.
"Yaudah kalau gitu aku duluan," Dea bangkit dari duduknya.
"Sana kejar Adea, merajuk dia." Andre menyenggol lengan ustadz Azmi. Ustadz Azmi tersenyum sejenak, sebelum memutuskan menyusul Dea masuk ke dalam rumah.
"Dek ..."
"Apa?" Dea mempokuskan pandangannya ke arah tv, tanpa melihat wajah ustadz Azmi.
"Liburan nanti saja ya," ustadz Azmi mendudukan tubuhnya di dekat Dea.
"Enggak bisa Dek, harus ingat Adek sedang mengandung."
Dea mengangguk paham, "Iya maaf."
"Gak apa-apa Dek, ayo ikut mas ke pesantren Yuli juga pasti ikut."
"Aku mau siap siap dulu."
"Iya Dek."
▪︎▪︎▪︎
__ADS_1
Ponsel Dea bergetar, ia melirik sejenak ponsel yang ada di atas nakas. Tertera nama Aleyna, kemudian Dea melirik ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 00:00, Dea mengeringitkan alisnya heran. Ada apa Aleyna menelponnya tengah malam, bukannya tadi di pesantren mereka duduk bersama?
Tak ingin berlama-lama, Dea menggeser ikon hijau pada layar ponsel.
"Assamu'alaikum Dea, maaf mengganggu tidurmu." Ucap Aleyna.
"Wa'alaikumsalam, gak apa-apa kak." Jawab Dea, "tumben hubungin aku tengah malam," lanjutnya.
"Kakak hanya ingin membangunkanmu untuk sholat tahajud saja. Jangan lupa ajak suamimu."
"Terima kasih banyak kak Aleyna."
"Iya sama-sama, kakak tutup telponnya ya, Assamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."Dea menaruh ponselnya sembari menyalakan lampu.
"Siapa yang nelpon Dek?" tanya ustadz Azmi turun dari ranjang.
"Kak Aleyna. Baru aja aku mau bangunin mas, ternyata dah bangun." Jawab Dea.
"Kebangun sama Dek bicara di telpon."
"Oh ..."
▪︎▪︎▪︎
“Ròbbanaa Aatinaa Fid Dunyaa Hasanah, Wa Fil Aakhiròti Hasanah, Wa Qinaa 'Adzaaban Naar”. Artinya : “Ya Rabb kami, limpahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka”.
__ADS_1