Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Ikut sakit hati


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


▪︎▪︎▪︎


"Nanti saja," balas ustadz Azmi tersenyum.


Mereka bertiga berbincang-bincang sejenak, sebelum Dea memutuskan masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah, ustadz Azmi segera menghampiri mobil tersebut.


Ia tau mobil itu milik Andre, sang donatur di pesantren. Ia mempersilahkan masuk ke dalam, Umma Sila dan Abah Rahman menyambut kedatangan tamu dengan sangat ramah.


Dea yang mendengar suara seseorang yang menurutnya asing, segera menghampiri rumah Umma Sila. Tiba di ruang tamu, ia dibuat terkejut dengan siapa yang datang. Yang membuatnya terkejut, yaitu Andre datang bersama seorang wanita yang berpakaian minim.


"Sini Dek," ustadz Azmi menepuk sofa di sampingnya. Dea mengangguk, ia mendekat dan mendudukan tubuhnya di dekat sang suami.


"Bapak, ibu, dan ustadz Azmi. Perkenalkan ini Ranty istri saya," Andre tersenyum memperkenalkan istrinya pada keluarga ustadz Azmi.


"Ranty!" serunya tersenyum menatap satu persatu wajah semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Kemudian, tatapannya terhenti pada Yuli.


Andre mengajak kedua orangtua Yuli berbagi cerita, sebelum ia mengutarakan maksud kedatangannya.


"Mas kayaknya dia punya maksud lain," bisik Dea pelan di telinga ustadz Azmi. Tapi masih dapat di tangkap oleh panca indra Yuli.


"Sudah, diam dulu ya Dek." Ustadz Azmi menatap sekilas wajah Dea, lalu kembali menatap Andre.


"Maksud kedatang saya kemari, yaitu ingin melamar putri bapak dan ibu." Tutur Andika tanpa rasa ragu sedikit pun. Bahkan senyum di wajahnya terukir dengan begitu indah.


Sedangkan Umma, Abah, dan yang lain kaget. Terutama Yuli, ia berpikir pria itu sudah gila. Punya istri malah melamar perempuan lain.


"Nak Andre, kamu sudah punya istri. Dan putri saya masih muda," ucap Abah Rahman lembut. Ia menolak lembut lamaran Andre.


"Tidak apa-apa pak, istri saya mengizinkan saya untuk menikah lagi." Bantah Andre.

__ADS_1


"Begini Nak, Yuli masih 19 tahun. Dia belum bisa mempimpin rumah tangga, maka dari itu kami belum bisa melepaskan putri kami." Tutur Umma Sila.


"Apa bapak dan ibu menolak lamaran saya?" tanya Andre dengan kening berkerut.


"Bukan seperti itu Nak, hanya saja kami tak ingin putri kami sakit hati." Abah Rahman menarik Yuli, menuntunnya duduk di dekatnya dan Umma Sila.


"Saya berjanji akan membahagiakan, Yuli. Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir," Andre menatap Yuli dengan wajah yang memerah. Jujur saja, ia merona saat Yuli melihat ke arahnya. Padahal Yuli hanya menatap istrinya, Ranty yang dari tadi hanya diam.


"Sebelumnya apa alasan pak Andre memutuskan untuk menikah lagi?" tanya ustadz Azmi setelah sekian lama hanya menyimak pembicaan mereka.


"Istri saya tidak bisa memberi saya keturunan, maka dari itu sama meminta izin untuk menikah lagi." Jawab Andre.


Hal tersebut memuat hati Yuli merasa sedih, sekaligus sakit. Ia hanya menunggu orang yang tepat saja. Tapi kini orang yang melamarnya sudah punya istri.


Sedangkan Dea menatap Andre dengan tatapan yang begitu mengerikan. Bahkan tanpa sadar ia meremas kuat lengan ustadz Azmi.


"Dek?" panggil ustadz Azmi meringgis sembari memegang tangan Dea.


"Baiklah kalau begitu Nak, semua kami serahkan saja pada putri kami." tutur Abah Rahman mengerti dengan maksud Andre.


"Tapi Yuli tak mau menjadi madu Mbak Ranty." Yuli memberanikan diri menolak lamaran Andre.


"Tidak apa-apa, aku akan menerimamu dengan senang hati." Ranty menatap Yuli lekat, seakan ada maksud tersendiri dari tatapannya.


"Maaf mbak, Yuli tidak bisa menerima suami yang berpoligami." Yuli menghembuskan napas berat setelah mengatakan hal itu.


"Pologami halal dalam islam, jadi tidak ada yang perlu di takutkan. Bukan begitu Pak?" Andre berbalik menatap Abah Rahman.


Abah Rahman mengangguk. "Tidak masalah, yang penting Nak Andre memperlakukan keduanya dengan adil."


Perbincang di antara mereka terus berlanjut. Andre selalu meyakinkan Yuli, agar mau menikah dengannya. Sedangkan Abah dan Umma sudah memasrahkan semua pada Yuli.

__ADS_1


Yuli masih bingung menerima lamaran Andre, tapi Andre tetap bersikeras. Yuli memutuskan meminta petunjuk dari sang pencipta. Karena hanya padanya kita memohon petunjuk. Namun, Andre meminta jawaban Yuli saat itu juga.


Hal itu membuat darah Dea mendidih, ia perempuan tentu saja ia bisa merasa apa yang di rasakan Yuli. Hingga akhirnya ia angkat bicara.


"Tolong anda jangan memaksanya, Yuli perempuan yang baik sudah tentu akan mendapat laki-laki yang baik pula. Dan bukan suami orang lain," tutur Dea menahan emosi.


"Dek?" ustadz Azmi menggenggam tangan istrinya, ia takut emosi Dea akan berdampak pada bayi mereka.


"Yang aku bilang betul, dia sudah punya istri. Bukan mas yang bilang, tidak ada perempuan yang mau di madu?" Dea menatap kesal wajah suaminya.


"Jangan kegini Dek," ustadz Azmi beranjak dari duduknya seraya memegang lembut pinggang Dea. "Azmi permisi mau nenangin Adek dulu."


Umma dan Abah mengangguk mengerti.


▪︎▪︎▪︎


"Ihh ...mas," Dea menepis kedua tangan ustadz Azmi yang mencubit pipinya.


"Jangan emosi Dek, mas takut akan berdampak pada anak kita." Ustadz Azmi kembali mencubit pipi sang istri.


"Mas ..." teriak Dea kesal.


"Maaf ya, abis Adek gemas banget saat memarahi pak Andre." Tutur ustadz Azmi yang kini tangan berpindah ke hidung Dea. Ia menarik lembut hidung sang istri.


"Mas pokonya aku gak mau dia menikahi Yuli," Dea menahan tangan ustadz Azmi, lalu ia berhambur memeluk tubuh suaminya.


"Iya, Dek tenang saja." Ustadz Azmi membalas pelukan Dea, ia tau istrinya ikut merasa sakit hati dengan tindakan Andre.


▪︎▪︎▪︎


Semoga kita semua di berikan kesehatan dan ketabahan ya. Agar para pembaca terus mendukung karya 'ana, dan 'ana bisa up setiap ada waktu luang.

__ADS_1


__ADS_2