
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
"Aku lapar mas," Dea mengentikan aksi nakalnya ketika perutnya meronta meminta makan.
"Ayo kita makan," ustadz Azmi beranjak dari duduknya seraya memegang tangan Dea. Walau hawa nafsunya sudah terpancing, ia masih bersikap biasa saja. Mengingat Dea sedang hamil, membuatnya takut menyentuh Dea.
Dea melingkarkan tangannya di perut ustadz Azmi, kini pikirannya kembali melayan pada perempuan yang memanggil ustadz Azmi, Gus.
"Kenapa Dek?" tanya ustadz Azmi, tadinya Dea meminta makan tapi kenapa malah memeluk tubuhnya erat?
"Aku takut mas akan meninggalkan aku saat hamil. Karena perempuan tadi jauh lebih dewasa dari pada aku." Jawab Dea tanpa menatap wajah suaminya. Ia menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.
"Astagfirullah Dek, Adek harus percaya sama mas. Mas gak akan meninggalkanmu Dek, mas menikah selain adanya rasa cinta terhadap Adek juga sebagai ibadah kepada Allah. Jadi mas gak mungkin ninggalin Adek," tutur ustadz Azmi sembari melonggarkan pelukan Dea, agar Dea menatap matanya. Namun, Dea semakin mengeratkan pelukannya.
Ustadz hanya diam, semakin lama Dea memeluknya semakin erat pula pelukannya. Ia memilih untuk diam, karena pada dasarnya Dea bukan tipe perempuan yang suka dengan omongan pasangannya. Apalagi menyangkut perempuan lain.
Maka dari itu, ustadz Azmi membiarkan istrinya memeluknya. Ia hanya mengelus kepala Dea yang masih tertutup dengan jilbab berwarna biru langit. Namun, ia merasa baju yang di bagian dadanya sudah basah. Badan Dea pun bergetar, pertanda bahwa Dea sedang menangis tanpa suara.
"Dek?" panggil ustadz Azmi. "Maafkan mas sayang, mas tidak bermaksud membuat Adek menangis." Ia merasa bersalah saat melihat tangisan Dea.
Dea menggeleng, lalu ia memberanikan diri menatap wajah ustadz Azmi. Dan saat itu juga ustadz Azmi merasa sesak saat melihat wajah Dea yang di penuhi air mata.
"Maaf baju mas jadi basah karena aku." Dea menatap ke bagian dada ustadz Azmi yang basah dengan air matanya.
"Gak apa-apa Dek, sudah jangan nangis lagi ya." Ustadz Azmi mengusap air mata Dea dengan tangannya.
Yuli yang berdiri di depan pintu kaget saat melihat Dea menangis. Karena Dea pandai menyimpan kesedihan, ia hanya bisa mencurahkan semua pada Ulma. Tapi kali ini Yuli melihat jelas Dea menangis di hadapan ustadz Azmi.
__ADS_1
"Astagfirullah, Adea kenapa?" tanya Yuli menghampiri ustadz Azmi dan Dea, ia sempat mengucapkan salam. Tapi mereka tak mendengarnya.
"Gak apa-apa kok," jawab Dea tersenyum lebar ke arah Yuli.
Yuli mengangguk mengerti, ia juga tidak ingin ikut campur urusan pribadi kakaknya. "Aku bawain ayam goreng, bukan aku yang buat, tapi Umma." Tunjuk Yuli pada piring yang berisi ayah goreng di tangannya.
"Terima kasih banyak," Dea meraih piring yang berisi ayam goreng.
"Ayo makan bareng," ajak ustadz Azmi pada Yuli.
Yuli menggeleng. "Gak usah kak, Umma hanya makan sendiri di rumah." Tolak Yuli melangkah pergi.
▪︎▪︎▪︎
Setelah makan siang, ustadz Azmi dan Dea menunaikan ibadah sholat zuhur berjama'ah di mesjid. Selepas sholat, Yuli mengajak Dea membersihkan mesjid. Karena beberapa hari lagi mereka akan merayakan maulud nabi muhammad saw.
Mesjid memang sudah bersih sebelumnya. Namun, tetap saja harus di bersihkan terlebih dulu sebelum penyambutan maulud nabi.
Ustadz Azmi yang melihat Dea sedang menggeser pembatas antara perempuan dan laki-laki menjadi panik. Ia berlari menghampiri Dea, kebetulan ia juga sedang membersihkan mesjid. Tapi ia membersihkan di bagian halaman, jadi ia tak melihat kalau istrinya turut serta membersihkan mesjid.
"Sini Dek biar mas saja," pinta ustadz Azmi.
"Kebetulan ada mas," Dea melangkah mundur memberi tempat untuk ustadz Azmi memindahkan pembatas itu.
"Jangan capek-capek Dek, biar mas sama yang lain aja yang bersihin ya." Tutur ustadz Azmi setelah selesai menggesek pembatas tersebut.
"Gak apa-apa mas, lagian mas juga masih di sini kan."
"Daudah kalau gitu Adek lanjut saja. Tapi ingat jangan kayak tadi lagi," ustadz Azmi menghembuskan napas pasrah.
__ADS_1
Dea mengangguk sembari tersenyum.
▪︎▪︎▪︎
Dea dan Yuli pulang ke rumah setelah semua pekerjaan selesai. Dea masuk ke dalam rumah langsung membersihkan tubuhnya, setelah selesai Dea meraih baju yang sudah di siapkan ustadz Azmi di atas ranjang.
"Dek? apa sudah selesai?" tanya ustadz Azmi dari balik pintu kamar.
"Masuk aja mas," jawab Dea membenarkan pakaian di tubuhnya.
"Tadi Ulma menelpon, tapi Adek masih di mesjid." Ustadz Azmi mendekati Dea dengan segelas susu di tangannya. Lalu menyerahkan susu tersebut pada Dea.
"Dia bilang apa mas?" Dea meraih susu dari tangan ustadz Azmi seraya mendudukan tubuhnya di ranjang.
"Mau bicara hal yang penting sama Adek, katanya."
Dea menyerahkan kembali gelas susu yang isinya masih setengah pada ustadz Azmi. Ia meraih ponsel di atas nakas, ia tau Ulma tidak memberitahu siapa pun masalah pribadinya kecuali dirinya.
Tut ... tu ... tut ...
"..."
"Ulma? kau kenapa menangis?" tanya Dea khawatir.
"..."
"Apa?" Dea kaget, tanpa sadar hand phone yang ada di genggamannya jatuh. Dan di saat itulah air mata Dea sudah meluncur semakin deras membasahi pipinya.
"Kenapa Dek?" tanya ustadz Azmi panik, ia tak mendengar obrolan Dea dan Ulma, hingga sambungan telpon terputus.
__ADS_1