
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
"Dek, jangan kegini sayang. Ayo cerita ada apa sebenarnya." Ustadz Azmi di buatnya semakin panik, saat melihat Dea hanya diam dengan air mata yang mengalir deras.
"Dek?" panggil ustadz Azmi lagi dan lagi.
"Mas," Dea berhambur memeluk tubuh ustadz Azmi. Tangisannya sudah mulai rela saat pelukan hangat ustadz Azmi ia rasakan.
"Ayo cerita Dek, jangan di pendam sendiri. Mas ini suami Adek," Ustadz Azmi meraih ikat rambut di atas nakas. Dengan teladan ia mengikat rambut Dea yang terlihat berantakan. Bahkan sebagian rambutnya menutupi wajahnya.
"Tante Mira sudah meninggal mas," Dea terisak semakin kencang.
Innalillahi wa innalillahi rojiun.
"Tante Mira siapa Dek?" tanya ustadz Azmi di ikuti kerutan kening yang terlihat jelas.
"Mamanya Ulma," jawab Dea dengan nada bergetar. "Ayo kita pergi ke kota mas, tante Mira akan di makamkan dini hari juga." Lanjut Dea.
Ustadz Azmi melirik jam dinding di atas nakas, waktu sudah memasuki sholat asar. "Kita sholat dulu Dek, setelah itu kita berangkat."
__ADS_1
Dea hanya mengangguk, tangisannya sudah tak terdengar lagi. Walau air mata masih bercucuran membasahi pipinya.
▪︎▪︎▪︎
Selesai menunaikan sholat Asar, ustadz Azmi dan Dea sudah siap berangkat. Yuli pun ikut bersama mereka, tapi tidak dengan Umma Sila dan Abah Rahman. Mereka tidak bisa ikut, karena sudah tak muat di kendaraan yang tumpangi ustadz Azmi.
Ustadz Azmi meminjam mobil sepupunya. Bernama Habil, dan laki-laki itu turut mengendarai mobil. Ustadz Azmi bisa menyetir, hanya saja ia tak bisa membiarkan Dea menangis. Jadi ia meminta bantuan Habil.
"Dek, jangan menangis terus dong sayang. Adek harus pikirin anak kita," ujar ustadz Azmi meraih tissue untuk menghapus air mata Dea. Sudah berapa kali ia meraih tissue, tapi air mata Dea terus mengalir.
Dea tak menghiraukan omongan ustadz Azmi. Hingga tiba di rumah Ulma.
Dea segera menghampiri seorang pria, ia berlari kecil sembari mengusap air matanya.
"Mang Udin?" panggil Dea.
"Loh, neng Dea? kenapa gak bilang kalau mau datang?" tanya pria yang bernama Udin. Biasa di panggil Mang Udin.
"Mendadak datangnya mang," jawab Dea. "Apa tante sudah di makamkan mang?" Dea memandang sekitar rumah yang terlihat sepi. Bahkan rumah tersebut sudah banyak berubah.
"Sudah neng, satu jam lalu. Tapi neng Ulma gak mau palang ke rumah," ucap mang Udin.
__ADS_1
"Maksih mang, Dea mau ke makam dulu." Dea kembali berlari menghampiri ustadz Azmi dan lainnya.
Mereka bertiga menelusuri jalan yang banyak di tumbuhi bunga di sepanjang pinggir jalan tersebut. Ustadz Azmi merangkul Dea di sepanjang perjalanan. Sedangkan Yuli dan Habil hanya mengikuti dari belakang.
Tiba di makam, terlihat hanya ada Ulma dan seorang pria yang sedang membelakangi mereka. Karena mereka datang terlambat, jarak tempuh dari desa ke kota cukup jauh. Terlebih lagi sebelum berangkat ustadz Azmi masih sibuk mencari kendaraan yang akan mereka tumpangi. Jika hanya naik motor, akan sulit bagi Dea. Terlebih lagi Yuli bersikeras ikut bersama mereka.
"Ulmayirah ..." Panggil Dea berjalan mendekati Ulma.
Ulma sudah sangat hapal dengan suara Dea, dengan cepat ia membalikan tubuhnya menghadap Dea. Di iringi isak tangis yang sangat memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya.
"Maaf, aku datang terlambat." Dea langsung memeluk tubuh Ulma erat, dan saat itu juga tangisan keduanya pecah. Tapi mereka menangis tanpa suara, yang membuktikan semua itu adalah air mata.
Sedangkan yang lainnya, turut bersedih mereka juga menitihkan air mata. Tapi apalah daya, semua sudah menjadi kehendak sang ilahi dan tak bisa kita tolak atau pun tawar menawarnya.
"Sudahlah, mengiklaskan itu lebih baik." Tutur pria yang berdiri di samping Ulma. Pada saat itu juga, semua perhatian beralih pada pria itu. Termasuk Dea yang terisak di pelukan Ulma, ikut menoleh.
"Pak Andre?" ucap mereka kaget. Tapi tidak dengan Dea, ia tak menghiraukan keberadaan Andre kenapa bisa bersama Ulma. Ia kembali terisak kecil.
▪︎▪︎▪︎
Maaf ya, untuk beberapa hari ini 'ana belum bisa update. Soanya kurang enak badan, ins'allah jika sudah baikan akan kembali up.
__ADS_1