
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Keesokan harinya ustadz Azmi berangkat kepesantren, seperti biasa ia mencium kening dan juga kedua pipi sang istri. Lalu ia berpamitan.
Setelah kepergian ustadz Azmi, Dea membersihkan rumah. Karena sebentar ia akan pergi ke rumah Paman Zaki.
Dea juga memasak makan siang, usai memasak makan siang Dea masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia melihat waktu sudah menunjukan pukul 10:00.
Ting ...
Dea keluar dari kamar mandi, langsung menghampiri ponselnya yang berdering.
Ulmayirah
Maaf, baru kasih kabar. Soalnya kemarin aku kecapean pas pulang dari tempat kamu. Jaraknya cukup jauh!!
Adea
Gak apa-apa kok, yang penting kamu sampai dengan selamat. Emang jauh, kalau dekat mungkin tiap hari aku ke rumahmu.
Ulmayirah
Kamu boleh kan datang ke sini? Walau hanya sesekali.
Adea
Iya, nanti aku bicarakan sama mas Azmi dulu.
Ulmayirah
Ok!! Sudah dulu ya, dosennya udah masuk kelas.
Adea
Semangat ngampusnya!!
__ADS_1
Dea menaruh ponsel ke atas nakas, lalu ia memakai gamis yang berwarna merah jambu senada dengan jilbab.
Sementara itu, di rumah Paman Zaki anaknya dari Malaysia sudah tiba. Paman Zaki dan Bibi Rani menyambut ke datang sang anak dengan suka cita. Sebab, anaknya tak pernah pulang selama empat tahun lamanya. Ia pulang setelah pendidikannya selesai. Dan itu memakan waktu empat tahun, kini ia sudah sarjana.
“Alamdulillah nak, ayah dan ibu bangga sama kamu. Semoga ilmu yang kamu dapatkan bisa bermanfaat bagi orang lain.” Tutur Paman Zaki.
“Amin!!” balas Bibi Rani dan juga Aleyna.
“Kalau begitu ayo kita tunggu di meja makan saja. Sebentar lagi Dea pasti datang.” Ajak Bibi Rani.
“Tunggu di sini saja bu, nanti kita makan bersama.” Tolak Paman Zaki.
Aleyna memutar bola matanya malas. Ia sudah lapar, tapi ayah dan ibunya masih memperhatikan orang lain. Apalagi ia tidak pernah bertemu sebelumnya.
“Aleyna udah lapar yah,” tutur Aleyna lembut.
“Sebentar lagi nak, adik kamu pasti sementara berjalan ke sini.” Suara itu bukan suara ayahnya, tapi suara ibunya.
“Baiklah,” ucap Aleyna pasrah.
Aleyna melihat ke sekitar, empat tahun lamanya ia meninggalkan rumah ternyata sudah banyak perubahan. Foto di dinding rumah sudah terganti dengan foto-foto baru.
Sedangkan fotonya hanya satu dari sekian banyak foto yang terpampang di dinding. Aleyna memutuskan pandangannya dari foto-foto itu. Namun, tanpa sengaja ia melihat sebuah foto Dea bersama seseorang.
Aleyna menatap lekat foto itu, seketika air mata jatuh. Foto tersebut adalah foto pernikahan Dea dan ustadz Azmi saat akad nikah.
“Ayah, ibu, apa maksud semua ini?” tanya Aleyna dengan berderai air mata. Sembari menunjuk foto pernikahan ustadz Azmi dan Dea.
“Itu Dea nak, ia menikah dengan nak Azmi dua bulan yang lalu.” Jawab Paman Zaki.
“Dua bulan lebih, dua minggu lagi tiga bulan.” Timpal Bibi Rani, tanpa menatap wajah Aleyna yang sudah banjir dengan air mata.
“Ayah sama ibu kenapa gak mencegahnya?Aku sangat mencintai Azi, kenapa ayah dan ibu merelakan kebahagianku hanya demi orang lain.” Teriak Aleyna.
“Nak, mungkin Azmi belum jodohmu. Bukan ayah dan ibu merelakan kebahagianmu karena Dea. Tapi ini semua pilihan nak Azmi, ia yang memutuskan memperistri Dea.” Tutur Paman Zaki dengan nada rendah.
“Ayah sama ibu tau, Aleyna sangat mencintai Azi. Aleyna kuliah di luar negeri di tempat dulu Azi menimbah ilmu, itu semua karena Aleyna ingin seperti Azi.” Ucapnya terisak, ia mencintai ustadz Azmi dari kecil. Tapi karena tidak boleh berpacaran, maka ia memutuskan untuk meraih cita-cita lebih dulu. Dengan maksud mensejajarkan derajat dengan ustadz Azmi.
__ADS_1
“Nak sudah saat kamu merelakan Azmi, ia sudah punya istri.” Bibi Rani menghampiri Aleyna.
Aleyna menggeleng. “Aku mengejar cinta Azi selama bertahun-tahun, masa aku kalah dengan seorang perempuan yang tidak jelas asal-usulnya.”
“Nak jangan merusak rumah tangga orang lain. Ayah sudah mendidikmu dengan agama dari kecil.”
“Ibu juga tidak suka kau mengatai Dea tidak jelas asal-usulnya.”
Kesabaran Aleyna habis, ia menghapus air matanya dengan kasar. Lalu ia menatap tajam ke arah ayah dan ibunya secara bergantian.
“Anak kandung ayah dan ibu aku, Aleyna! Kenapa malah membelah orang lain.”
“Kami tidak membelah nak, hanya meluruskan!!” seru Paman Zaki dan Bibi Rani.
“Meluruskan? Aku sudah menjadi anak baik. Yang perlu ayah dan ibu luruskan adalah Dea, anak kesayangan ayah dan ibu. Ia perempuan yang bebas, dan juga tidak tau malu merampas calon suamiku.” Ucap Aleyna berapi-api.
“Cukup!!” teriak, Bibi Rani saat melihat suaminya memegang dada.
“Ibu membelah perempuan bebas itu?” Bentak Aleyna, yang sudah terbawa emosi.
Paman Zaki dan Bibi Rani beristigfar dalam hati. Mereka sangat kecewa dengan Aleyna, dari kecil mereka mendidik Aleyna dengan ilmu agama. Tapi kini sifatnya bertentangan dengan Dea. Dea yang tidak pernah di ajarkan agama oleh siapa pun, tetap saja ia mengormati mereka sebagai orangtua.
Walau sifat Dea kasar, tapi ia tidak pernah meneriaki Paman dan Bibinya. Apalagi sampai membentak.
“Ayah dan ibu sangat kecewa padamu,” ucap Bibi Rani pergi meninggalkan Aleyna. Sambil membantu Paman Zaki berjalan.
Dea yang berdiri di balik pintu menangis tanpa suara. Air mata bagai sungai yang mengalir deras, hingga jilbab berwarna merah jambu basah dengan air mata.
Ia mendengar semua, ia baru tau ternyata Aleyna yang menghubungi suaminya waktu itu adalah anak dari Paman dan Bibinya.
Ia sangat sedih mendengar sumua ini, ternyata benar dugaannya anak dari Paman Zaki tidak menginginkan kehadirannya. Dan kini kesedihannya bertambah dalam, saat mendengar perkataan Aleyna. Aleyna mengatai dirinya perempuan tidak jelas asal-usal, yang lebih parah lagi Aleyna mengatainya perempuan bebas.
Dea sadar bahwa dirinya dulu memang bebas. Tapi Aleyna tidak berhak mengatai dirinya seperti itu, karena Aleyna tak tau yang bebas bagaimana dulu.
Selain kekecewaan dan kesedihan yang begitu dalam terhadap Aleyna. Dea juga merasa hal yang sama terhadap ustadz Azmi. Bahkan ia merasa lebih sakit lagi, terhadap sang suami.
“Mengapa mas Azmi tidak pernah menceritakan semua padaku? Mengapa ia menikah denganku tanpa memikirkan perasaan orang lain?”
__ADS_1
▪︎▪︎▪︎
Pemeran antagonis sudah hadir!!